Saat Ustaz Abdul Somad Tersandung Ceramah Lawas

Kamis, 22 Agustus 2019 09:34 Reporter : Ronald
Saat Ustaz Abdul Somad Tersandung Ceramah Lawas Ustaz Abdul Somad di MUI. ©2019 Merdeka.com/Iqbal Nugroho

Merdeka.com - Ustaz Abdul Somad (UAS) tersandung masalah hukum usai dirinya berdakwah di Masjid Agung An-nur, Pekanbaru, Riau yang digelar setiap subuh berujung dipolisikan. Sebab, saat itu ceramahnya menjadi viral di media sosial terkait salib.

UAS menegaskan, dirinya tak akan minta maaf apa yang telah ia perbuat. Sebab, apa yang ia katakan pada 3 tahun lalu itu berdasarkan akidah agama Islam. Di mana saat itu ada sesi tanya jawab oleh para jamaah.

"Saya menjawab yang dua pertanyaan. Pertanyaan pertama, saya menjelaskan tentang akidah agama saya di tengah komunitas umat islam di dalam rumah ibadah saya. Bahwa kemudian ada orang yang tersinggung dengan penjelasan saya, apakah saya mesti meminta maaf?" kata UAS di Gedung MUI, Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, Rabu (21/8) kemarin.

"Saya jelaskan itu di tengah umat islam, otomatis orang luar yang mendengar itu tersinggung atau tidak? Tersinggung? Apakah perlu saya meminta maaf? Ajaran saya, kalau saya minta maaf berarti ayat itu mesti dibuang, ngawur gitu? nauzubillah," sambung UAS.

Dalam jawaban, UAS juga menegaskan, bahwa malaikat nggan masuk ke dalam rumah jika didalamnya ada simbol patung.

"Mengapa malaikat tidak mau masuk ke dalam rumah yang ada patung karena di antara tempat tempat tinggal Jin adalah patung," tegas UAS.

Atas ceramahnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun ikut membahas hal ini. Salah satunya mengingatkan UAS agar tak kembali membahas hal-hal yang dapat menyinggung seseorang maupun agama.

"Kami tidak dalam rangka menghakimi Ustad Abdul Somad ya. Tapi dalam dalam rangka bagaimana agar persoalan ini tidak melebar. Tapi memang ada satu diskusi di internal tadi itu jangan masuk ke wilayah yang sifatnya itu bisa menyinggung orang lain," ujar Ketua MUI Bidang Informasi dan Komunikasi Masduki Baidlowi.

Menurut Masduki, hadist yang dibacakannya UAS sangat sensitif dan masih memiliki makna berbeda dari orang yang menerima nya.

"Soal patung itu misalnya, soal patung itu tadi sudah disampaikan oleh Ustad Abdul Somad. Itu dari hadist. Ternyata kalau dalam kajian islam hadist itu masuk dalam wilayah fidriyah atau yang bisa pendapatnya berbeda antara satu dengan yang lain," katanya.

Selain itu, guna meredam apa yang telah terjadi MUI akan melakukan silaturahmi ke tokoh-tokoh lintas agama termasuk katolik. Diharapkan, silaturahmi ini dapat mencabut laporan polisi.

"Pekan depan saya kira sudah mulai dilakukan silaturahim. Ya harapannya supaya tidak ada gugatan balasan dari pihak yang lain, dan kemudian kalau dicabut ya lebih bagus," kata Masduki.

"Misalnya GMKI yang sudah menyatakan keberatan sehingga melaporkan, GMKI itu kelompok Cipayung. Di dalamnya ada PMII, ada HMI, jadi ada organisasi kemahasiswaan yang lain. Jadi ini nanti persoalan bisa merembet kemana-mana. Oleh karena itu, untuk menghindari itu harus kita selesaikan secara kultural," sambung Masduki.

Lebih lanjut Masduki menjelaskan, dengan adanya silaturahmi ini diharapkan dapat meredam suasana. Sebab, jika tidak kasus ini akan ditunggangi unsur politik.

"Kami tidak dalam rangka masuk di mana hukum itu dipersoalkan, hanya kami mengimbau agar tidak masuk ke wilayah hukum. Karena kalau masuk wilayah hukum itu tidak selesai karena ada tuntutan baru dari persoalan lain yang sama masalahnya dan itu tidak akan selesai, dan ini yang masuk akhirnya dampaknya ke politik," pungkas Masduki. [gil]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini