Puasa 18 jam di Inggris, Desty rindukan suara azan di masjid

Jumat, 26 Juni 2015 08:23 Reporter : Iqbal Fadil
Puasa 18 jam di Inggris, Desty rindukan suara azan di masjid Membaca Alquran di Masjid Istiqlal. ©2015 merdeka.com/muhammad luthfi rahman

Merdeka.com - puasa tahun ini menjadi puasa yang penuh tantangan bagi Desty Lisnawaty (25), seorang WNI ibu rumah tangga yang juga mahasiswi paruh waktu di New College. Untuk pertama kalinya, dia berpuasa di negeri orang dengan lama 18 jam.

Desty yang tinggal di Swindon (115 km dari London) merasakan suasana yang berbeda. Waktu subuh pukul 02.40 dan magrib baru tiba pukul 21.30, sehingga rata-rata dalam sehari waktu berpuasa yang harus dijalani selama 18 jam. Apalagi, di kota ini WNI dapat dihitung dengan jari. Dan sebagian besar merupakan mahasiswa pasca sarjana di Cranfield University, termasuk suaminya.

"Waktu sebelum menjalankan ibadah puasa 18 jam, sempat berpikir akan susah. Tapi ternyata ketika dijalankan, alhamdulillah tidak seperti yang dibayangkan. Mungkin ini karena cuaca di sini tidak sepanas Jakarta. Sekalipun matahari terik, udara terasa sejuk," tutur Desty kepada merdeka.com, Jumat (26/6).

Yang menarik, kata Desty, teman-temanya yang non muslim di kampus New College, Swindon, juga sangat menghargai dirinya yang berpuasa. "Ketika akan makan, mereka meminta maaf dan makan sambil ditutup karena ingin menghargai saya yang berpuasa. Pernah suatu waktu, mereka malah memberi makanan untuk saya berbuka. Padahal, mereka jelas tidak berpuasa. Tapi begitulah kehidupan di sini," ujarnya.

Di Swindon, lanjut Desty, mencari makanan halal lumayan sulit sebab pilihannya terbatas. Yang paling banyak adalah kebab. Meski begitu, toko yang menjual produk halal cukup banyak. Sebenarnya, di kota ini ada 2 masjid yakni Masjid Swindon dan Masjid Bangladesh. Dan toko-toko halal tersebut terletak tidak jauh dari masjid. Namun, jarak menuju masjid cukup jauh dari tempat tinggalnya.

"Kalau ditanya apa yang dirindukan dari Indonesia adalah buka bersama keluarga dan teman, karena di sini saya hanya berbuka berdua dengan suami. Belum lagi, tidak ada suara azan yang terdengar sebagai pertanda buka puasa. Palingan saya hanya menyetel waktu salat di komputer sehingga saat magrib tiba maka otomatis suara azan terdengar dari komputer," imbuhnya.

Selain kangen suara azan dan buka bersama dengan keluarga, Desty mengaku merindukan salat tarawih berjamaah di masjid atau musala. "Jika di Jakarta, salat di musala adalah hal yang mudah. Selain dekat dengan rumah, waktunya pun tidak terlalu malam. Tetapi hal tersebut cukup sulit diterapkan di sini. Lokasi masjid dengan rumah cukup jauh, sekitar 25 menit jalan kaki. Selain itu waktu salat isya dan tarawih adalah 23.30 sehingga terlalu malam bagi saya untuk berada di luar rumah," kata dia.

Untuk mengurangi rasa kangennya terhadap tanah air, Desty yang gemar memasak ini, selalu menyiapkan sendiri makanan untuk berbuka dan sahur. "Walaupun rasa masakan tersebut tentu saja berbeda karena tidak semua bumbu bisa mudah diperoleh. Tapi saya tetap bersyukur bisa menyalurkan hobi masak di sini dengan menyiasati keterbatasan bumbu dan bahan," pungkasnya. [bal]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini