Sadisnya Mantan Kekasih karena Lamaran Ditolak

Selasa, 13 Juli 2021 06:03 Reporter : Kirom
Sadisnya Mantan Kekasih karena Lamaran Ditolak Ilustrasi garis polisi. ©2013 Merdeka.com

Merdeka.com - Pembunuhan sadis menggegerkan warga Kecamatan Cisauk, Kabupaten Tangerang, Banten. Seorang perempuan muda dihabisi dan dibakar mantan kekasihnya yang diduga sakit hati lantaran lamarannya ditolak korban.

Korban bernama Siti Zahra (19), warga Desa Cibogo, Kecamatan Cisauk, Kabupaten Tangerang. Jasadnya ditemukan dalam keadaan mengenaskan bekas terbakar di sebuah lahan kosong di Desa Suradita, Kecamatan Cisauk, Kabupaten Tangerang, Jumat (9/7) sekitar pukul 06.00 WIB.

Kasus pembunuhan itu langsung diselidiki Polsek Cisauk. Jenazah korban dibawa ke RS Polri, Kramat Jati, untuk diautopsi. Sejumlah saksi pun diperiksa.

Zahra akhirnya dikenali. Ayahnya, Aziz (45) yakin jasad yang terbakar itu adalah putrinya yang menghilang sejak Kamis (8/7) malam.

"Ada potongan baju yang jadi barang bukti dan persis itu dipakai kerja (Siti Zahra), saya hafal bener. Batik Jogja dikasih bibinya, yakin itu mah anak saya," ungkap Aziz, Senin (12/7).

Dia bercerita Zahra tidak pulang setelah bekerja di klinik dr Henny, dekat rumahnya. "Kamis itu biasanya berangkat kerja pulang jam 8 malam. Memang selama Covid ini klinik ramai, tapi kalau tinggal satu dua pasien, dia diizinkan pulang duluan. Tapi enggak pulang, nomor teleponnya dialihkan, enggak aktif," terang Aziz.

Aziz menunggu sampai Jumat (9/7) pagi, tapi tak kunjung ada kabar dari putrinya. Dia malah mendapatkan informasi tidak sedap, tentang penemuan jasad perempuan terbakar di kampung tetangga, Desa Suradita.

Entah kenapa Aziz merasa perlu mencari tahu kebenaran informasi itu. Dia bergegas ke kebun yang dikabarkan menjadi lokasi penemuan jasad.

"Dari pagi sampai Jumat siang, saya dengar ada pembunuhan di Suradita itu. Namanya kehilangan anak, panik, saya coba cek ke sana. Nah di sana saya tanya warga katanya kasusnya ditangani Polsek," jelas Aziz.

Pria ini kemudian mendatangi Polsek Cisauk sembari berharap korban bukanlah putrinya Zahra, yang tidak pulang semalaman. "Saya tanya ke anggota polsek, nanya ciri-ciri korban. Karena belum 24 jam, saya enggak laporan. Saya bilang ke polisi, nanti jam 8 malam saya bikin laporan," jelas dia.

Hingga pukul 20.00 WIB, Zahra belum juga kembali, telepon selularnya pun tidak kunjung terhubung. Akhirnya, Aziz kembali mendatangi Polsek Cisauk melaporkan kehilangan putrinya.

"Saya kembali, direspons bagus, sampai saya diajak tes DNA di RS Kramatjati. Saya di BAP di sana," paparnya.

Tulang Punggung Keluarga

Meninggalnya Zahra memberi duka mendalam kepada keluarga. Aziz bercerita, Zahra adalah anak yang penuh kasih sayang kepada keluarga dan orang tua.

"Kerjanya di klinik umum dr Heny. Dia tulang punggung keluarga kami, apalagi setelah saya diberhentikan. Kontrakan ini dia yang bayar pakai gajinya," kata Aziz.

Aziz menerangkan, almarhumah adalah sosok anak yang baik dan penyayang. Dia juga dikenal sebagai pekerja yang bertanggung jawab.

Zahra bekerja sebagai asisten dokter di klinik kesehatan milik dr Henny sejak satu tahun empat bulan lalu. "Kerja dia tanggung jawab, bagus, tepat waktu, cuma ngomong agak berani, lantang. Dan di saya sejauh ini cocok kerjanya," ungkap Henny yang membuka praktik dokter di Desa Cibogo, Senin (12/7).

Perempuan ini mengaku terakhir kali bertemu Zahra pada Kamis (8/7) malam, sebelum dicari kedua orang tuanya dan ramai diberitakan sebagai korban pembakaran di desa tetangga.

Didatangi Teman Perempuan

Henny bercerita, klinik kesehatannya buka dari pukul 15.00 sampai 20.00 WIB. Semenjak meningkatnya angka kasus Covid-19 di Tangerang, jam kerja Zahra bertambah panjang hingga pukul 21.00 WIB.

"Kamis (8 Juli 2021) kerja seperti biasa. Waktu itu sisa dua pasien, maka sekitar pukul 08.15 WIB dia saya suruh pulang duluan. Karena kalau sisa dua pasien saya bisa tangani sendiri," jelas Henny.

Sebelum pulang bekerja, kata Henny, Zahra sempat didatangi temannya. Namun dia tidak dapat memastikan siapa sosok teman yang mendatangi asistennya itu.

"Sebelum pulang, ada datang perempuan temannya, saya tanya siapa, dijawab (Zahra) teman saya," terang Henny.

Kehadiran teman-teman Zahra ke klinik kesehatan itu bukan yang pertama, bahkan bisa dibilang kesekian kalinya. Henny tidak begitu memerhatikan teman Zahra yang datang ke klinik saat itu, apalagi dia juga tengah menangani pasien.

"Memang biasanya suka ada temanya datang. Itu enggak sampai mengganggu pekerjaan. Saya juga sedang ada pasien, saya anggap biasa saja" jelas Henny.

Saat menyuruh Zahra pulang, Henny pun tidak mengetahui pasti apakah asistennya itu dijemput atau pulang sendiri. "Saya enggak tahu, karena posisi saya sedang ada pasien, sedang meng-anamnesa. Apakah dia pulang sendiri, didatangi teman, dijemput. Tapi setahu saya, dia pulang jalan kaki karena rumah dia dekat hanya 300 meter," ungkapnya.

Mantan Kekasih Diduga Sakit Hati

Tak butuh waktu lama, dua tersangka pelaku pembunuhan itu ditangkap polisi. Mereka langsung menjalani pemeriksaan.

"Alhamdulillah sudah tertangkap 2 orang. Tadi malam sudah dilakukan pemeriksaan intensif. Dua orang itu DS (20) dan US (42)," terang Kapolres Tangsel Iman Imanudin dikonfirmasi, Minggu (11/7).

Kedua pelaku diamankan di kediaman mereka, juga di sekitar Desa Cibogo.

Polisi masih mendalami motif pembunuhan sadis yang dilakukan kedua tersangka. Dugaan sementara pembunuhan itu bermotif sakit hati. "Tersangka DS pernah menjalin hubungan dengan korban dan pada saat melamar korban, tersangka beserta keluarganya ditolak keluarga korban," jelas Imanudin.

Minta Pelaku Dihukum Mati

Ayah Zahra, Azis yakin DS dan US adalah pembunuh putrinya. "Saya yakin (pelaku DS) karena TKP enggak jauh dari rumah si cowok. Jadi dia tahu kapan waktunya ramai dan sepi di tempat itu," ucap Aziz.

Dia pun membenarkan DS pernah melamar anaknya namun ditolak. "Pelakunya itu pernah ngelamar, dua atau tiga minggu lalu, ya saya tolak. Pertama anak saya masih kecil, kedua dia masih jadi tulang punggung keluarga," jelas Aziz.

DS datang melamar Zahra pada pertengahan Juni 2021. "Itu hari Rabu bulan Juni niatnya mau lamaran, datang malam, karena saya enggak ada, besoknya datang lagi bertiga sama tukang salon yang jadi tersangka juga," paparnya.

Lamaran DS bersama dua kerabatnya itu ditolak Aziz. Alasannya, Zahra masih terlalu dini untuk menikah, selain dia juga merupakan tulang punggung keluarga.

Setelah lamarannya ditolak, pelaku kemudian mengeluarkan surat perjanjian untuk ditandatangani Azis. Surat perjanjian itu menyiratkan bahwa orang tua Zahra tidak bisa menuntut apa pun jika terjadi sesuatu di kemudian hari.

"Panjang lebar dia ngeluarin perjanjian. Intinya kalau ada apa-apa sama anak saya karena sudah ditolak, entah itu hamil dan lain- lain, habis itu saya tanda tangani," kata Azis.

Aziz bersedia menandatangani surat perjanjian itu, karena yakin putrinya tidak akan berbuat hal tercela seperti yang diancamkan terduga pelaku. "Saya omongin, abang jaga adik abang, saya jaga anak saya. Saya enggak mengerti (apakah) ancaman itu, apakah kekhawatiran dia kalau memang anak saya hamil lepas tanggung jawab. Ya saya bilang, setahu saya 3 sampai 4 hari ini masih menstruasi dan enggak mungkin berani melakukan yang bikin aib orangtua," ucap Aziz.

Setelah polisi menangkap DS dan US, Azis meminta agar pembunuh anaknya dihukum mati. "Kalau bisa, harus bisa, hukum diberlakukan adil. Anak saya diberlakukan seperti hewan, dibakar begitu, saya mau hukumnya itu ya hukum mati," tegas Azis. [yan]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini