Sebelum Jakarta, kerusuhan Mei 1998 lebih dulu landa Kota Medan

Minggu, 12 Mei 2013 08:37 Reporter : Yan Muhardiansyah
Sebelum Jakarta, kerusuhan Mei 1998 lebih dulu landa Kota Medan Kompleks Pergudangan SBC 2. ©2013 Merdeka.com

Merdeka.com - Menjelang lengsernya Soeharto dari kursi presiden, Kota Medan dan sekitarnya lebih dulu dilanda kerusuhan. Daerah ini tak terkendali dan lumpuh pada Rabu, 6 Mei 1998.

Saat itu, ratusan ruko dilempari dan dirusak. Sejumlah kendaraan dibakar. Sedikitnya 5 orang tewas dan puluhan orang tertembak.

Salah satu pusat kerusuhan ada di kawasan Medan Tembung. Haris (36) menjadi salah satu saksi peristiwa itu. Dia bercerita, 6 Mei 1998 pagi Buana Plaza di Jalan Aksara Medan dijarah.

"Tapi tak semua dijarah, sepertinya hanya satu toko yang di bagian depan. Kalau tak salah toko itu menjual pakaian dan sepatu. Waktu saya ke sana, kaca toko itu sudah berganti dengan tripleks. Polisi dan PHH pun sudah berjaga di sana," jelas Haris kepada merdeka.com di Medan, Sabtu (12/5).

Beredar kabar bahwa penjarahan di Buana Plaza itu dipicu pelecehan mahasiswa IKIP Medan (sekarang Unimed) oleh aparat keamanan.

"Bertepatan pula Presiden Soeharto malam harinya pas tanggal 5 Mei menaikkan harga BBM, bensin naik dari Rp 700 menjadi Rp 1.200, sehingga warga semakin mudah diprovokasi. Kami sempat ditanyai wartawan TV asing yang meliput di Aksara, waktu kami jawab kerusuhan itu dipicu kenaikan harga BBM, reporter perempuan itu sepertinya tak terima. Menurutnya, kerusuhan itu disebabkan pelecehan mahasiswa oleh aparat," ucapnya.

Haris kemudian bercerita, setelah suasana Buana Plaza terkendali, terjadi pemblokiran jalan dengan cara pembakaran ban di kawasan Jalan Letda Sudjono, yang merupakan penghubung kawasan Aksara ke Tembung. Jalan dari dan menuju pintu tol Bandar Selamat yang ada di jalan itu terblokade. Serombongan tentara pun digerakkan ke sana.

Sementara itu, di Jalan Mandala By Pass, sekitar satu blok dari Jalan Aksara, terlihat konsentrasi massa di depan ruko tempat berdagang material bangunan. Sejumlah laki-laki dewasa mencoba menjebol pintu ruko, namun tak berhasil.

Massa semakin banyak dan beringas. Mobil Datsun pikap yang ada di depan toko didorong dan dihantamkan ke depan pintu ruko. Pintu pun menganga. Massa leluasa mengambil barang dagangan dan harta benda pemilik ruko.

"Di antara orang-orang itu, teman saya ada mengenali seorang polisi berpakaian sipil. Kalau tak salah, waktu itu dia mengambil gosokan dari dalam toko," jelas Haris.

Massa berlomba-lomba keluar masuk ruko. Televisi besar Sony Kirara Baso tampak diangkat dari dalam ruko. Tak lama berselang, seorang pemuda keluar menggotong kulkas besar sebelum naik ke sepeda motor yang dikendarai temannya. Dia memangku mesin pendingin itu di boncengan. Mereka kemudian melaju sambil berteriak, "Merdeka!"

Haris mengaku prihatin melihat kejadian itu. Terlebih setelah dia menengadah ke atap ruko yang dijarah. Satu keluarga warga Tionghoa hanya bisa memandang dari lantai paling atas. Mereka tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan tak ada kata-kata.

Saat itu, dua pria berboncengan dengan sepeda motor bersemangat mengabarkan bahwa gudang di kawasan Jalan Padang, tak jauh dari pintu Tol Bandar Selamat sudah dijarah. Mereka mengarahkan agar massa bergerak ke sana. "Kami tidak ke sana. Kami bergegas pulang ke rumah di Perumnas Mandala. Kami senang tidak terlibat dalam penjarahan itu," ucap Haris.

Kabar penjarahan gudang di seputaran Jalan Padang ternyata benar. Aksi massa yang lebih besar memang mulai terjadi di pergudangan di kawasan itu. Sedikitnya ada tiga gudang dijarah.

Semula gudang beras di Jalan Letda Sudjono dekat pintu tol, yang juga tak jauh dari Jalan Padang, digasak massa. Penjarahan kemudian bergeser ke gudang yang menyimpan barang pecah belah di Jalan Baru, masih di seputaran Jalan Padang. Meski laki-laki juga ikut, penjarah di sini umumnya perempuan. Mereka datang dari berbagai daerah yang dekat dengan kawasan itu, termasuk dari Perumnas Mandala.

"Kami sampai bingung mau mengambil apa, banyak sekali barang pecah belahnya. Polisi dan tentara yang ada di sana malah mempersilakan masuk dan meminta kita berhati-hati karena banyak kaca yang pecah," ujar seorang perempuan yang tak mau disebutkan namanya.

Hari semakin petang, suasana kian ramai dan tak terkendali. Sasaran massa bergeser ke gudang besar di Jalan Tirtosari, sekitar 500 meter dari gudang di Jalan Baru.

Isi gudang di Jalan Tirtosari beraneka ragam. Selain memang sangat besar, tempat itu memang disewakan kepada produsen maupun distributor berbagai barang dagangan. Warga berduyun-duyun ke sana. Begitu ramainya warga yang datang membuat Jalan Tirtosari sulit dilintasi.

Kebanyakan warga datang berjalan kaki. Sebagian di antara mereka memarkirkan kendaraan di kawasan lain, seperti di Jalan Rajawali, Perumnas Mandala. Kendaraan-kendaraan itu kemudian dipenuhi dengan barang jarahan.

Meski hari telah malam, penjarah berulang kali keluar masuk gudang. Sebagian bangunan itu pun mulai terbakar. Api semakin membesar dan terlihat dari kejauhan. Ledakan pun berulang kali terdengar. Namun, gudang itu terus dijarah.

Dari dalam gudang, massa keluar membawa berbagai barang jarahan. Ada yang menggotong berkardus-kardus alat kantor, alat sekolah, biola, bola kaki, bola basket, gitar, sepatu, kursi lipat, lingkar sepeda, peralatan rumah tangga, bahan bangunan, hingga mesin-mesin.

"Bahkan ada ibu hamil yang mengikat dua closed jongkok dan menggantungkannya di bagian depan dan belakang tubuhnya, seperti ransel dibuatnya. Di gudang itu memang banyak sekali barang," kata seorang pria yang mengaku ada di lokasi penjarahan.

Aparat keamanan berseragam dan bersenjata memang datang tengah malam ke kawasan Jalan Padang. Rentetan tembakan bahkan terdengar. "Tak jauh dari tempatku berdiri, seorang pemuda roboh dekat rel kereta api antara Jalan Padang dengan Jalan Rajawali Perumnas Mandala. Perutnya jebol. Belakangan setelah baca berita di koran, kudengar dia tewas," kata pria yang juga tak mau disebutkan namanya itu.

Penjarahan di gudang Jalan Tirtosari ini dikabarkan tetap berlangsung hingga pagi. Barang di gudang itu masih ada, meskipun sebagian bangunan terbakar. "Memang sebagian gudang terbakar, tapi tidak ada korban jiwa di sana. Kalau yang tertembak di dekat rel itu saya enggak tahu," kata Sumondang, warga yang tinggal tak jauh dari gudang itu.

Saat ini, gudang besar itu sudah tak ada lagi. Lahannya sudah dijual dan sekarang menjelma jadi kompleks pergudangan SBC 2. Terdapat 29 gudang minimalis di sana.

"Kompleks pergudangan ini dibangun sekitar 2 tahun lalu. Dulu satu, sekarang banyak pemiliknya, jadi tak lagi disewakan seperti dulu," ucap Mulyono, sekuriti di kompleks SBC 2.

Selain di kawasan Medan Tembung, penjarahan dan perusakan juga terjadi di sejumlah tempat di Kota Medan dan Deliserdang, seperti di Simpanglimun, Jalan Krakatau, Jalan Sutomo, Pulo Brayan, Kampung Baru, Tembung, Sampali, Tanjungmorawa, dan lain-lain. Selain pertokoan, showroom, bank dan perkantoran juga menjadi sasaran massa. Perekonomian lumpuh.

"Waktu itu parah sekali, seperti tidak ada hukum. Rasa marah pada keadaan dan ketamakan bercampur. Mudah-mudahan ini jadi pelajaran semua pihak agar peristiwa itu tak terulang," harap Haris.

[cob]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Tragedi Mei 98
  3. Kerusuhan Mei
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini