Rombongan adat gelar upacara dan ambil tanah di makam Tan Malaka

Rabu, 22 Februari 2017 04:36 Reporter : Imam Mubarok
Rombongan adat gelar upacara dan ambil tanah di makam Tan Malaka Upacara Penjemputan Gelar Daruk Tan Malaka di Kediri. ©2017 Merdeka.com/imam mubarok

Merdeka.com - Upacara adat menjemput gelar pusaka pucuk adat Ibrahim Datuk Tan Malaka di Kediri dilakukan. Upacara tersebut dilaksanakan bertepatan tanggal wafatnya Tan Malaka pada 21 Februari 1949, yang tewas dibunuh di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri.

Upacara penjemputan gelar pusaka pucuk adat Bungai Setangkai Kelarasan Suliki Wilayah Adat Rajo dilakukan di Ranah Luak Limapuluah.

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut pelepasan Delegasi Menjemput Gelar Ibrahim Datuk Tan Malaka Rajo Adat Kelarasan Bungo Satangkai, Suliki, Nagari Pandam Gadang, Kecamatan Gunung Omeh, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatra Barat pada Sabtu (14/1) lalu.

Sedikitnya 142 niniak mamak (pemimpin adat) di Kelarasan Bungo Setangkai berkumpul di Kediri untuk mengikuti proses adat.

Mereka datang pada Senin malam (20/8) dengan naik 4 bus dan 6 mobil dengan tenggang perjalanan 4 hari, menempuh jarak 2040 km sejak Kamis (16/2).

Upacara adat sendiri dilaksanakan pada Selasa (21/2) di lokasi Makam Ibrahim Datuk Tan Malaka di Desa Selopanggung.

Hadir dalam upacara tersebut antara lain Wakil Bupati Limapuluh Kota, Ferizal Ridwan selaku pimpinan rombongan. Wakil Bupati Kabupaten Kediri H Masykuri, Ketua DPRD Kabupaten Limapuluh Kota, Safaruddin, Khairul Apit Wali Nagari Pandam Gadang, anggota DPRD Kabupaten Limapuluh Kota, anggota DPRD Kabupaten dan Kota Kediri dan ratusan warga Desa Selopanggung.

Dalam sambutannya Wakil Bupati Kediri H Masykuri menyampaikan prinsipnya Pemkab Kediri menghormati proses adat yang berlaku dalam keluarga besar Pahlawan Nasional Ibrahim Datuk Tan Malaka.

"Yang terpenting sepeninggal wafatnya Ibrahim Datuk Tan Malaka adalah bagaimana penerus bangsa dapat meneladani semangat patriotisme dan pemikiran Tan Malaka. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan jasa para pahlawannya," kata Masykuri.

Penerimaan dan harapan besar atas makam Ibrahim Datuk Malaka ini disambut baik oleh Wakil Bupati Limapuluh Kota, yang sejak awal meyakini bahwa makam yang ada di Selopanggung adalah makam Ibrahim Datuk Tan Malaka, berdasarkan penelitian Harry Poeze peneliti asal Belanda dan juga hasil test DNA.

"Kami sudah memastikan dan yakin bahwa di sinilah Ibrahim Datuk Tan Malaka meninggal. Sebentar lagi dokter yang meneliti tentang DNA Ibrahim Datuk Tan Malaka akan merilis. Dan hasilnya dari 14 kecocokan, 9 di antarannya sudah pasti jika yang dimakamkan tersebut adalah Ibrahim Datuk Tan Malaka," kata Ferizal Ridwan kepada merdeka.com.

Setelah sambutan pelaksanaan acara dilanjutkan dengan prosesi adat, tepat di atas pusara Ibrahim Datuk Tan Malaka. Upacara adat dipimpin langsung oleh Safaruddin Ketua DPRD Kabupaten Limapuluh Kota yang juga menjadi tokoh pucuk adat.

Dalam pelaksanaan upacara adat, para duta membawa perlengkapan penghulu yang sejatinya melekat pada Tan secara konteks pemimpin adat.

Antara lain pakaian sapatagak (baju, sarawa galembong, pakaian niniak mamak, karih, tungkek, payuang)- Alquran, kain kafan, lambang burung garuda dan juga bendera merah putih.

Penjemputan gelar tersebut diberikan kepada penerus Tan Malaka yakni Hengky Novaron Arsil, keponakan Ibrahim Datuk Tan Malaka sekaligus pewaris gelar Datuk Tan Malaka keturunan ke-7.

Acara diakhiri dengan pengambilan segenggam tanah secara bergantian oleh perwakilan adat dan selanjutnya akan dibawa ke Pandam Gadang. [cob]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Tan Malaka
  3. Kediri
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini