Polisi Gelar Perkara Kasus Penghinaan Wali Kota Risma, Ini Hasilnya

Selasa, 11 Februari 2020 20:32 Reporter : Erwin Yohanes
Polisi Gelar Perkara Kasus Penghinaan Wali Kota Risma, Ini Hasilnya Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Trunoyudo Wisnu Andiko. ©2020 Merdeka.com/Erwin Yohanes

Merdeka.com - Polisi melakukan gelar perkara atas nasib Zikria Dzatil, penghina Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Sebab, setelah Risma mencabut laporannya, polisi tidak serta merta menghentikan kasus tersebut. Lalu apa hasil gelar perkara tersebut?

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Trunoyudo Wisnu Andiko mengatakan, ada dua hal yang dibahas dalam gelar perkara tersebut. Yakni, masalah penghinaan dan undang-undang ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik).

"Gelar perkara ini kan salah satu teknik untuk melakukan pengawasan dan menjaga quality control untuk prosedural serta profesionalisme penyidik," katanya, Selasa (11/2).

Dikonfirmasi terkait dengan hasil gelar perkara kasus yang membelit Zikria itu, Kombes Pol Truno mengaku, ada rekomendasi yang telah dihasilkan dari gelar perkara itu. Namun sayang, ia enggan merinci apa rekomendasi yang dihasilkan dari proses gelar perkara tersebut.

"Hasilnya tentunya kembali lagi kepada otoritas kewenangan penyidik. Nanti kita tunggu hasil yang sudah kita tentukan di hasil gelar perkara itu kan ada beberapa rekomendasi dan lain-lain itu nanti otoritas yang kita kembalikan kepada penyidik Polrestabes Surabaya," tegasnya.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya AKBP Sudamiran juga masih enggan membuka rekomendasi hasil gelar perkara yang dilakukan di Polda Jatim. Ia berlasan, belum melaporkan hasil gelar perkara itu pada pimpinannya.

Namun ia memastikan, jika berdasarkan hasil gelar perkara di Polda Jatim ini, penyidikan yang dilakukan oleh pihaknya sudah dianggap benar.

"Kita sudah sesuai tahapan yang benar. Nanti akan kita tindaklanjuti. Ini kan resmi hasil ini belum kita laporkan pada pimpinan. Intinya salah satu poin proses tahapan penyidikan yang dilakukan penyidik Satreskrim Polrestabes Surabaya sudah melalui tahapan yang benar," tandasnya.

Sebelumnya, Zikria Dzatil hampir seminggu lebih mendekam di tahanan Mapolrestabes Surabaya. Sebelumnya, warga asal Perumahan Mutiara Bogor Raya Blok E6/24, Kelurahan Katulampa, Kecamatan Kota Bogor itu dijemput tim Unit Resmob Satreskrim Polrestabes Surabaya dari rumahnya.

Ibu rumah tangga itu diburu Satreskrim Polrestabes Surabaya setelah mendapat laporan dari Pemkot Surabaya pada 21 Januari 2020. Saat dilakukan penangkapan di rumahnya, ponsel yang dijadikan alat bukti, sempat tidak ditemukan. Sebab, ponsel tersebut telah direset untuk menghilangkan postinganya. Setelah menjalani pemeriksaan, akhirnya ditetapkan sebagai tersangka. Sejumlah barang bukti yang diamankan antara lain, dua unit handphone dan 3 buah capture postingan yang diunggah di akun Facebook-nya bernama Zikria Dzatil.

Dalam perkara ini, Zikria dijerat Pasal 45A ayat (2) Jo Pasal 28 ayat (2) dan Pasal 45 ayat (3) Jo Pasal 27 ayat (3) UU Nomor 19 tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) . Adapun ancaman kedua pasal ITE itu masing-masing hukumannya adalah 6 tahun dan 4 tahun penjara. Tersangka juga dijerat Pasal 310 KUHP ayat (1) dan (2) tentang pencemaran nama baik. Ancamannya yakni penjara 1 tahun 4 bulan atau 9 bulan penjara. [ded]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini