Sejarawan Ungkap Dugaan Rekayasa di Balik Keretakan Hubungan Soekarno-Hatta

Kamis, 12 Agustus 2021 20:40 Reporter : Ahda Bayhaqi
Sejarawan Ungkap Dugaan Rekayasa di Balik Keretakan Hubungan Soekarno-Hatta Asvi Warman Adam. ©2021 Merdeka.com

Merdeka.com - Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Asvi Warman Adam mengungkap rekayasa rezim orde baru terhadap hubungan Bung Karno dan Bung Hatta. Hubungan pemimpin Dwitunggal Soekarno-Hatta mengusik banyak pihak.

Hingga saat keduanya tidak berkuasa ada anasir terkait rekayasa sejarah. Berbagai kisah lewat isu dan buku disebar menyebut Bung Karno melecehkan Bung Hatta dan juga pendiri bangsa lainnya, Sutan Sjahrir.

"Saya bertanya di mana, di mana sumbernya, apa dokumennya? Dan dikatakan bahwa itu ditulis di dalam buku Bung Karno (berjudul) Penyambung Lidah Rakyat yang diterbitkan oleh Gunung Agung pada masa Orde Baru," ujar Asvi pada peringatan HUT Ke-199 Proklamator RI Mohammad Hatta yang digelar oleh Badan Nasional Kebudayaan Pusat (BKNP) PDI Perjuangan secara virtual, Kamis (12/8).

Untuk mencari tahu kebenaran tersebut, Asvi menanyakan ke Syamsul Hadi dari Yayasan Bung Karno.Ia adalah orang yang berperan memperbaiki atau merevisi terjemahan buku Karya Cindy Adams, penulis tentang Bung Karno berkebangsaan Amerika Serikat.

Rekayasa itu, kata Asvi, ada dalam dua aliran tambahan ala orde baru yang ditemukan secara gamblang. Salah satu teks atau alinea itu dituliskan Bung Karno seolah tidak membutuhkan Hatta dan Sjahrir yang dikatakan menolak memperlihatkan diri di saat pembacaan Proklamasi.

"Kemudian Syamsul Hadi itu memeriksa buku aslinya yang berbahasa Inggris dan ternyata tidak ada dua alinea yang sangat melecehkan itu, sama sekali tidak ada dalam bahasa Inggrisnya. Jadi kalau begitu, ada orang yang menambahkan dua alinea itu dan itu dibaca sepanjang Orde Baru," jelas sejarawan ini.

Menurut Asvi, Bung Karno dan Bung Hatta Selalu bersama dalam memperjuangkan kemerdekaan hingga keduanya memimpin bangsa ini bersama.

"Tidak ada proklamasi kemerdekaan tanpa Bung Karno. Tidak ada proklamasi kemerdekaan tanpa Bung Hatta. Tidak ada proklamasi kemerdekaan tanpa Bung Karno dan Bung Hatta," kata Asvi.

Soal Pancasila, Asvi mengatakan, sejarah membuktikan, Bung Karno adalah penggali Pancasila. Bersamaan dengan itu, Asvi bilang, juga Bung Hatta lah pengawal dan penyelamat Pancasila.

"Bung Hatta lah yang pada tanggal 18 Agustus 1945 membicarakan dengan beberapa tokoh Islam tentang penghapusan 7 kata (Piagam Jakarta) dan mencantumkan 'Ketuhanan Yang Maha Esa," ungkap Asvi.

"Kalau tidak ada Hatta, 7 kata itu akan tetap sampai sekarang." sambungnya.

Acara peringatan ini dihadiri Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, Sekjen Hasto Kristiyanto, dan putri Bung Hatta Meutia Farida Hatta. Hadir juga di acara itu sejumlah Ketua DPP PDIP diantaranya Ahmad Basarah dan Tri Rismaharini, serta jajaran BKNP yang dipimpin ketuanya Aria Bima. Anggota DPR dari Fraksi PDIP Rano Karno dan Paryono, turut hadir di acara itu, bersama ratusan kader partai dari seluruh Indonesia. [ray]

Baca juga:
Megawati: Bung Karno Tak Punya Wakil Setelah Bung Hatta, Itu Persahabatan Sejati
Bung Hatta
Bung Hatta
Cuma Orang Ini yang Berani Pegang Kepala Presiden Soekarno, Sampai Botaki Rambutnya
Cucu Bule Bung Karno 'Narik' Becak di Luar Negeri, Penumpangnya Bukan Sembarang Orang
Bung Karno
Bung Karno

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Soekarno
  3. Mohammad Hatta
  4. LIPI
  5. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini