Satgas Ingatkan Vaksin Tak Bisa Jadi Satu-satunya Tameng Menghadapi Pandemi Covid-19

Kamis, 23 September 2021 21:33 Reporter : Fikri Faqih
Satgas Ingatkan Vaksin Tak Bisa Jadi Satu-satunya Tameng Menghadapi Pandemi Covid-19 Juru bicara Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito. ©2021 Merdeka.com

Merdeka.com - Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19, Profesor Wiku Adisasmito mengatakan, pemerintah terus mendorong peningkatan cakupan vaksinasi di seluruh Indonesia dalam rangka mempertahankan kelandaian kasus Covid-19.

"Namun vaksin tidak dapat menjadi satu-satunya tameng kita dalam menghadapi pandemi ini," katanya dalam konferensi pers yang diikuti secara daring di Jakarta, Kamis (23/9).

Vaksinasi, menurutnya, terutama jika hanya dosis pertama dan tidak dibarengi kepatuhan protokol kesehatan maka tidak dapat menjamin lonjakan kasus untuk tidak terjadi lagi.

Dia mengungkapkan, belajar dari pengalaman negara-negara dengan cakupan vaksinasi dosis pertama yang tertinggi di dunia yaitu Singapura 79 persen, Finlandia 73 persen, Inggris 71 persen, Jepang 66 persen dan Amerika Serikat 63 persen, nyatanya lonjakan kasus masih dapat terjadi.

"Di Singapura relaksasi dilakukan dengan berfokus pada penguatan 3T dan peningkatan cakupan vaksinasi dan kurang berfokus pada pencegahan yaitu protokol kesehatan di tempat umum," terangnya.

Wiku mengemukakan klaster di Singapura mulai bermunculan, seperti klaster dari restoran dan tempat makan di bandara, tempat karaoke, pusat perbelanjaan hingga terminal bus.

Di Finlandia, lanjut dia, peningkatan terjadi karena tim sepakbola yang datang dari Rusia yang masuk ke Finlandia tanpa dilakukan tes skrining terlebih dahulu.

"Selain itu, masyarakat cenderung tidak merespons pada upaya tracing yang dilakukan oleh pemerintahnya sehingga menghambat pelacakan dan penanganan kasus sejak dini," ujarnya.

Di Inggris, kata Wiku, dilakukan relaksasi aktivitas sosial ekonomi dan utamanya pembukaan sekolah tatap muka yang kurang berhati-hati dan kurang memperhatikan kesiapan seluruh unsur yang terlibat, sehingga menyebabkan kasus Covid-19 meningkat, klaster di sekolah pun mulai bermunculan.

Kemudian di Jepang, terdapat klaster atau penambahan kasus Covid-19 yang berhubungan dengan kegiatan Olimpiade Tokyo 2020.

Meskipun pembatasan yang tepat dilakukan dalam pelaksanaan agenda olahraga itu, namun masih berpengaruh signifikan terhadap pola kegiatan sosial masyarakat di Jepang.

"Masyarakat cenderung berkerumun untuk menonton pertandingan bersama-sama di bar, kafe maupun restoran," jelasnya.

Sementara di Amerika Serikat, tingginya cakupan vaksinasi tidak dibarengi dengan pengawasan dan pelaksanaan protokol kesehatan yang baik.

"Penggunaan masker yang tidak menjadi kewajiban di beberapa tempat umum di saat kegiatan aktivitas sosial ekonomi sudah berjalan normal menjadi salah satu penyebab adanya kenaikan kasus," tambah Wiku seperti dilansir dari Antara.

Dia mengingatkan, dengan mobilitas yang mulai meningkat serta aktivitas sosial ekonomi yang sudah mulai kembali berjalan di Indonesia saat ini, maka seluruh lapisan masyarakat harus tetap disiplin protokol kesehatan.

"Sehingga kita tidak harus kembali belajar melalui lonjakan kasus selanjutnya," tutup Wiku. [fik]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini