RM Sari Bundo, sederhana tapi bikin Presiden Habibie kepincut

Sabtu, 9 Maret 2013 15:43 Reporter : Baiquni
RM Saribundo . Baiquni ©2013 Merdeka.com

Merdeka.com - Bangunan itu tampak mungil berdiri di tengah himpitan dua gedung besar. Jika dilihat sekilas, mungkin tidak ada yang tahu bangunan itu adalah sebuah rumah makan. Ditambah lagi, minimnya ornamen khas Sumatera Barat mengesankan itu bukan tempat yang menyajikan masakan Padang. Satu-satunya ciri yang menunjukkan tempat itu adalah rumah makan Padang adalah tulisan 'Sari Bundo' yang terbuat dari stainless steel berwarna merah di atas papan seng berwarna kuning.

Tidak ada kesan mewah yang dapat ditangkap dari tempat itu. Demikian pula di bagian dalam rumah makan itu. Di sana hanya terlihat meja dan kursi makan yang tertata rapi. Udaranya pun tidak sedingin rumah makan lainnya karena memang tidak menggunakan pendingin ruangan.

Namun demikian, rumah makan Sari Bundo menyimpan banyak cerita tentang sosok Presiden ketiga Republik Indonesia (RI) Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie. Tempat ini adalah rumah makan favorit pria kelahiran Pare-pare, Sulawesi Selatan tersebut. Selain itu, Habibie mendapat julukan sebagai tamu favorit di sana.

"Pak Habibie dulu sering ke sini. Biasanya pas jam makan siang," ujar salah satu karyawan yang secara khusus melayani Habibie, Refrizal saat berbincang dengan merdeka.com di rumah makah Sari Bundo, Jl Ir H Juanda No 27, Jakarta, Jumat (8/3).

Ada salah satu sebab Habibie jatuh hati pada rumah makan padang yang satu ini, yaitu menu ayam goreng. Rizal mengatakan, Habibie selalu memesan ayam goreng paha yang hangat dengan jumlah banyak untuk dimakan sendiri. "Sekali makan bisa habis banyak. Dulu pernah sampai 16 potong ayam goreng," tutur dia.

Karena terlalu sering melayani Habibie, Rizal mengaku cukup dekat dengan mantan presiden satu-satunya yang berasal dari luar Jawa ini. Bahkan, Rizal mengaku hafal dengan gaya makan Habibie. "Beliau itu hanya makan ayam saja, selalu digado, nasinya sedikit sekali. Biasanya, di sela menikmati ayam goreng, beliau makan nasi," terang dia.

Menu ayam goreng di rumah makan ini memang menjadi favorit pengunjung. Saat dimakan, lidah akan merasakan racikan bumbu yang kuat melekat di setiap potong ayam tersebut. Selain itu, karena digoreng dengan sangat kering, menimbulkan sensasi renyah di mulut.

Selain menu ayam goreng, Sari Bundo juga punya andalan menu yakni sambal petai. Saat disajikan, sambal ini dapat membuat lidah berliur hanya dengan melihatnya. Kombinasi warna merah dan hijau membuat setiap orang tergiur menyantap sambal satu ini. "Seberapa banyak pun dibikin, selalu habis," ungkap Rizal.

Keberadaan rumah makan Sari Bundo tidak bisa dikatakan baru di Jakarta. Rumah makan ini didirikan oleh seorang warga Bukittinggi, Azwardi pada tahun 1967. "Sebenarnya sudah dibangun beberapa tahun sebelum 1967. Tetapi, sempat terhenti karena peristiwa 1965. Karena waktu itu banyak yang curiga kalau alat bangunan dijadikan senjata," ungkap Ferry Azwardi yang merupakan putra pertama pemilik rumah makan Sari Bundo.

Ferry mengaku cukup bangga memiliki tamu seperti Habibie meskipun dia tidak pernah bertemu langsung. Berdasar penuturan para karyawannya, Ferry mendapat kesan Habibie merupakan sosok yang familiar. "Semua disapa kalau sedang makan di sini. Mulai dari pengunjung sampai karyawan, semua disapa," kata dia.

Selain itu, Ferry juga mengatakan, setiap kali ada tamu dari Jerman, Habibie selalu mengajak makan di Sari Bundo. "Pak habibie juga sering bawa tamunya dari Jerman ke sini. Selalu diperkenalkan ke karyawan," ungkapnya.

Kini, rumah makan Sari Bundo telah memiliki beberapa cabang. Sebagai generasi penerus, Ferry mengaku bangga dengan usaha yang dirintis sang ayah. Sebab, Sari Bundo merupakan salah satu rumah makan yang selalu mendapat pesanan dari Istana Negara. Bahkan, rumah makan yang kini dia kelola masuk ke dalam daftar khusus jika sewaktu-waktu ada perayaan di Istana.

"Setiap hari kami selalu kirim pesanan ke Istana. Untuk hari biasa, seringnya ada pesanan sebanyak 50 porsi. Tapi kalau ada momen tertentu seperti 17 Agustus, pesanannya bisa mendapat 400-an porsi," kata Ferry.

Lebih lanjut, Ferry menambahkan, kunci kebesaran nama Sari Bundo terletak pada bumbu yang kuat sesuai tradisi. Dia pun mengaku tidak berani main-main jika soal bumbu. "Sampai sekarang kami selalu mempertahankan rasa dengan bumbu yang kuat," pungkas dia. [war]

Topik berita Terkait:
  1. Wisata Kuliner
  2. BJ Habibie
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini