'Santri milenial berada di garda terdepan kampanyekan perdamaian'

Senin, 22 Oktober 2018 14:15 Reporter : Didi Syafirdi
'Santri milenial berada di garda terdepan kampanyekan perdamaian' Upacara Hari Santri di Monas. ©2016 merdeka.com/imam buhori

Merdeka.com - Santri harus menjadi agen perdamaian dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari berbagai gangguan, terutama intoleransi, radikalisme dan terorisme. Mereka juga harus melek teknologi sehingga bisa menyebarkan pesan damai melalui media sosial.

"Santri memiliki prinsip bagaimana bisa bersaing dalam kompetisi global tanpa kehilangan jati diri yang ditempa nilai tradisi," ujar Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU) KH Maman Imanul Haq dalam keterangannya, Senin (22/10).

Menurut Kang Maman sapaannya, santri juga harus menguasai isu-isu dunia modern, perangkat teknologi, dan mewarnai pergaulan dunia. Meski demikian, santri harus tetap memegang teguh prinsip kejujuran, kesederhanaan, keterbukaan dan kerja keras.

Bertepatan dengan peringatan Hari Santri Nasional (HSN), Kang Maman mengajak para santri menjadikan HSN sebagai momentum untuk menguatkan komitmen dalam menjaga bangsa. Santri juga perlu menagih hadirnya negara dalam peningkatan kualitas sarana prasarana pendidikan di pesantren.

"HSN adalah bentuk pengakuan negara atas kiprah kaum santri dan Pesantren dalam memperjuangkan kemerdekaan. Sekaligus menguatkan aspek kesejarahan pesantren yang sejak lama hadir di tengah masyarakat dalam bidang pendidikan, dakwah, sosial bahkan politik," jelas pimpinan Pondok Pesantren Al-Mizan, Majalengka ini.

Di kemajuan teknologi informasi (TI) dengan hiruk pikuknya media sosial (medsos), Kang Maman menegaskan tugas santri tetap berdakwah. Namun dakwahnya tidak hanya secara konvensional seperti yang dilakukan selama ini, tapi santri harus mampu mengaktualisasikan dakwah kekinian, dakwah online, ataupun dakwah milenial dengan mentransfer wawasan Islam Moderat dan kebangsaan dalam rangka menjaga NKRI.

"Santri milenial menjadi garda terdepan dalam jihad mengkampanyekan perdamaian dan melawan upaya-upaya perpecahan," tuturnya.

Sejauh ini, lanjut mantan anggota Komisi VIII DPR itu, di kalangan para santri tengah tren jihad menangkal hoaks (berita bohong), baik di dunia nyata maupun dunia maya. Di dunia nyata, para santri melakukan edukasi di tengah masyarakat tentang bahaya hoaks, gerakan literasi di kalangan anak muda dan da'i muda.

Sementara di dunia maya santri memproduksi dan menyebarkan konten berisi dakwah positif yang bernilai kebangsaan dan kemanusiaan.

"Dakwah santri itu mengajak bukan mengejek, merangkul bukan memukul, menciptakan harmoni bukan hegemoni, menolak radikalisme, apalagi terorisme," pungkasnya. [did]

Topik berita Terkait:
  1. Hari Santri Nasional
  2. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini