Satu Anak Korban Satpam Predator di Tangerang Dilecehkan Lebih dari 30 Kali

Senin, 13 Juli 2020 15:04 Reporter : Kirom
Satu Anak Korban Satpam Predator di Tangerang Dilecehkan Lebih dari 30 Kali ilustrasi kekerasan anak. ©shutterstock.com

Merdeka.com - Polres Kota Tangerang Selatan masih terus melakukan penyidikan terhadap kasus pedofilia satpam predator Syafrudin di Desa Pagedangan, Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang. Satu korban dilecehkan oleh pelaku lebih dari 30 kali.

Kapolres Kota Tangsel AKBP Iman Setiawan menerangkan, pelaku dalam aksinya disangkakan pasal 82, Undang-undang perlindungan anak nomor 16 tahun 2017. Dengan ancaman pidana penjara minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun.

"Masih disidik oleh Satreskrim Polres Tangsel, terhadap pelaku juga kita kenakan pasal 82 UU Perlindungan Anak," kata Iman Setiawan di Mapolres Tangsel, Senin (13/7).

Iman menerangkan, berdasarkan hasil pelacakan yang dilakukan terhadap anak-anak di kampung tersebut, jumlah korban kejahatan Syafrudin sebanyak empat anak.

"Kemudian dari data yang ada saat ini hanya empat korban. Sudah kita coba tracking, data yang ada empat korban," jelas dia.

Jumlah tersebut, jauh sedikit dibanding keterangan para orang tua yang disampaikan ketua RW setempat.

Dalam aksi kejahatan pedofilia terhadap anak-anak itu, Syafrudin melancarkan aksinya sejak setahun belakangan. Kapolres menegaskan, salah satu anak korban kejahatan Syafrudin telah dilecehkan hingga 30 kali.

"Setiap korban terpisah-pisah, ada satu (korban) yang menurut pengakuan sudah lebih 20, 30 kali. Ada yang lebih. Intinya dia sudah lebih dari satu kali melakukan itu dan sudah satu tahun lamanya melakukan itu," ucapnya.

Kapolres menerangkan, aksi bejat sang Satpam dilandasi pada orientasi seksual pelaku terhadap anak laki-laki.

"Kemudian mencoba memperdaya atau membujuknya dengan mengajak bermain game pada handphone. Tapi kemudian dipertontonkan video porno. Ketika anak-anak melihat video porno pelaku melakukan pencabulan. Pencabulan yang dilakukan berupa memegang alat kelamin dia, memainkan alat kelamin anak-anak tersebut, sehingga memberikan kepuasan seksual kepada pelaku," jelasnya.

Iman mengaku, saat ini seluruh korban tengah mendapat pendampingan oleh petugas P2TP2A. "Korban anak laki ini sudah cek kondisi psikologis, sudah ada pendampingan dari TP2TP2A, dan itu sudah menjadi prosedur dalam menyelesaikan kasus kekerasan terhadap anak," terang Iman. [cob]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini