Purbalingga gelar Festival syukuri berkah mata air Gunung Slamet

Senin, 11 September 2017 11:01 Reporter : Abdul Aziz
Purbalingga gelar Festival syukuri berkah mata air Gunung Slamet Festival Gunung Slamet. ©2017 Merdeka.com/Abdul Aziz

Merdeka.com - Sepekan mendatang, Kabupaten Purbalingga kembali menggelar Festival Gunung Slamet (FGS) yang dipusatkan di Desa wisata Serang, Kecamatan Karangreja, Kamis hingga Sabtu. Festival akan diawali dengan prosesi pengambilan air di sumber mata air Sikopyah, Dusun Kaliurip, Desa Serang sebagai gambaran kehidupan warga yang tidak terlepas dari mata air di bawah kaki Gunung Slamet.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Sri Kuncoro mengatakan FGS untuk melestarikan tradisi warga dalam ruwatan agung. Selama ini, tradisi itu juga mengangkat citra pariwisata Purbalingga khususnya di Desa Wisata Serang.

Dia bercerita, setelah FGS I digelar tahun 2015, kunjungan wisatawan ke desa Serang naik hingga 400 persen. Begitu pula saat FGS ke-II tahun 2016 silam, kunjungan wisata ke Purbalingga semakin meningkat.

"Festival memberikan dampak ekonomi warga masyarakat dan tentunya mengangkat citra Purbalingga sebagai kota wisata," kata Sri Kuncoro.

Prosesi pengambilan air Si Kopyah akan diikuti ratusan warga desa setempat. Mereka terdiri dari para ibu-ibu, remaja putri dan para pemuda akan membawa air itu dengan menggunakan lodhong (tempat air dari bambu). Setelah didoakan oleh sesepuh desa setempat, para pembawa lodhong menuju mata air Sikopyah yang berjarak sekitar 1,2 kilometer dari dukuh itu.

"Setelah air diambil, mereka akan kembali turun menuju masjid selanjutnya menuju balai desa. Air dalam lodhong itu disemayamkan hingga Sabtu (23/9) untuk dibawa ke kawasan wisata Lembah Asri yang juga berada di desa tersebut. Jarak dari titik pemberangkatan menuju balai desa lumayan jauh, mencapai 3 kilometer," kata Sri Kuncoro.

Sri Kuncoro menjelaskan, rangkaian FGS III dimulai dengan ritual pengambilan air Tuk Sikopyah, ritual nyidhuk banyu, estafet ngisi banyu, persemayaman air Si Kopyah, dan pada malam harinya digelar Dopokan bareng serta pentas musik keroncong.

Pada Jumat (22/9) pagi hingga siang digelar perang buah tomat di rest area Lembah Asri Serang. Kemudian, pentas seni kuda lumping dan pada malam harinya digelar Akustik Gunung yang menghadirkan artis ibu kota.

"Perang buah tomat, akan menjadi tontonan unik. Tontonan ini mirip yang digelar di sebuah kota kecil di Bunoi, Spanyol. Hanya saja, jika perang tomat di Spanyol menghabiskan tomat hingga 16 ton, namun di Desa Serang, hanya disiapkan tomat sekitar tiga kuintal," ujarnya.

Esok harinya, Sabtu (23/9) kegiatan dipusatkan di rest area Serang Karangreja berupa kirab air Si Kopyah dan hasil bumi, ruwatan agung, rebutan tumpeng dan hasil bumi. Sabtu sore akan digelar pentas seni budaya, dan malam harinya pentas wayang kulit. [rzk]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini