Sejarah penghuni Pulau Sabira, hanya boleh dirikan tenda

Senin, 22 September 2014 04:00 Reporter : Dharmawan Sutanto
Sejarah penghuni Pulau Sabira, hanya boleh dirikan tenda Pulau Sabira. ©2014 merdeka.com/dharmawan sutanto

Merdeka.com - Keindahan alam terlihat di Pulau Sabira atau yang juga disebut Pulau Sebira. Selain itu, banyaknya jenis ikan di perairan menjadi alasan pulau tersebut sejak tahun 1974 didatangi nelayan yang kemudian bermukim di pulau tersebut.

Awalnya ada seorang nelayan bernama Joharmansyah, melaut di perairan Pulau Sabira. Joha biasa dirinya disapa ketika itu melihat banyaknya potensi di pulau yang dijuluki penjaga utara karena terletak di ujung utara Kepulauan Seribu.

"Sebetulnya tahun 1974 itu warga Pulau Genteng datang kemari (Pulau Sabira). Tapi cuma bolak balik setelah dapat ikan pulang, menetapnya baru 1975 bermukim di sini. Dulu itu di sini (Pulau Sabira) hutan dan hanya mercusuar," ujar Hartuti warga RT 02 RW 03 Pulau Sabira, Pulau Harapan, Kepulauan Seribu Utara ketika ditemui di lokasi, Jumat (19/9).

Hartuti yang juga merupakan istri Joha menjelaskan, tidak mudah suaminya yang telah wafat sekitar 2 tahun yang lalu diperbolehkan bermukim di Pulau Sabira.

Perjuangan tak pantang lelah, dibarengi dengan niat baik dan tekad yang besar membuahkan hasil. Awalnya harus menyetorkan hasil tangkapan ikannya sebanyak 1 kwintal yang 10 kilogram di antaranya diberikan kepada petugas navigasi menara mercusuar.

"Awalnya memang tidak diperbolehkan, boleh bikin rumah hanya sekedar tenda. Tapi Alhamdulillah pak haji pelan-pelan bisa membuka lahan di sini membuat rumah yang sebelumnya tidak diperbolehkan oleh petugas navigasi. Ada hasil 1 kwintal lebih harus memberi 10 kilogram untuk petugas itu," ungkapnya.

Selain itu, Hartuti yang saat ini menjadi ketua RW di Pulau Sabira mengungkapkan, awal penduduk di Pulau Sabira hanya berjumlah 22 jiwa yang sebelumnya merupakan warga Pulau Genteng Besar. Namun pada tahun 1975 perlahan-lahan mereka memilih meninggalkan Pulau Genteng besar akibat adanya desakan dari pemerintah Kepulauan Seribu untuk meninggalkan pulau tersebut.

Saat itu pula, penduduk di Pulau Genteng Besar diberikan ganti rugi untuk berpindah ke Pulau Pemagaran tahun 1975. Namun mereka menolak dan lebih memilih untuk pindah ke Pulau Kelapa Dua dan Pulau Sabira.

"Jadi kita terbawa dua. Ada yang ke pulau kelapa dua, ada yang kemari (Pulau Sabira). Sebelumnya kita diberi pulau yaitu Pulau Pemagaran 1975 tapi warga gak ada yang mau karena menurut warga di situ kurang bagus dan tidak ada potensi besar untuk kehidupan karena tidak adanya ikan sehingga kita tidak ada tangkapan sehari-hari, jadi kita lari ke sini."

Awalnya sekitar 20 KK yang menetap di Pulau Sabira tahun 1975. Tapi sekitar tahun 1984 Pemerintah Bandar Lampung datang ke sini dan menawarkan untuk berpindah kependudukan dari DKI Jakarta menjadi penduduk Bandar Lampung.

"Bupati, Kapolres, Danramilnya sudah datang kemari, tapi warga gak mau karena hasil tangkapan kita kan ke Muara Angke, Jakarta dan sudah ber KTP DKI Jakarta. Mereka ingin bertemu dengan pak Haji gak ketemu, kebetulan beliau sedang di darat."

"Kemudian mereka mengejar pak Haji ke darat tapi warga sini kemudian memberi kabar ke pak haji untuk pulang ke pulau. Sehingga saat itu mereka tidak berhasil menemui pak haji," tandasnya. [did]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini