Prabowo Berduka atas Wafatnya Mbah Moen: Kita Kehilangan Teramat Sangat

Selasa, 6 Agustus 2019 10:44 Reporter : Sania Mashabi
Prabowo Berduka atas Wafatnya Mbah Moen: Kita Kehilangan Teramat Sangat Mbah Moen. ©2016 Merdeka.com/Muhammad Luthfi Rahman

Merdeka.com - Juru bicara Prabowo Subianto, Dahnil Anzhar Simanjutak mengucapkan duka cita atas meninggalnya Kiai sekaligus politikus senior Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Maimun Zubair atau Mbah Moen pagi ini (6/8) di Mekkah. Menurutnya Mbah Moen adalah sosok ulama yang karismatik.

"Kami berduka cita atas wafatnya Mbah Moen, beliau ulama yang karismatik dan banyak diikuti umat, di mata saya beliau ulama yang mampu membimbing umat untuk tetap merawat KeIslaman yang harmoni dengan keIndonesiaan dan kita kehilangan teramat sangat," kata Dahnil pada wartawan, Selasa (6/8).

Dia pun mengajak seluruh umat Islam untuk melaksanakan surat gaib dan mendoakan Mbah Moen. Dahnil berharap Mbah Moen bisa mendapatkan husnul khotimah.

"Saya mengajak, khususnya umat Islam mari kita doakan beliau dengan menggelar shalat ghaib di masjid-masjid dan pesantren diseluruh Indonesia," ucapnya.

Dikutip dari situs Nahdlatul Ulama, Mbah Mun merupakan putra dari Kiai Zubair, Sarang, seorang alim dan faqih. Dia juga murid dari Syaikh Sad al-Yamani serta Syaikh Hasan al-Yamani al-Makky.

Beliau mengaji di Pesantren Lirboyo, Kediri, di bawah bimbingan Kiai Abdul Karim. Selain itu, selama di Lirboyo, ia juga mengaji kepada Kiai Mahrus Ali dan Kiai Marzuki.

Pada umur 21 tahun, Maimun Zubair melanjutkan belajar ke Makkah Mukarromah. Perjalanan ini, didampingi oleh kakeknya sendiri, yakni Kiai Ahmad bin Syuib. Di Makkah, Kiai Maimun Zubair mengaji kepada Sayyid Alawi bin Abbas al-Maliki, Syekh al-Imam Hasan al-Masysyath, Sayyid Amin al-Quthbi, Syekh Yasin Isa al-Fadani, Syekh Abdul Qodir al-Mandaly dan beberapa ulama lainnya.

Kiai Maimun juga meluangkan waktunya untuk mengaji ke beberapa ulama di Jawa, di antaranya Kiai Baidhowi, Kiai Ma'shum Lasem, Kiai Bisri Musthofa (Rembang), Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Muslih Mranggen (Demak), Kiai Abdullah Abbas Buntet (Cirebon), Syekh Abul Fadhol Senori (Tuban), dan beberapa kiai lain. Kiai Maimun juga menulis kitab-kitab yang menjadi rujukan santri. Di antaranya, kitab berjudul al-ulama al-mujaddidun.

Selepas kembali dari tanah Hijaz dan mengaji dengan beberapa kiai, Kiai Maimun kemudian mengabdikan diri untuk mengajar di Sarang, di tanah kelahirannya. Pada 1965, Kiai Maimun kemudian istiqomah mengembangkan Pesantren al-Anwar Sarang. Pesantren ini, kemudian menjadi rujukan santri untuk belajar kitab kuning dan mempelajari turats secara komprehensif.

Selama hidupnya, Kiai Maimun memiliki kiprah sebagai penggerak. Ia pernah menjadi anggota DPRD Rembang selama 7 tahun. Selain itu, beliau juga pernah menjadi anggota MPR RI utusan Jawa Tengah. Kini, karena kedalaman ilmu dan kharismanya, Kiai Maimun Zubair diangkat sebagai Ketua Dewan Syuro Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Politik dalam diri Kiai Maimun bukan tentang kepentingan sesaat, akan tetapi sebagai kontribusi untuk mendialogkan Islam dan kebangsaan. Demikianlah, Kiai Maimun merupakan seorang faqih sekaligus muharrik, pakar fiqh sekaligus penggerak. [ded]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini