Saat SBY dan Jokowi jadi korban penyadapan misterius

Rabu, 7 Februari 2018 06:15 Reporter : Ramadhian Fadillah
Jokowi-SBY di Istana. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - Mobil Menteri Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan hari ini digeledah oleh empat orang petugas Badan Siber dan Sandi Nasional (BSSN). Mereka mencari alat penyadap yang dikhawatirkan diletakkan di sana.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, pemeriksaan oleh Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) merupakan kegiatan yang rutin dilakukan. Hal ini merupakan standar pengamanan.

"Kan memang setiap berapa bulan ruangan itu disterilkan, termasuk rumah, mobil," kata Luhut.

Soal sadap menyadap memang tak bisa dianggap remeh. Berkali-kali para pejabat Indonesia kecolongan sampai disadap oleh intelijen asing.

Dokumen Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (NSA) yang dibocorkan oleh Edward Snowden mengungkap setidaknya sejak 2009, intelijen Australia sudah menyadap telepon seluler Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama istrinya, Kristiani Herawati alias Ani Yudhoyono.

Bukan hanya SBY dan istrinya, Australia juga menyadap telepon seluler kepunyaan pejabat Indonesia lainnya. Boediono (wakil presiden, Jusuf Kalla (mantan wakil presiden), Dino Patti Djalal (juru bicara presiden).

Lalu Andi Mallarangeng (juru bicara presiden), Hatta Rajasa (menteri sekretaris negara), Sri Mulyani Indrawati (menteri koordinator perekonomian), Widodo Adi Sucipto (menteri koordinator politik dan keamanan), Sofyan Djalil. Saat itu tak ada yang bisa melacak penyadapan misterius itu.

Pemerintah Indonesia marah besar. Presiden SBY langsung memanggil pulang duta besar RI untuk Australia Nadjib Riphat Kesoema. Pemerintah juga memutuskan semua kerja sama di bidang militer maupun ekonomi saat itu.

"Kalau ada yang bilang intelijen itu bisa lakukan apa saja, saya justru mempermasalahkan itu. Mengapa menyadap kawan bukan lawan? Oleh karena itu saya anggap masalah ini serius, bukan dari aspek hukum, saya kira hukum Indonesia dan hukum internasional tidak boleh menyadap pejabat negara lain," kata Presiden SBY kala itu.

Setiap hari Kedubes Australia di Jakarta didatangi pendemo. Semuanya mengecam aksi arogan pemerintah Australia.

Masalah makin pelik karena Perdana Menteri Australia Tonny Abbot saat itu tak mau meminta maaf secara terbuka.

Setelah berbulan-bulan tegang, akhirnya Presiden SBY dan PM Abbot menggelar pertemuan di Batam. Salah satu isu krusial yang dibahas adalah soal penyadapan itu.

Perlahan hubungan Indonesia dan Australia kembali normal usai penyadapan yang bikin geger itu.

Tak cuma SBY, Jokowi pun pernah menjadi korban penyadapan. Saat Pilpres 2014 lalu, Sekjen PDI Perjuangan Tjahjo Kumolo mengatakan pihaknya menemukan tiga alat sadap di rumah dinas Jokowi.

Jokowi sendiri mengaku sudah lama tahu disadap. Namun dia enggan membeberkannya ke publik. Jokowi juga tak mau mengungkap siapa yang menyadap dirinya.

Alat sadap itu diketahuinya saat menyisir seluruh rumah dengan alat detektor. Dari pencarian itu, dia menemukan ada tiga alat sadap. Masing-masing ditemukan di kamar tidur, ruang tamu dan ruang makan.

"Saya cerita sudah Desember yang lalu, tapi saya bilang enggak usah lah diribut-ributin. Yang disadap dari saya juga apa sih," kata Jokowi tahun 2014 lalu.

Jokowi mengaku hanya membicarakan masalah sepele dengan istrinya. Sehingga, dia yakin tak ada hal-hal yang penting dari penyadapan itu.

"Saya kalau di rumah ngomong dengan istri ngomong yang enteng-enteng aja, ngomong-ngomong soal makanan, itu-itu aja," ungkapnya santai. [ian]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini