Potret Kemiskinan di RI, Ada Warga Tinggal di Gubuk Reot Hingga Kandang Kambing

Senin, 9 September 2019 06:00 Reporter : Mardani
Potret Kemiskinan di RI, Ada Warga Tinggal di Gubuk Reot Hingga Kandang Kambing Dua Lansia di Karawang Hidup di Kandang Kambing. ©2019 Merdeka.com/Bram Salam

Merdeka.com - Pemerintah menyatakan angka kemiskinan di tanah air menurun. Hal ini berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat jumlah penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan di Indonesia pada Maret 2019 mencapai 25,14 juta orang atau sebesar 9,41 persen. Angka ini turun sebesar 0,53 juta orang dibandingkan September 2018.

"Persentase penduduk miskin pada Maret 2019 sebesar 9,41 persen menurun 0,25 persen poin terhadap September 2018," kata Kepala BPS Suhariyanto di Gedung BPS, Jakarta, Selasa (15/1) lalu.

Meski demikian, kemiskinan masih tetap ada di tanah air. Masih ada warga negara yang hidup di dalam kemiskinan. Mereka sampai kesulitan atau bahkan tak mampu mencukupi kebutuhan hidupnya.

Mirisnya, saking sulitnya mereka sampai-sampai tinggal di tempat tak layak. Berikut ulasannya:

1 dari 5 halaman

2 Lansia Tinggal di Kandang Kambing dan Sering Kelaparan

Mak Uka (80) dan Mak Icih (70), warga Kampung Krajaan Pawanda RT 0/04, Desa Medang Asem, Jayakerta, Karawang terpaksa harus hidup di kandang kambing. Di kandang berbahan bambu itu, kakak beradik itu sudah tinggal selama puluhan tahun.

"Kalau tidur bareng sama kambing dan malam hari tidak ada penerangan hanya cahaya lampu minyak," kata Mak Uka saat bercerita kepada merdeka.com, Jumat (6/9).

Selama ini, Mak Icih dan Mak Uka dibantu warga untuk makan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sesekali, tetangga menawarkan pekerjaan dengan upah seikhlasnya.

Warga, Ayu Retna Rassani (24) bercerita tidak ada bantuan apapun dari pemerintah kepada kedua lansia tersebut. Keduanya sempat bercerita kepada Ayu. Mereka kadang-kadang mereka kelaparan karena tidak ada bahan makanan yang bisa dimasak untuk sekedar mengganjal perut.

"Tidak jarang keduanya kelaparan karena tak ada uang, " ungkap Ayu.

2 dari 5 halaman

Mak Erat Tinggal di Gubuk Bambu

Mak Erat, perempuan lansia berumur 91 tahun Warga Dusun Telukbunder RT 02 RW 01, Desa Dwi Sari, Kecamatan Rengasdengklok, Karawang, menempati gubuk bambu berukuran tiga kali dua meter beratapkan genteng yang sebagian sudah ambruk dan berlantaikan tanah. Di gubuk itu, Mak Erat tinggal bersama anak dan satu cucunya.

Mak Erat harus tidur di dapur yang menyatu dengan seluruh isi rumah yang jauh dikatakan layak huni. Gubuk tersebut adalah harta satu-satunya peninggalan suami tercinta. Jika hujan, bagian atap bocor, jika panas sinar matahari tembus langsung ke dalam gubuk.

"Jangankan untuk bangun gubuk, untuk makan sehari-hari juga susah," kata anak Mak Erat, Firmansyah, Jumat (23/11/2018).

Untuk kebutuhan hidupnya, Mak Erat mengandalkan hasil jerih payah cucunya yang bekerja secara serabutan dengan penghasilan tidak menentu bahkan terkadang pulang tak membawa uang.

Dede Komara, tetangga Mak Erat, mengatakan sudah menyampaikan kepada pemerintah desa soal kondisi Mak Erat. Namun belum ada tanggapan.

3 dari 5 halaman

Bah Ajum Tinggal di Gubuk Plastik

Kondisi serupa juga dialami Bah Ajum (60). Pria renta ini harus menghabiskan sisa hidupnya di gubuk reyot tak layak setelah istri yang dicintainya meninggal dunia. Warga Desa Dwi Sari, Kecamatan Rengasdengklok, Karawang, itu tinggal di gubuk ukuran 1,5 x 2 meter yang terbuat dari bambu sebagai penyangga dan penutup dari kain dan terpal plastik.

Bah Ajum yang daya tahan tubuhnya kian memburuk tidak punya pilihan lain. Dia terpaksa menempati saung reyot miliknya setelah rumah kayu ambruk pada Agustus lalu.

"Terpaksa tinggal di saung reyot sejak gubuk ambruk pada Agustus lalu," kata Bah Ajum.

Bah Ajum memiliki anak yang paling tua bernama Narsum. Anaknya itu 'diasingkan' tak jauh dari gubuknya tinggal karena mengalami gangguan jiwa 20 tahun terakhir. Sejak tamat SD, Narsum mengalami panas dan hingga kini mengalami gangguan jiwa.

Narsum tak pernah mendapat pengobatan karena kemiskinan yang diderita keluarga Bah Ajum. Warga berharap Bah Ajum memperoleh bantuan karena kini tak punya apa-apa lagi.

4 dari 5 halaman

Satu Keluarga Tinggal di Gubuk Reyot yang Gelap Gulita

Satu keluarga di Dusun Kedungwungu Barat, Desa Pinangsari, Kecamatan Ciasem, Subang yang terdiri dari suami, istri dan tiga orang anak tinggal di rumah yang nyaris ambruk. Kondisi rumah di RT04/RW07 ini tidak layak huni. Ditambah tak ada penerangan listrik.

Dinding bambu sudah lapuk dimakan usia. Bahkan kini sebagian atap bangunan di sisi sebelah kanan roboh. Satu bagian dindingnya jebol.

"Rumah layaknya gubuk ini, sejak dibangun 30 tahun lalu, tak pernah tersentuh perbaikan," kata Rakim, di rumahnya, Senin (26/8).

Tak jarang, saat hujan deras atap tiba-tiba roboh. Langit-langit di kamar tidur yang jebol dan hanya ditutupi plastik bekas. Supaya air hujan tidak langsung turun ke tempat tidur anak-anak. Kondisi rumahnya itu sudah lama rusak karena dimakan usia dan faktor cuaca. Keterbatasan biaya membuatnya tidak lagi mampu memperbaiki rumahnya meski hampir roboh.

5 dari 5 halaman

Janda Tua di Bali Tinggal di Gubuk & Makan Nasi Garam

Masuda (70), janda yang tinggal di Dusun Baluk Rening, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, Bali, tinggal di gubuk reot dan sakit-sakitan. Masuda tinggal dengan cucunya yang juga yatim piatu dan dirawatnya sejak kecil di gubuk reot tersebut. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Masuda hanya bisa berjualan cabai dan makanan kecil di rumahnya. Terkadang dia juga membuat sapu lidi dan berjualan kayu bakar.

"Sejak saya menikah, suami saya tidak memiliki tanah. Namun jika diberikan bantuan bedah rumah, adik saya memberikan tanah ini untuk ditempati," jelas wanita yang sudah renta ini, di Jembrana, Kamis (26/2/2015) lalu.

Dikatakannya dalam sehari belum tentu dia mendapatkan uang. Sehingga dia hanya bisa memanfaatkan beras miskin yang didapatkannya, dan dicampur dengan jagung atau ketela untuk menghemat beras.

"Kadang kami makan nasi dengan garam saja, kadang pakai sayur, itupun kalau punya uang. Cucu saya harus makan nasi dan bekal kalau mau sekolah, kalau tidak, dia nangis," ujar Masuda lirih.

Masuda mengaku pasrah dengan kondisi hidupnya sekarang ini. Dia hanya berharap tidak sampai sakit keras seperti yang dialami suaminya, karena dia takut tidak ada yang merawatnya. [dan]

Baca juga:
Cerita Miris 2 Lansia di Karawang, Tinggal di Kandang Kambing dan Sering Kelaparan
Puan Pastikan Kenaikan Iuran BPJS Tak Berdampak Pada Peningkatan Angka Kemiskinan
Viral Ibu Hamil Ditandu di Lebak, Perbaikan Jalan Terkendala Pembebasan Lahan
Gara-Gara Jalan Rusak, Perempuan Hamil di Lebak Terpaksa Ditandu ke Puskesmas
Dampak Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan, Antara Defisit dan Kemiskinan
Iuran BPJS Naik, Wali Kota Solo Khawatir Bahaya Laten Kemiskinan

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini