Satu Pasien Covid-19 dari Klaster Rumah Makan di Semarang Meninggal Dunia

Rabu, 16 September 2020 13:44 Reporter : Danny Adriadhi Utama
Satu Pasien Covid-19 dari Klaster Rumah Makan di Semarang Meninggal Dunia Kesibukan Tim Medis Membawa Pasien Covid-19. ©2020 Liputan6.com/Faizal Fanani

Merdeka.com - Seorang pasien meninggal dunia setelah menjalani isolasi di RSUD Wongsonegoro, Semarang. Satu pasien yang meninggal tersebut merupakan pasien terinfeksi covid-19 dari klaster rumah makan ikan kepala manyung Bu Fat Krobokan, Semarang.

"Benar ada satu pasien meninggal dua hari lalu dari klaster rumah makan. Dan saat ini sudah dimakamkan di Purwodadi dengan prosedur protokol kesehatan ketat," kata Kepala Dinas Kesehatan, Abdul Hakam, Rabu (16/9).

Mengetahui ada satu pasien klaster rumah makan meninggal, pihaknya terus melakukan tracking kepada sejumlah pengunjung dan yang kontak erat langsung 36 orang. Hasilnya bertambah dua orang positif.

"Dari total data 20 bertambah 22 orang positif covid-19. Dari 22 orang ini, di antaranya tiga orang ada di rumah sakit. Sisanya menjalani isolasi mandiri di rumah dinas walikota Semarang. Ada satu orang meninggal dunia dari tiga orang yang dirawat di rumah sakit," ungkap Hakam.

Terkait ibu hamil yang terpapar covid-19 sudah melahirkan, sedangkan anaknya sendiri belum diketahui apakah ikut terpapar juga. Namun upaya yang dilakukan pihak Dinkes Kota Semarang, saat ini memisahkan ibunya dengan anak agar tidak ikut terpapar.

"Kita tempatkan di ruang berbeda anak dan ibunya. Mengingat ibu masih positif, langkah kita tidak diperbolehkan minum asi sebelum ibunya sembuh dari covid-19. Anaknya keadaan baik sedang berada di RSUD Wongsonegoro, sedangkan ibunya isolasi di rumah dinas Wali Kota Semarang," jelasnya.

Terkait penularan covid-19 dari klaster keluarga sendiri di Kota Semarang jumlah kasusnya banyak. "Ada sekitar 40 kasus penularan pada klaster keluarga. Ini kita tracking terus," ungkapnya.

Hakam, mencontohkan kasus penularan pada klaster keluarga terjadi ketika satu keluarga ada tingkat mobilitasnya tinggi. Di lain kasus, ada seorang ibu rumah tangga meninggal dengan gejala batuk yang akhirnya menulari kepada anaknya.

"Jadi biasanya tertular pada satu keluarga yang tingkat mobilitasnya tinggi selain itu tertular pada satu anggota keluarga orang tanpa gejala. Untuk kasus ibu itu tidak bekerja, bisa dugaan penularannya karena berkerumun," jelasnya.

Maka dari itu, tim gugus tugas setempat dan Dinkes melakukan upaya pengecekan pada setiap kampung untuk mengecek setiap rumah.

"Upaya kita dari gugus tugas, Dinkes cek langsung beberapa titik rumah warga. Tindakan itu dilakukan untuk memastikan dalam aktivitas keluarga apakah sudah sesuai protokol kesehatan 3 M?. Selain itu kita sosialisasi kepada warga agar selalu tertib jaga jarak, pakai masker, cuci tangan untuk memutus penyebaran covid-19," tutup Abdul Hakam. [ded]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Covid 19
  3. Corona
  4. Semarang
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini