Santoso tewas, Menko Polhukam yakin jaringannya sudah tak kuat lagi

Rabu, 20 Juli 2016 11:37 Reporter : Supriatin
Santoso tewas, Menko Polhukam yakin jaringannya sudah tak kuat lagi Menko Polhukam kunjungi kantor KLN. ©2016 merdeka.com/imam buhori

Merdeka.com - Tiga orang berhasil lolos dari penyergapan Satgas Tinombala di di pegunungan desa Tambarana, Kecamatan Poso Pesisir Utara, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, Senin (18/7). Dalam operasi itu, pimpinan Mujahidin Indonesia Timur (MIT), Santoso alias Abu Wardah dan Muchtar tewas ditembak.

Menko Polhukam Luhut Pandjaitan merasa yakin tiga orang yang lolos tersebut tak bisa mengembangkan jaringan Santoso. Tiga orang yang lolos, dua di antaranya wanita, satu pria.

"Saya kira tentu makin sulit karena tekanan dari operasi yang dilakukan TNI-Polri cukup efektif," kata Luhut usai menghadiri acara Pelantikan Kepala BNPT dan Kepala badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di Istana Negara, Rabu (20/7).

Menurut Luhut, dengan tewasnya pimpinan MIT, Santoso, kekuatan anggota lainnya tak akan memberi dampak yang signifikan untuk melanjutkan jaringan teroris di Indonesia Timur.

"Kekuatan sudah enggak kuat lagi. Santoso ini, sudah mati," jelas dia.

Kendati demikian, lanjut Luhut, operasi Tinombala tetap berjalan seperti biasanya. Apalagi, Presiden Joko Widodo telah menginstruksikan agar TNI dan Polri segera memburu sisa kelompok Santoso yang berhasil lolos.

"Antisipasi pengamanan biasalah sesuai prosedur. Saya kira operasi pengejaran terus dilakukan dan pasukan ditambah," tegasnya.

Tiga orang yang melarikan diri diketahui bernama Basri dan dua lainnya adalah istri Santoso bernama Jumiatun Muslimayatun, berasal dari Bima, Nusa Tenggara Barat. Seorang wanita lagi istri Basri bernama Nurmi Usman yang juga berasal dari Nusa Tenggara Barat. [rnd]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini