Prasasti nama tokoh kung fu ditemukan dekat situs wajan raksasa

Senin, 2 Mei 2016 17:26 Reporter : Parwito
Prasasti nama tokoh kung fu ditemukan dekat situs wajan raksasa Marmer bertuliskan tokoh kungfu China. ©2016 merdeka.com/parwito

Merdeka.com - Penemuan arkeologi di sekitar situs wajan raksasa di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, terus bermunculan. Senggono Harsono (57), warga Tanunganom nomor 7, Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo juga menemukan prasasti di sekitar lokasi penggalian wajan raksasa, di Jalan MT Haryono 56, Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo.

Kasi Sejarah Purbakala dan Nilai Tradisi Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Dikbudpora) Purworejo, Eko Riyanto, kepada merdeka.com, Senin (2/5), mengatakan, batu bertulis itu berbahan dasar marmer murni. Penemuan itu langsung diserahkan ke Museum Tosan Aji, Kabupaten Purworejo, buat diteliti.

"Batu marmer sebidang itu ukurannya dengan panjang 30 sentimeter x 15 sentimeter, dan tebal satu sentimeter itu bertuliskan Lo Tjing Tie, dan aksara Belanda, Der Chinese Van Bang, pada sisi lainnya," kata Eko.

Eko mengatakan, sang penemu langsung menyerahkan kepadanya penemuan itu. Pihaknya akan meneliti dan menelusuri jejak dan sejarah batu itu.

"Kita dan pihak museum ingin mengetahui apakah ada kaitan sejarah marmer bertulis itu, dengan wajan raksasa yang ditemukan sebelumnya. Pasalnya, lokasi penemuan prasasti di petak tanah yang bersebelahan dengan temuan wajan itu," ujar Eko.

Eko menyampaikan, dari hasil penelusuran sementara, Lo Tjing Tie dikenal sebagai tokoh silat Tionghoa tersohor.

"Dia (Lo Tjing Tie) tinggal di Parakan, Temanggung, pada masa tahun 1800-an. Sejarah berkata jika dulu ada pendekar kung fu terkenal bernama Lo Tjing Tie atau Louw Djing Tie," ucap Eko.

Soal wajan raksasa, Eko menduga itu peninggalan kebudayaan Cina pada era 1800-an, setelah ada perpindahan besar-besaran etnis Tionghoa dari Desa Jono, Kecamatan Bayan, ke Kecamatan Kutoarjo.

"Fakta sejarah lagi, sekitar 1825-1827 terjadi Geger Pecinan. Dulu ada perselisihan antara etnis Tionghoa menetap di Jono dengan pribumi. Akhirnya etnis itu diusir. Sebagian ke Parakan dan sisanya di Kutoarjo," tambah Eko.

Saat ini, batu marmer dan wajan raksasa itu sudah diamankan oleh pihak Museum Tosan Aji. Benda itu akan diteliti bersama dengan Balai Pelestarian Benda Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah, guna kepentingan studi sejarah dan kebudayaan. [ary]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini