Polri Beberkan Ciri-Ciri Orang Terpapar Paham Ekstremisme dan Terorisme

Rabu, 26 Januari 2022 19:50 Reporter : Nur Habibie
Polri Beberkan Ciri-Ciri Orang Terpapar Paham Ekstremisme dan Terorisme Ilustrasi Teroris. ©shutterstock.com/Marijus Auruskevicius

Merdeka.com - Polri menjelaskan ada sejumlah ciri-ciri, apabila seseorang terpapar paham ekstremisme dan terorisme. Hal ini disampaikan oleh Direktur Keamanan Negara (Kamneg) Badan Intelijen dan Keamanan (BIK) Polri Brigjen Umar Effendi dalam acara dalam Halaqah Kebangsaan MUI.

"Berdasarkan hasil pengamatan dan penelitian serta studi kasus yang terjadi, terdapat beberapa ciri-ciri apabila seseorang individu ataupun komunitas yang telah terpapar paham ekstremisme dan terorisme," kata Umar, Rabu (26/1).

Ia menyebut, mereka yang terpapar paham terorisme akan menunjukan sikap maupun pemikiran yang intoleran yaitu tidak mau menghargai pendapat dan keyakinan orang lain.

"Tetapi kalau dalam diskusi internal kita ada bantah-bantahan enggak apa-apa pak, jangan jadi dianggap baru diskusi, ngotot-ngototan, wah kamu intoleran. Kemudian fanatik, selalu merasa benar sendiri dan menganggap yang lain salah. Berikutnya adalah eksklusif, memisahkan dan membedakan diri dari kelompok pada umumnya," sebutnya.

"Yang berikutnya adalah revolusieoner menghendaki adanya perubahan kehidupan, atau pemerintah secara cepat dan drastis dengan cara kekerasan atau pemaksaan kehendak. Inilah kira-kira ciri-ciri yang mengarah ekstremisme dan teror tadi," sambungnya.

Ia mengungkapkan, untuk menanggulangi ekstremisme dan terorisme tersebut. MUI telah melakukan optimalisasi Islam Washatiyah.

"Yang pertama, memahami moderasi dalam beragama tanpa melanggar syariat agama. Yakni menerapkan cara pandang dan bersikap dalam kehidupan beragama yang melindungi martabat kemanusiaan, membangun kemaslahatan umat berlandaskan prinsip adil, berimbang dan menaati konstitusi sebagai kesepakatan berbangsa," ungkapnya.

Selanjutnya, mensyukuri kebinekaan sebagai anugerah dari tuhan atau Allah SWT, serta pentingnya wawasan kebangsaan dan wawasan keagamaan berdasarkan UUD 1945 dan Pancasila.

"Ketiga ikut menjadi penggerak yang mampu mengajak umat dalam mencegah berkembangnya paham radikalisme dan terorisme," jelasnya.

"Yang keempat selalu bertabayun dan mampu memfilter informasi yang diterima, sehingga tidak mudah terprovokasi atau ikut menyebarkan berita atau konten hoaks yang menyesatkan umat," sambungnya.

2 dari 2 halaman

Pelaku Teror Satu Keluarga

Selain itu, untuk aksi teror yang dilakukan oleh para pelaku teror di Indonesia berbeda dengan negara lainnya. Karena, di Indonesia dalam melakukan aksinya itu bisa dilakukan oleh satu keluarga.

"Di negara lain itu pelaku teror mungkin masih tidak bersatu dalam keluarga, mungkin ada yang anak-anak, mungkin ada yang perempuan, ada dewasa. Tapi di Indonesia ini sudah terjadi pelaku teror ini satu keluarga lengkap bapak, ibu, anak. Ini perlu menjadi perhatian kita semua," paparnya.

"Di negara lain sepertinya belum ada, di Indonesia sudah ada. Siapa kira-kira jadi sasaran BPET (Badan Penanggulangan Ekstremisme dan Terorisme) ini salah satunya ya ibu-ibu yang di rumah yang waktu luang pegang gadget, buka sana sini. Akhirnya terpapar, ini salah satu menjadi perhatian kita nanti ke depan," tutupnya. [eko]

Baca juga:
Polri Gandeng Pegiat Sosial Media Suarakan Kontra Naratif Paham Radikalisme
BNPT: Mahasiswa dan Generasi Muda Rentan Terpapar Radikal
BNPT Awasi 600 Akun Media Sosial Berpotensi Sebar Paham Radikal
Kasad Jenderal Dudung: Kelompok Radikal Sudah Ada di Kalangan Pelajar
Penjelasan BNPT Soal Serangan 'Pintar 10-F' Pemicu Radikalisme
BNPT: Garut Daerah dengan Potensi Radikalisme Tinggi

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini