Sambut Pemudik, Pemkot Solo Gelar Opera Kolosal "Sinta Obong"

Selasa, 28 Mei 2019 11:08 Reporter : Arie Sunaryo
Sambut Pemudik, Pemkot Solo Gelar Opera Kolosal Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Menyambut pemudik sekaligus memeriahkan Lebaran 2019, Pemerintah Kota Solo akan menggelar opera kolosal berjudul "Sinta Obong". Pentas budaya tersebut akan dihelat 3 hari berturut-turut usai Idul Fitri 1440 H, yakni tanggal 7, 8, dan 9 Juni 2019.

Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo, mengatakan pertunjukan tersebut sebagai salah satu cara untuk melestarikan seni dan budaya Bangsa Indonesia. Kegiatan yang dikemas dalam acara "Bakdan Neng Sala Nonton Opera Ramayana dan Bazar 2019" tersebut akan diselenggarakan di Benteng Vastenburg mulai dari pukul 17.00 WIB hingga selesai.

"Kegiatan ini sebagai salah satu cara untuk melestarikan seni dan budaya Bangsa Indonesia," ujar Rudyatmo, Selasa (28/5).

Rudy, sapaan akrab Wali Kota menyampaikan, pertunjukan seni tersebut tidak dipungut biaya alias gratis. Karena tujuannya untuk memberikan hiburan kepada pemudik yang sudah lama tidak pernah nonton wayang orang. Harapannya semakin lama generasi muda akan mencintai keseniannya sendiri.

"Ke depan semoga ada payung hukumnya, siapapun wali kotanya, acara ini dapat terus terealisasi. Target kita nanti ada 15.000 penonton," katanya.

Komposer opera Dedek Wahyudi menyampaikan, yang membedakan pertunjukan kali ini dengan tahun lalu adalah musik dan naskah dibuat berbeda.

"Untuk musik akan lebih luar biasa daripada yang kemarin-kemarin. Kali ini kami tunjukkan kepada masyarakat bahwa gamelan punya kekuatan luar biasa untuk digarap dan digali," jelasnya.

Menurut dia, jika digarap secara maksimal, gamelan tidak kalah dengan musik yang lain, terutama jika menyentuh kalangan milenial.
Dalam pertunjukan nanti, lanjut dia, akan ada perpaduan orkestra barat dengan gamelan.

"Warna semacam ini tidak mungkin dilakukan oleh orang luar yang punya dasar gamelan. Itu yang membedakan dari yang lalu," katanya.

Sementara itu, penulis naskah Blacius Subono menuturkan, pada cerita tersebut setiap lakon akan digarap secara maksimal. Dintaranya Kumbokarno, Rama, Rahwana, dan Sinta.

"Akan ada penajaman garapan dalam mengolah setiap tokohnya. Seperti contohnya, Rahwana punya kesetiaan yang bukan hanya berbentuk cinta antara pria dan wanita tetapi cinta yang dikorbankan sebagai bentuk kesetiaannya kepada bangsa," pungkas dia. [lia]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini