Berpuasa di negeri orang (7)

Ramadan pertama di Eropa, berat tapi nikmat

Sabtu, 20 Juli 2013 16:18 Reporter : Anwar Khumaini
Ramadan pertama di Eropa, berat tapi nikmat Ilustrasi pasangan muslim. ©2012 Merdeka.com/Shutterstock/haider

Merdeka.com - Ramadan di negeri orang memang akan selalu terkenang. Apalagi menjalankan ibadah puasa selama hampir 20 jam dan jauh dengan keluarga. Rasa haus dan lapar selama puluhan jam serasa jadi pemantik keimanan. Itulah yang dialami oleh Ahmad Mukhlason, dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang sedang menyelesaikan PhD-nya di Universitas Nottingham, inggris.

"Di belahan bumi muslim minoritas, puasa 19 jam jauh dari keluarga, sendirian menahan lapar di antara orang-orang yang tidak berpuasa mungkin akan terasa berat, bahkan sangat berat. Tetapi, Tuhan selalu punya rahasia sendiri untuk menyisipkan serpihan-serpihan kebahagiaan dalam hati setiap hambanya," demikian tulis Mukhlason dalam blog pribadinya, seperti dikutip merdeka.com, Sabtu (20/7).

Berbeda dengan di Indonesia, di negara muslim minoritas seperti Inggris tidak ada sama sekali euforia menjelang bulan Ramadan. Hanya ada riuh kecil di antara para muslim di tempat-tempat ibadah yang bersuka cita menyambut datangnya bulan suci ini. "Meskipun tidak ada euforia yang kasat mata, tetapi alhamdulillah masih ada terbesit kebahagiaan yang hadir menghampiri hati kecil ini, dengan datangnya bulan yang sangat mulia ini," tulis pria asal Banyuwangi, Jawa Timur tersebut.

Bulan Ramadlan tahun 2013 ini datang pada saat belahan bumi ujung utara, termasuk benua biru Eropa khususnya Inggris, sedang mengalami musim panas. Siang yang panjang, membuat umat muslim di Eropa harus berpuasa selama hampir kurang lebih 19 jam, atau 5-6 jam lebih lama daripada puasa di Indonesia. Buat sebagian besar orang Eropa, musim panas adalah surga buat mereka. Sinar matahari begitu berharga buat mereka. Mereka biasanya menghabiskan waktu musim panas untuk liburan. Kampus-kampus libur selama kurang lebih 3 bulan selama musim panas. Buat saya, yang paling berat di musim panas adalah menjaga pandangan mata.

"Di musim panas ini, orang-orang pada berlomba-lomba mengumbar aurat. Di tempat-tempat terbuka, banyak sekali orang-orang berjemur dengan pakaian yang minim dan terbuka. Anda bisa membayangkan bagaimana susahnya menahan pandangan mata ketika kita berada di tengah-tengah mereka bukan?," tulis Mukhlason.

Puasa hari pertama tahun 2013 di Inggris ini, kebetulan Mukhlason sedang berada di luar kota Nottingham. Dia sedang mengikuti sekolah musim panas tentang simulasi di Loughborough University (baca: labra). Walaupun, hanya berjarak 20 menit perjalanan dengan kereta api, Mukhlason harus menginap di asrama kampus selama 5 hari. Ada sekitar 50 orang mahasiswa PhD dari berbagai kampus di Inggris, dan beberapa dari luar Inggris yang mengikuti sekolah musim panas ini. Mukhlason satu-satunya yang dari Indonesia.

Setiap 2 jam kuliah ada coffee break. Disediakan kopi, teh, dan snack secara cuma-cuma di dalam kelas. Pada saat semua orang di kelas menikmati coffee break, Mukhlason hanya terduduk sendiri di pojok belakang kelas. "Saya heran, meskipun saya tahu ada 4 orang muslim lainya dari Saudi Arabia, Pakistan, dan Bangladesh rupanya mereka tidak berpuasa. Dalam hati kecil saya berbisik: ” tibake wong arab iki masio awake gede, tapi jebule ora kuat poso”, (meski orang arab badannya gede tapi gak kuat puasa)."

Tetapi akhirnya ada juga beberapa orang yang berempati, mereka mendatangi Mukhlason bertanya kenapa di tidak makan dan minum. Yang berlanjut pada pertanyaan-pertanyaan lebih serius tentang Islam. "Dari raut muka mereka terbaca, mereka kasihan kepada saya kenapa beragama menjadi sedemikian berat itu. Selama hampir 20 jam tanpa makan dan minum, apakah itu bukan sebuah penyiksaan diri?"tulis Mukhlason.

Godaan semakin berat ketika selepas kuliah di hari pertama puasa diadakan formal dinner. Formal dinner adalah salah satu budaya Inggris untuk bersosialisasi setiap ada pertemuan. Dinner-nya dimulai jam 7, sementara Adzan maghrib baru mulai pukul 09.30. Ada menu BBQ dan yang pasti tidak ketinggalan minuman bir dan anggur di setiap meja yang sudah dipesan untuk masing-masing orang.

"Walaupun sebenarnya ingin ikut untuk sekadar bersosialisasi. Tetapi, akhirnya, saya memutuskan untuk tidak bergabung bersama mereka," ujarnya. [mtf]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini