Remaja Perempuan di TTS Disekap selama Berhari-hari dan Diperkosa

Jumat, 7 Mei 2021 15:47 Reporter : Ananias Petrus
Remaja Perempuan di TTS Disekap selama Berhari-hari dan Diperkosa Ilustrasi kekerasan. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Dua remaja perempuan di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi korban penyekapan dan pemerkosaan. Selama penyekapan, mereka hanya diberi jatah makan sekali dalam sehari. Ke kamar mandi pun dibatasi, mereka hanya diperbolehkan ke kamar mandi satu kali dalam sehari.

Dua remaja masing masing FEN (14) dan MT (13), warga Desa Oni, Kecamatan Kualin, Kabupaten Timor Tengah. FEN dan MT disekap selama empat hari, bahkan FEN diperkosa sebanyak tiga kali.

Peristiwa yang menimpa dua anak di bawah umur ini terjadi pada tanggal (26/4) lalu, telah diadukan ke Yayasan Sanggar Suara Perempuan (YSSP) SoE.

FEN mengisahkan, dia dan adik sepupunya MT keluar dari rumah di Desa Oni, Kecamatan Kualin sekitar pukul 18.00 WITA ke Kali Oeupun, batas antara Desa Oni dan Tuapakas untuk mandi.

Saat hendak pulang, mereka bertemu dengan pelaku berinisial FB (34), yang mereka tidak terlalu kenal.

Pelaku awalnya mengajak untuk ikut bersamanya ke rumah, namun kedua korban menolak. Pelaku pun marah dan mengeluarkan sebilah pisau, lalu mengancam kedua korban untuk ikut bersamanya jika tidak ingin dibunuh.

"Kami diancam dengan pisau. Dia bilang kalau tidak ikut dengan dia ke rumahnya, maka kami akan dibunuh, akhirnya kami terpaksa ikut karena kami takut," ujar FEN, Jumat (7/5).

Di rumah pelaku di Desa Tuapakas, Kecamatan Kualin, keduanya dikurung dalam kamar kemudian pelaku memperkosa FEN dengan ancaman akan dibunuh, jika korban dan adik sepupunya tidak mau melayani nafsu bejat pelaku.

Awalnya pelaku hendak memperkosa MT, namun dihalangi FEN. FEN tidak tega jika adik sepupunya tersebut diperkosa oleh pelaku.

"Dia juga mau perkosa adik saya (MT) namun saya tidak mau karena adik masih sekolah. Saya rela diperkosa tapi jangan kepada MT, karena dia masih sekolah," beber FEN.

FEN diketahui sudah putus sekolah saat masih di bangku sekolah dasar, karena harus mengikuti kedua orang tuanya yang bekerja sebagai buruh migran di Malaysia.

Di bawah ancaman pisau, korban terpaksa melayani nafsu bejat pelaku. Keduanya disekap sejak Senin (26/4) hingga Jumat (30/4).

Selama disekap, korban FEN diperkosa tiga kali yaitu pada Senin (26/4) malam, Selasa (27/4) malam dan Rabu (28/4) malam.

Setiap kali hendak melakukan aksi bejatnya, pelaku selalu mengancam korban terlebih dahulu. Selama disekap, kedua korban hanya diberikan makan sekali sehari.

Selain itu, kedua korban juga hanya diperbolehkan keluar dari kamar pada malam hari. Itu pun hanya ke WC. Pelaku juga selalu mengawasi kedua korban ketika pergi ke kamar mandi.

"Selama disekap kami hanya berada di dalam kamar. Mau ke kamar WC itu hanya bisa malam hari dan itu dijaga pelaku dengan menggunakan pisau," Cerita FEN.

Keduanya baru dipulangkan Jumat (30/4) subuh dengan cara diusir, dan pelaku berpesan agar kejadian tersebut tidak diberitahukan kepada siapa pun, jika tidak ingin dibunuh.

Selain itu pelaku juga akan membunuh keluarga korban, jika korban berani melaporkan kejadian tersebut. Kedua korban yang ketakutan kemudian berjalan dalam kegelapan menuju jalan raya.

Karena takut pulang ke rumah, kedua korban menumpang sebuah mobil truk menuju ke Kupang dan turun di Kelurahan Oesapa, Kota Kupang.

Kedua korban hendak ke rumah keluarganya di Labat, Kelurahan Bakunase II, Kota Kupang namun tidak mempunyai uang sehingga keduanya kembali menumpang bus, kembali rumah mereka di Kualin.

"Hari Jumat pagi baru pelaku lepas kami. Tapi dia ancam mau bunuh kami kalau lapor kejadian tersebut. Kami sempat ke Kupang karena takut, tapi karena uang habis jadi kami kembali ke Kualin dan melaporkan peristiwa yang kami alami kepada orang tua kami," Ungkap FEN.

Setiba di rumah mereka tidak menceritakan kejadian tersebut karena takut, sehingga sempat berbohong.

Sang ibu, Martha K yang mendampingi mereka mengatakan, keluarga sempat berkumpul dan mencari karena mengira kedua anak tersebut hilang. Jumat (30/4) saat kedua korban kembali ke rumah, korban FEN lemah dan ketakutan.

Martha curiga sehingga melaporkan kepada polisi dan melakukan visum di RSUD Soe, namun hingga kini belum ada hasilnya. [cob]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Pencabulan
  3. Pemerkosaan Anak
  4. Kupang
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini