Salinan putusan telat, koruptor bisa kabur

Kamis, 22 Maret 2012 14:24 Reporter : Hery H Winarno
Salinan putusan telat, koruptor bisa kabur

Merdeka.com - Komisi Yudisial menilai lambatnya salinan putusan dari Mahkamah Agung (MA) bisa berakibat fatal. Salinan putusan yang lambat diterima pengadilan negeri dan jaksa bisa membuat terpidana korupsi (koruptor) kabur terlebih dahulu sebelum dieksekusi.

"Dengan salinan putusan yang telat ini hukum jadi kurang berwibawa dan justru bisa menyulitkan eksekusi nantinya, bahkan kemungkinan terburuk terpidana bisa kabur duluan," ujar Wakil ujar Wakil Ketua Komisi Yudisial Imam Anshori Saleh saat berbincang dengan merdeka.com, Kamis (22/3).

Menurut Imam, bila eksekusi putusan tidak bisa segera dilakukan akan berimbas pada banyak hal. "Masyarakat juga menunggu, lalu Kemendagri juga butuh kepastian secepatnya agar bisa melakukan pergantian kepala daerah misalnya bila terpidana adalah kepala daerah. Sehingga dengan lambatnya salinan putusan, maka akan mengganggu yang lain," terangnya.

Beberapa terpidana korupsi ternyata hingga kini belum dieksekusi alias belum menjalani hukuman meskipun putusannya telah memiliki kekuatan hukum tetap (inkracht). Hal ini dikarenakan jaksa penuntut umum beralasan belum mendapatkan salinan putusan.

Salinan putusan sendiri memang dasar untuk melakukan eksekusi, namun ternyata salinan putusan itu tidak segera diserahkan dari hakim ke jaksa selaku eksekutor.

Sebut saja gubernur Bengkulu nonaktif Agusrin Najamuddin yang telah divonis Mahkamah Agung dengan hukuman empat tahun penjara serta denda Rp 20 juta subsider tiga bulan penjara. Toh hingga kini belum dipidana. Tak hanya Agusrin, Bupati Subang nonaktif Eep Hidayat hingga kini juga belum dieksekusi dengan alasan yang sama. [hhw]

Topik berita Terkait:
  1. Komisi Yudisial
  2. Mahkamah Agung
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini