Reka Ulang Kasus Mayat ASN Kemen PUPR Dicor, Tersangka Dihajar Keluarga Korban

Senin, 2 Desember 2019 14:01 Reporter : Irwanto
Reka Ulang Kasus Mayat ASN Kemen PUPR Dicor, Tersangka Dihajar Keluarga Korban Tersangka Yudi jalani rekonstruksi pembunuhan. ©2019 Merdeka.com/Irwanto

Merdeka.com - Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Sumatera Selatan menggelar rekan ulang pembunuhan aparatur sipil negara (ASN) Kementerian PU, Aprianita (50) dengan pelaku rekan bisnisnya, Yudi Rama Redianto (45). Kasus ini sempat heboh karena mayat korban dicor para pelaku untuk menghilangkan jejak.

Rekonstruksi digelar di beberapa tempat. Lokasi pertama di kediaman korban di Jalan Dwikora, Kecamatan Ilir Timur I, Palembang. Dilanjutkan di Bank Mandiri Jalan Kapten A Rivai dan di kantor korban di Satker Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah III Palembang, Ditjen Bina Marga, Kemen PUPR. Selanjutnya di dalam mobil yang merupakan tempat eksekusi pembunuhan terhadap korban.

Dalam rekonstruksi tersebut, keluarga korban sempat dibuat emosi. Bahkan, dua orang anggota keluarga memukul tersangka. Peristiwa itu terjadi saat tersangka baru saja turun mobil petugas di lokasi pertama. Keduanya menonjok wajah tersangka Yudi berkali-kali. Beruntung, petugas segera melerai sehingga pengeroyokan tak berlanjut lebih jauh.

Selain pemukulan, korban juga mendapat cacian dari keluarga dan tetangga korban. Mereka kesal melihat tersangka karena berbuat sadis terhadap korban.

Hingga berita ini ditulis, reka ulang masih berlangsung. Belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian.

Diketahui, warga sekitar TPU Kandang Kawat Palembang digegerkan dengan penemuan mayat seorang wanita dalam kondisi terkubur dan dicor di areal kuburan. Jenazah masih mengenakan pakaian lengkap dan sudah membusuk.

Lokasi penemuan berada di antara makam, hanya sekitar 15 meter dari jalan raya. Korban ditemukan di galian sedalam setengah meter dengan kondisi dicor dalam posisi terlentang.

Setelah dilakukan visum, korban bernama Apriyanita (50) ASN pada Kementerian PU Balai Besar Palembang. Keberadaannya tak lagi diketahui sejak 9 Oktober 2019.

Dugaan tersebut berdasarkan keterangan kakak korban, Heriyanto. Dia turut melakukan penggalian bersama jajaran Ditreskrimum Polda Sumsel, Jumat (25/10).

"Saya yakin itu adalah mayat adik saya yang hilang lama. Saya lihat ada ciri-cirinya dan keyakinan sebagai kakak, karena saya sendiri yang menggalinya," ungkap Heriyanto.

Tak lama, polisi meringkus dua pelaku, Yudi dan Ilyas. Yudi merupakan otak pembunuhan dengan membayar ketiga pelaku sebesar Rp15 juta untuk menghabisi nyawa korban.

Motif pembunuhan adalah utang piutang jual beli mobil. Korban menitipkan uang sebesar Rp145 juta kepada pelaku untuk membeli mobil lelang di Jakarta. Ternyata, mobil tersebut keburu terjual sementara uang tersebut terpakai oleh Yudi.

Korban meminta uang itu dikembalikan. Yudi baru membayarnya sebesar Rp50 juta, sementara sisanya atau sebanyak Rp95 juta diminta dicicil. Beberapa hari sebelum kejadian, korban menagih janji pelaku untuk membayar utangnya. Korban saat itu hanya meminta Rp30 juta saja.

Kesal utang ditagih ketika tidak punya uang, pelaku meminta pendapat kepada pamannya, Nopi, untuk menyelesaikan masalah ini. Nopi justru menyarankan korban dibunuh dan dia siap melakukannya dengan imbalan. [ded]

Topik berita Terkait:
  1. Pembunuhan Sadis
  2. Pembunuhan
  3. Palembang
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini