Saksi Sebut Ongkir Ekspor Benur Rp1.450 per Ekor Mengalir ke Pemegang Saham PT ACK

Rabu, 5 Mei 2021 15:22 Reporter : Bachtiarudin Alam
Saksi Sebut Ongkir Ekspor Benur Rp1.450 per Ekor Mengalir ke Pemegang Saham PT ACK Edhy Prabowo jalani sidang di PN Jakarta Pusat. ©2021 Merdeka.com/Bachtiarudin Alam

Merdeka.com - Salah satu eksportir benih bening lobster (BBL) atau benur, Neti Herawati menjadi saksi dalam sidang suap terdakwa mantan Menteri KKP Edhy Prabowo. Kepada hakim, Neti mengaku sempat keberatan dengan beban biaya pengiriman Rp2.300 per ekor benur. Keberatan itu disebut Neti sempt disampaikan ekportir lain.

Neti sendiri merupakan istri Siswadhi Pranoto Loe yang merupakan komisaris PT Perishable Logistics Indonesia (PLI) dan pendiri PT Aero Citra Kargo (ACK). Siswadhi merupakan terdakwa dalam perkara korupsi suap ekspor benur.

Terkait keberatan itu, Neti menjelaskan bahwa PT PLI dan PT ACK telah melakukan dua kali presentasi yang dihadiri 9 perusahan. Saat presentasi ditentukanlah harga ekspor benih lobster sebesar Rp2.300, akan tetapi banyak mendapatkan kritik dari para perusahaan yang hadir.

"Ya (Rp2.300) ada yang bilang kemahalan," ujar Neti saat diperiksa dapam kasus ekspor BBL di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat pada Rabu (5/5).

Namun demikian, Neti tidak mengetahui perubahan harga itu kapan diputuskan. Dirinya hanya mengetahui setelah ditetapkan Rp1.800 untuk ekspor per benih lobster yang disetujui oleh sembilan perusahaan izin ekspor benur.

"Entah gimana ceritanya, akhirnya ditetapkan menjadi Rp1.800 per ekor," ujar Neti.

Kemudian, Neti mengungkapkan, biaya Rp1.800 tersebut dibebankan kepada eksportir untuk dibayarkan ke PT ACK. PT ACK adalah perusahaan pengiriman kargo (freight forwarding) yang ditunjuk khusus untuk ekspor BBL. PT ACK bekerja sama dengan PT PLI.

Neti melanjutkan PT PLI berperan mengurus seluruh kegiatan ekspor BBL tersebut. Sedangkan PT ACK hanya sebagai perusahaan yang melakukan koordinasi dengan perusahaan pengekspor BBL dan menerima keuntungannya saja.

"PT ACK mengecek ke eksportir berapa banyak yang dikirim, kapan dikirim. Selanjutnya operasional diserahkan ke PT PLI," terang Neti.

Sehingga, kata Neti, biaya pengiriman sejatinya hanya dibebankan Rp350 per ekor benur melalui PT PLI. Sisanya sebesar Rp1.450 per ekor mengalir ke pemegang saham di PT ACK.

"Dilaporkan ke pemegang saham sesuai dengan yang tertera di akta. (Ditransfer ke pemegang saham)," ucap Neti.

Pemegang saham yang dimaksud yakni Achmad Bachtiar dengan saham sebanyak 41,65 persen, Amri sebanyak 41,65 persen, dan Yudi Surya Atmaja selaku Komisaris dengan saham sebanyak 16,7 persen.

Neti diperiksa sebagai saksi untuk enam terdakwa. Terdiri dari eks Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo, asisten pribadi Edhy, Amiril Mukminin, dan staf khusus menteri kelautan dan perikanan Safri.

Kemudian staf istri menteri kelautan dan perikanan Ainul Faqih, staf khusus menteri kelautan dan perikanan Andreau Pribadi Misanta; dan Siswadhi Pranoto Loe. Mereka diduga sebagai pihak penerima dan perantara suap izin ekspor BBL.

Atas perbuatannya itu, para terdakwa didakwa dengan Pasal 12 huruf a Undang -Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undang- Undang RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 65 ayat (1) KUHP, dan.

Pasal 11 Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 65 ayat (1) KUHP. [rhm]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini