Sastrawan Ahmadun akhirnya kembalikan Rp 10 juta ke Denny JA

Kamis, 6 Februari 2014 19:41 Reporter : Laurencius Simanjuntak
Sastrawan Ahmadun akhirnya kembalikan Rp 10 juta ke Denny JA Ahmadun Yosi Herfanda. Facebook

Merdeka.com - Setelah mengaku melacurkan diri ke Denny JA, sastrawan Ahmadun Yosi Herfanda akhirnya mengembalikan duit Rp 10 juta kepada Denny JA. Duit Rp 10 juta itu adalah bayaran yang sebelumnya diterima Ahmadun untuk menulis sebuah puisi esai berjudul 'Grafiti Sulastri'.

Duit Rp 10 juta itu dia transfer melalui rekening BCA atas nama Fatin Hamama, perantara Denny JA, yang juga memberikan tawaran kepada Ahmadun. Lewat media sosial, Ahmadun bahkan mem-posting slip bukti transfernya yang ia pindai lebih dulu.

Pengembalian uang ini cukup mengagetkan, mengingat Ahmadun dalam postingan sebelumnya tidak menyinggung hal tersebut. Dalam postingan itu, mantan Redaktur Budaya 'Republika' tersebut hanya mengaku telah melacurkan diri demi Rp 10 juta, karena saat itu sedang terdesak secara keuangan.

"Alhamdulillah, Allah SWT memberi jalan kemudahan bagi saya untuk mengembalikan uang itu," tulis Ahmadun lewat Facebook, Kamis (6/2).



Berikut pernyataan lengkap Ahmadun soal pengembalian uang Rp 10 juta kepada Denny JA:

SAYA SUDAH KEMBALIKAN HONOR PUISI ESAI DENGAN PERMINTAAN MAAF

Salam sastra.

Dengan rasa hormat dan kerendahan hati, serta dengan permintaan maaf kepada Denny JA dan Fatin Hamama atas ketidaknyamanan ini, sebagai konsekuensi dari penyesalan saya atas keterlibatan saya pada politik puisi esai (ikut menulis puisi esai pesanan) itu hari ini, tepat pukul 14.50 wib, saya sudah mengembalikan honor puisi esai Rp 10 juta melalui rekening BCA Fatin Hamama (perantara pesanan puisi esai ini). Alhamdulillah, Allah SWT memberi jalan kemudahan bagi saya untuk mengembalikan uang itu bukti setoran pengembalian dana itu terlampir. Semoga dengan kerendahan hati pula Denny JA berkenan menerimanya kembali. Sebelum ini sebenarnya saya sudah mengontak Fatin untuk membatalkan kesertaan saya itu, tapi Fatin tentu tak dapat berbuat apa-apa karena bukunya sudah telanjur dicetak.

Dengan pengembalian honor itu berarti otomatis saya menarik kembali puisi esai berjudul "Grafiti Sulastri" yang pernah saya kirim ke Denny JA atas pesanannya. Kalaupun puisi itu sudah terlanjur dicetak bersama puisi-puisi esai karya para penyair lain, tidak apa-apa. Saya takkan mempersoalkannya. Yang penting, bagi saya pribadi, saya sudah jujur pada suara hati nurani saya sendiri, suara hati yang sempat saya abaikan saat menerima pesanan itu. Sekali lagi, maaf dan terima kasih kepada Denny JA dan Fatin Hamama yang telah memberikan penghargaan begitu tinggi pada saya lewat pesanan puisi esai itu. Mohon maaf, jika pengembalian honor itu membuat perasaan jadi tidak nyaman. Ide puisi esai itu sebenarnya menarik jika tidak dipolitisir untuk kepentingan tertentu. Yang memang senang menulis puisi esai tentu tidak ada salahnya juga, dan terus saja lanjutkan asal memang sesuai dengan pilihan hati masing-masing.

Perlu saya tegaskan juga bahwa sikap ini adalah sikap pribadi saya sendiri dan sama sekali tidak mewakili siapapun. Dengan pernyataan sikap ini saya tidak bermaksud mengajak, menyinggung atau melibatkan siapapun yang sudah telanjur ikut menulis puisi esai. Jika ada juga yang merasa dirugikan atas pernyataan penyelasan dan sikap saya ini, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Soal honor puisi esai yang sudah terlanjur kawan-kawan terima, silakan kembalikan saja ke suara hati nurani masing-masing. Semoga honor itu tetap berkah untuk kawan-kawan belanjakan. Hanya, uang yang saya terima memang agak beda jumlahnya dan prosesnya pun berbeda sehingga hati nurani saya meragukan kehalalannya. Karena itu, sebagai manusia yang lemah dan tak bebas dari kekhilafan, hanya pengembalian honor itu yang dapat saya lakukan sebagai wujud pertobatan atas keterlibatan saya pada politik puisi esai itu.

Sekali lagi, dengan kerendahan hati, saya minta maaf, jika di dalam pernyataan penyesalan dan sikap saya itu ada hal-hal yang konyol atau menyinggung perasaan kawan-kawan yang terlibat dalam "politik puisi esai" dan penokohan Denny JA itu. Saya sekali lagi minta maaf sedalam-dalamnya kepada Denny JA dan Fatin Hamama atas semua tidaknyamanan ini. Sungguh bukan maksud saya menyinggung perasaan siapapun. Meskipun, memang, dalam mengungkap kebenaran kadang-kadang menimbulkan efek samping: menyinggung perasaan orang lain. Sekali lagi minta maaf bagi siapa saja yang terkena efek samping penyesalan saya itu. Saya berpegang pada hadis Nabi SAW, yang kurang lebih berarti, "Sampaikanlah kebenaran, walau sepahit apapun.

Dengan pernyataan penyesalan, sikap, dan pengembalian honor kepada Denny JA (melalui perantara Fatin Hamama, karena saya tidak memiliki rekening Denny JA), maka saya anggap persoalan saya dengan "politik puisi esai" telah selesai. Semoga kejujuran pada hati nurani ini memberi hikmah bagi saya pribadi dan siapa saja yang menerimanya dengan hati terbuka. Semoga Allah SWT meridhoi langkah saya ini dan memberi bimbingan serta kekuatan pada langkah saya selanjutnya, langkah seorang hamba yang sedang belajar setia di jalan-Nya. Terima kasih. Salam cinta untuk semua. Wassalam wrwb. * ahmadun yosi herfanda [ren]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini