Rekam Jejak Tragedi Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck di Lamongan

Selasa, 14 Januari 2020 10:25 Reporter : Darmadi Sasongko
Rekam Jejak Tragedi Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck di Lamongan Monumen peristiwa tenggelamnya kapal Van Der Wijck. ©2020 Merdeka.com/Darmadi Sasongko

Merdeka.com - Tenggelamnya kapal Van Der Wijck pada 20 November 1936 menjadi kisah legenda di masyarakat luas. Tetapi tidak banyak yang sadar, kisah itu adalah nyata terjadi di Lamongan dengan sisa-sisa bukti peninggalannya yang masih dapat ditemukan hingga saat ini.

Masyarakat lebih mengenal kapal Van Der Wijck sebagai judul novel karya Abdul Malik Karim Amrullah atau Buya Hamka, yang memang ber-setting kecelakaan kapal itu. Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Vijck beberapa kali disebut dalam pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia sejak Sekolah Dasar (SD), bahkan menjadi bacaan wajib.

Novel itu mewakili karya sastrawan angkatan pujangga baru, sezaman dengan Layar Terkembang (Sutan Takdir Alisabana), Kalau Tak Untung (Sariamin Ismail), Madah Kelana (Sanusi Pane) dan lain-lain. Karena itu kisah roman tokoh ceritanya, Zainudin dan Hayati dalam Tenggelamnya Van Der Wijck masih melekat di ingatan.

1 dari 5 halaman

Kisah roman antara Zainudin dan Hayati berakhir dengan sebuah kesedihan. Karena Hayati yang 'membawa pulang' cintanya ke Tanah Minang menjadi salah satu penumpang dalam kapal tersebut. Pertemuan Hayati dengan Zainudin di detik-detik menjelang kematiannya menjadi puncak kisah roman karya tokoh Muhammadiyah itu.

Selain itu, kisah Tenggelamnya kapal Van Der Wijck juga pernah diangkat ke layar lebar oleh sutradara Sunil Soraya. Film itu diproduksi tahun 2013 dengan dibintangi artis Pevita Pearce, Herjunot Ali, Reza Rahardian dan Randy Danistha.

2 dari 5 halaman

Bukti kecelakaan kapal Van Der Wijck yang masih dengan mudah ditemukan adalah tugu peringatan yang dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda. Monumen itu berlokasi di kompleks Perusahaan Umum (Perum) Perikanan Indonesia Cabang Brondong, Kabupaten Lamongan.

Lokasinya mudah ditemukan yakni berada tepat di belakang Pos Polantas TPI Brondong, Jalan Deandles, jalan poros penghubung Surabaya-Tuban. Bangunan monumennya berdampingan dengan menara sebuah perusahaan seluler.

Monumen tersebut bersusun tiga lantai, sementara di lantai 2 terdapat balkon yang menghadap ke arah laut (utara). Bagunannya sendiri berukuran sekitar 2,5 meter x 3 meter dengan tinggi 10 meter.

3 dari 5 halaman

Monumen itu dibangun sebagai bentuk ucapan terima kasih kepada para nelayan setempat yang telah menolong para korban kecelakaan Kapal Van Der Wijck. Dua buah plakat tertempel di kedua sisi bangunan dengan bahasa Belanda dan Indonesia ejaan lama.

"Tanda Peringatan kepada Penoeloeng-Penoeloeng Waktoe Tenggelamnja Kapal Van Der Wijck DDC 19-20 Oktober 1936," demikian tulisan dalam plakat itu.

Plakat dalam bahasa Indonesia terletak di sisi barat (dari arah laut), sehingga langsung telihat oleh pengunjung. Sementara plakat berbahasa Belanda berada di baliknya (Timur) yang saat itu banyak rerumputan.

"Martinus Jacobus Uytererk Radiotelegrafist Aan Boord S.S Van Der Wijck 20 Oktober 1936 Hij Bleef Getrouw Tot In Den Dood Zijn Nagedachtenis Zij EERE. Zijne Vrienden," demikian tulisan tersebut.

4 dari 5 halaman

Nama Van Der Wijck sendiri sebenarnya nama Gubernur Hindia, Jonkheer Carel Herman Aart van der Wijck (18401914) yang berkuasa 1893-1899. Namanya dijadikan kapal penumpang mewah milik Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM) di Fyenoord, Rotterdam pada 1921. KPM kemudian dinasionalisasi menjadi Pelayaran Indonesia (Pelni).

Saat itu kapal berlayar dengan rute Bali ke Jakarta, menyinggahi Surabaya dan Semarang. Namun usai meninggalkan Tanjung Perak Surabaya, kapal dengan kapten B.C Akkeman mengalami kecelakaan di Teluk Lamong, yang masuk wilayah Kabupaten Lamongan.

"Kita hanya mendapat cerita dari para orang tua kalau pernah terjadi kecelakaan kapal besar. Penumpangnya ditolong oleh para nelayan di sini. Jadi cerita itu sudah dari ayah saya, kejadiannya zaman nenek saya," kata Suhandoyo (38) warga Brondong.

5 dari 5 halaman

Kapal Van der Wijck berdasarkan catatan berkapasitas 1093 penumpang dengan Kelas Utama (VVIP) berkapasitas 60 orang, Kelas Kedua (VIP) berkapasitas 34 orang dan kelas ekonomi berkapasitas 999 orang. Berat kotor (GT) kapal 2.633 ton, berat bersih (nett) 1.512 ton dengan daya angkut 1.801 ton. Panjang kapal 97,5 meter, lebar 13,4 meter dan tinggi 8,5 meter.

Kapal itu saat ini masih berada di kedalaman tengah laut yang konon menurut masyarakat setempat banyak didatangi para pencari harta karun.

Sementara monumen Van Der Wijck kerap mendapat kunjungan masyarakat dari berbagai daerah, termasuk siswa sekolah yang belajar sejarah. Tetapi memang masih belum dilakukan pengelolaan secara serius menjadi sebuah destinasi wisata. [cob]

Baca juga:
Petugas akan Angkat Arca Ganesha Purbakala dari Dieng usai Tahun Baru 2020
GPIB Immanuel, Gereja Tertua di Medan
Menelusuri Jejak Portugis di Gereja Tugu
Gereja Heritage di Malang Jadi Tujuan Wisatawan, Siapkan Misa Natal 8 Kali
Meja Peninggalan Sultan HB VIII di Keraton Yogyakarta Rusak Karena Ulah Pengunjung

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini