PT TWC Latih 1.000 Siswa SMA DIY, Perkuat Masyarakat Tangguh Bencana
PT Taman Wisata Candi (TWC) atau InJourney Destination Management (IDM) melatih seribu siswa SMA di DIY untuk mewujudkan masyarakat tangguh bencana, bertepatan dengan peringatan 20 tahun Gempa Yogyakarta.
PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko (TWC) atau InJourney Destination Management (IDM) menyelenggarakan pelatihan tanggap bencana kepada 1.000 siswa SMA di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Inisiatif ini bertujuan untuk mewujudkan masyarakat tangguh bencana, khususnya di kawasan rawan bencana di wilayah tersebut.
Program yang diberi nama “InJourney Community Care” ini telah berjalan sejak Januari hingga Mei 2026. Rangkaian materi intensif yang diberikan mencakup pemahaman risiko gempa bumi, teknik penyelamatan, evakuasi, hingga simulasi penanganan darurat.
Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen IDM untuk menghadirkan destinasi pariwisata yang tidak hanya berorientasi pada hiburan, tetapi juga memiliki nilai edukasi, keberlanjutan, dan ketangguhan masyarakat. Pelatihan ini juga bertepatan dengan Peringatan 20 Tahun Gempa Yogyakarta yang diselenggarakan pada hari Sabtu (23/5) ini.
InJourney Community Care: Edukasi Mitigasi Bencana bagi Generasi Muda
Direktur Operasi IDM, Indung Purwita Jati, menjelaskan bahwa sasaran pelatihan adalah siswa dari sekolah-sekolah di Kabupaten Sleman, Bantul, Gunungkidul, dan Kota Yogyakarta. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada keberadaan mereka di kawasan yang memiliki potensi kerawanan bencana.
Melalui program “InJourney Community Care”, para siswa mendapatkan bekal pengetahuan dan keterampilan penting dalam menghadapi situasi darurat. Materi yang disampaikan meliputi pemahaman mendalam mengenai potensi bencana gempa bumi, teknik penyelamatan diri, prosedur evakuasi yang aman, serta simulasi penanganan darurat yang realistis.
Indung Purwita Jati menegaskan, “Keterlibatan perusahaan dalam peringatan ini merupakan bagian dari komitmen untuk menghadirkan destinasi yang tidak hanya berorientasi pada pariwisata, tetapi juga memiliki nilai edukasi, keberlanjutan, dan ketangguhan masyarakat.” Beliau menambahkan bahwa kawasan destinasi wisata memiliki peran strategis sebagai ruang edukasi publik, termasuk dalam membangun kesadaran mitigasi bencana.
Kolaborasi dengan Kemenko PMK dan berbagai pihak diharapkan dapat mendorong lahirnya masyarakat yang semakin tangguh, khususnya generasi muda. Tujuannya agar mereka memiliki pemahaman yang baik mengenai kesiapsiagaan dan mampu menjadi bagian dari upaya pengurangan risiko bencana di lingkungan sekitarnya.
Peringatan 20 Tahun Gempa Yogyakarta: Momentum Refleksi dan Penguatan Kesiapsiagaan
IDM berkolaborasi dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) menyelenggarakan Peringatan 20 Tahun Gempa Yogyakarta. Acara penting ini bertempat di Lapangan Garuda, kompleks Candi Prambanan, Sleman, pada hari Sabtu (23/5).
Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial Kemenko PMK, Lilik Kurniawan, menyampaikan bahwa peringatan dua dekade gempa Yogyakarta menjadi pengingat penting. Hal ini menyoroti besarnya risiko bencana yang dihadapi kawasan Yogyakarta dan berbagai wilayah di Indonesia.
“Selain menjadi ruang refleksi atas peristiwa gempa tahun 2006 yang meninggalkan dampak besar bagi masyarakat, momentum ini juga diarahkan sebagai sarana edukasi publik untuk membangun memori kolektif dan memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana di masa mendatang,” ujar Lilik.
Kegiatan ini mengadopsi pendekatan kolaboratif pentahelix yang melibatkan berbagai pihak secara langsung. Unsur-unsur yang terlibat antara lain pemerintah, akademisi, dunia usaha, media, dan masyarakat, menunjukkan semangat gotong royong dalam penanggulangan bencana.
Membangun Budaya Kesiapsiagaan dan Ekonomi Lokal Pascabencana
Rangkaian kegiatan dalam Peringatan 20 Tahun Gempa Yogyakarta sangat beragam dan komprehensif. Ini meliputi Kunjungan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), Pasar Penyintas, Apel Kesiapsiagaan, Gelar Peralatan Penanggulangan Bencana, hingga Diskusi Panel yang menghadirkan berbagai pemangku kepentingan terkait kebencanaan.
Berbagai agenda tersebut dirancang untuk memperkuat literasi kebencanaan masyarakat sekaligus memperlihatkan kapasitas dan kesiapan peralatan penanggulangan bencana yang dimiliki lintas instansi. Hal ini penting untuk memastikan respons yang cepat dan efektif saat terjadi bencana.
Selain itu, Pasar Penyintas juga menjadi ruang promosi yang vital bagi produk-produk UMKM penyintas gempa Yogyakarta 2006. Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya pemulihan dan penguatan ekonomi masyarakat pascabencana, memberikan dukungan nyata bagi mereka yang terdampak.
Lilik Kurniawan berharap kegiatan ini mampu memperkuat koordinasi lintas sektor, meningkatkan kesiapan sumber daya dan peralatan penanggulangan bencana. Lebih lanjut, ia juga mendorong masyarakat agar tidak hanya menjadi pihak terdampak, tetapi juga menjadi subjek yang proaktif dan tangguh dalam meminimalisir risiko bencana. “Kita ingin membangun budaya kesiapsiagaan yang hidup di tengah masyarakat. Pengurangan risiko bencana tidak dapat dilakukan sendiri oleh pemerintah, tetapi membutuhkan kolaborasi semua pihak,” tegas Lilik.
Sumber: AntaraNews