Samad Nilai Isu Radikalisme di KPK Dikembangkan Agar Orang Menjauh

Rabu, 7 Agustus 2019 16:06 Reporter : Merdeka
Samad Nilai Isu Radikalisme di KPK Dikembangkan Agar Orang Menjauh Abraham Samad ke KPK. ©2019 Merdeka.com/Dwi Narwoko

Merdeka.com - Mantan Ketua KPK Abraham Samad membantah keras isu radikalisme yang merebak di lingkungan seleksi calon pemimpin KPK. Menurut Samad, isu radikal hanya sesuatu yang sengaja dibuat untuk melemahkan sistem pemberantasan korupsi dan menjauhkan eksistensi publik ke KPK.

"Saya ingin membantah secara keras tentang (paham) radikalisme di KPK itu tidak ada sama sekali, isu dikembangkan orang yang takut agenda pemberantasan korupsi, supaya apa? Agar masyarakat menjauh dari KPK," kata Samad dalam diskusi Seleksi Capim KPK di Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (7/8).

Samad menilai, tidak dapat secara sembarangan seseorang dicap sebagai penganut paham radikalis. Tidak serta merta melihat seorang berpenampilan dengan jenggot panjang dan celana cingkrang, maka serta merta ditetapkan sebagai seorang yang radikal.

"Ada orang pakai topi (peci) putih, celana cingkrang, jenggotan, masa langsung dikatakan radikal? Kan salah itu, menurut saya," tegas dia.

Namun demikian, Samad menilai pelibatan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) sebuah hal yang cukup baik. Sebab, dalam menyeleksi calon pemimpin KPK pelibatan badan kelembagaan negara harus diperluas.

"Jadi pelibatan BNPT ya perlu saja, bahkan kalau menurut saya harus lebih luas, BNN, Polri, semua dilibatkan juga lembaga non pemerintah, plus kampus juga supaya pansel dapat gambarannya," jelas Samad.

Sebelumnya diberitakan, Panitia seleksi calon pimpinan KPK telah, melibatkan BNPT untuk menelusuri rekam jejak para kandidat. Ketua Pansel KPK Yenti Ganarsih mengatakan dalam dinamika yang terjadi paham radikal berpotensi masuk bila tak diantisipasi.

"Berbagai hal dinamika yang terjadi adalah kaitannya dengan radikalisme. Sehingga pansel tidak mau kecolongan ada yang kecenderungan ke sana (radikalisme)," kata Ketua Pansel KPK Yenti Ganarsih di Kantor Presiden, Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin 17 Juni 2019.

Reporter: Muhammad Radityo

Sumber: Liputan6.com [eko]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini