Segudang olahan ubi ungu, dari kue hingga obat asam urat

Senin, 29 Februari 2016 10:29 Reporter : Mappesona
Segudang olahan ubi ungu, dari kue hingga obat asam urat Ubi Ungu. ©2016 merdeka.com/mappesona

Merdeka.com - Rasanya manis, tekstur daging buahnya lembut, bisa diolah sesuai selera membuat buah jenis umbi-umbian ini banyak diminati warga.

Bahkan saat sebagian orang mulai mencari bahan pangan alternatif, tumbuhan berkarbohidrat ini menjadi salah satu pilihan sebagai bahan campuran kue. Seperti untuk kue puding, roti, donat, brownies, keripik balado hingga kolak.

Tumbuhan itu adalah ubi jalar yang memiliki warna ungu. Warnanya menarik sehingga orang tidak lagi membutuhkan zat pewarna.

Selain untuk bahan pangan, ubi ungu ini juga banyak dicari orang untuk dijadikan obat. Manfaat ubi ungu ini berfungsi sebagai anti oksidan dan anti aging atau anti penuaan dini. Selain itu, juga dikonsumsi untuk mengurangi penyakit asam urat dan tekanan darah tinggi.

Salah seorang penjual ubi ungu di Desa Jakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru, Ayu (23) mengatakan, dirinya sudah enam tahun menjual ubi ungu. Dan rata-rata orang membeli ubi ungu itu untuk dijadikan obat.

"Biasanya pembeli ku cari ubi ungu katanya untuk obati penyakit asam urat dan tekanan darah tinggi dengan banyak-banyak makan ubi ungu," tutur Ayu saat dihubungi beberapa waktu lalu.

Menurutnya, ada juga pembeli untuk dijadikan makanan bayinya karena dianggap cocok untuk kesehatan bayi.

Ayu menuturkan, meski ada ubi lain tapi yang lebih laris adalah ubi jalar warna ungu. Menariknya, menurut Ayu ubi ungunya kerap dibeli sampai satu karung atau 60 kg namun untuk ternak babi.

"Orang asal Kabupaten Toraja kalau dari Makassar dan mau pulang ke kampungnya biasa singgah beli ubi ungu sampe satu karung. Katanya untuk makanan ternak babinya karena kalau beli di Toraja harganya mahal. Yah biasanya orang cari ubi ungu untuk dimakan, tapi ini untuk ternaknya," kata Ayu sembari tersenyum.

Ubi ungu ini, kata Ayu, bukan hasil tani warga sekitar tetapi dari petani di Kecamatan Tanete sekitar 20 kilometer dari Desa Jakkang. Ditanam di lereng gunung sehingga tumbuhnya cukup subur.

Ubi ungunya ini dibanderol harga Rp 15 ribu per kilogramnya. Harga tersebut cukup mahal di musim hujan. Sebab, jika lagi musim kering produksi ubi ungu meningkat sehingga harga di pasaran hanya Rp 10 ribu per kilogram.

Dia biasanya mengambil di pedagang pengumpul sampai tiga karung dan rata-rata habis terjual, empat hingga sepekan.

Tips agar ubi ungu ini tidak rusak, kata Ayu, sesekali ubi ini dipercikan air. Kalau tumbuh tunas-tunas kecil dari permukaan ubi itu lebih bagus dari pada tidak. Karena bisa saja daging buahnya mengering. Menurut Ayu, ubi ini bisa tahan hingga sebulan.

Adapun tips mengolahnya kata Ayu lagi, lebih baik dikukus ketimbang direbus. Sebab kalau dikukus, airnya tidak meresap ke daging buah sehingga saat dimakan lebih terasa lembut.

"Untungnya rata-rata Rp 450 ribu hingga Rp 1 juta kalau tiga karung dalam satu kali ambil dari pedagang pengumpul itu semuanya habis terjual," kata Ayu. [cob]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini