Polisi Dituding Rasis saat Tangkap Mahasiswi Papua di Tebet

Senin, 2 Desember 2019 15:32 Reporter : Nur Habibie
Polisi Dituding Rasis saat Tangkap Mahasiswi Papua di Tebet Aksi pemuda Papua tuntut referendum. ©2019 Merdeka.com/Iqbal Nugroho

Merdeka.com - Pengacara Mahasiswa Papua, Tigor Hutapea mengatakan, ada ucapan rasial yang dikatakan oleh polisi saat menangkap kliennya yakni Ariana Elopere alias Wenebita Gwijangge. Penangkapan terhadap Ariana itu dilakukan pada 31 Agustus 2019 di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.

"Bahwa saat proses penangkapan itu ada ujaran diskriminasi atau rasial," kata Salah seorang kuasa hukum dari enam tersangka pengibaran bendera bintang kejora, Tigor di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (2/12).

Oleh karena itu, dia pun berencana akan menghadirkan Ariana dalam sidang berikutnya di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, pada Rabu (4/12) dengan agenda pembuktian dari pihak pemohon.

"Nanti akan kami hadirkan saksi untuk menjelaskan hal itu," ujarnya.

1 dari 4 halaman

Kronologi

Tigor menjelaskan, pada 31 Agustus 2019 sekitar pukul 18.00 WIB, Ariana bersama dua temannya yakni Norince Kogota dan Naliana Gwijanghe baru saja keluar dari mini market yang berjarak sekitar 15 meter dari asrama Mahasiswa Nduga di Tebet, Jakarta Selatan.

Tak lama berselang, lima orang polisi berpakaian preman pun mendatangi asrama tersebut dan mengaku ingin berdiskusi soal budaya Papua.

Ketika pintu dibukakan, polisi pun langsung menangkap Ariana, Norince, dan Naliana. Saat mereka disuruh masuk ke dalam mobil, Ariana sempat meminta waktu untuk mengganti pakaian terlebih dahulu. Karena, Ariana tengah memakai kaos tanpa lengan kala itu. Saat itulah, lanjut Tigor, polisi tersebut mengucapkan berbau rasis.

Tigor mengungkapkan, perkataan tersebut telah menyakiti hati mahasiswi Papua tersebut. Selain melakukan diskriminasi dengan ungkapan rasial, polisi yang hadir saat itu tak dilengkapi oleh surat perintah penangkapan.

2 dari 4 halaman

Tanpa Surat Geledah

Bukan hanya itu, polisi juga diduga merampas telepon seluler ketiganya serta mengakses informasi dan data pribadi mereka tanpa ada surat izin penggeledahan dari Pengadilan Negeri setempat.

Setelah itu, ketiganya langsung dibawa ke Polda Metro Jaya untuk menjalani pemeriksaan atas dugaan makar. Mereka diketahui ikut dalam aksi mengutuk tindakan rasial terhadap orang Papua, sambil mengibarkan bendera bintang kejora di depan Istana Negara, Jakarta Pusat, pada 28 Agustus lalu.

Usai menjalani pemeriksaan, Norince dan Naliana pun dibebaskan, sementara Ariana ditahan oleh polisi bersama dengan Surya Anta, Charles Kossay, Dano Tabuni, Isay Wenda, Ambrosius Mulait yang ditangkap polisi pada waktu dan tempat yang berbeda dengan tuduhan dugaan makar.

3 dari 4 halaman

Sidang Praperadilan

Pengadilan Negeri Jakarta Selatan kembali menggelar sidang praperadilan enam tersangka pengibaran bendera bintang kejora di depan Istana Negara, Jakarta Pusat, Senin (2/12). Enam tersangka itu diketahui atas nama Surya Anta, Charles Kossay, Dano Tabuni, Isay Wenda, Ambrosius Mulait, dan Ariana Elopere.

Dalam agenda sidang kali ini yakni pembacaan permohonan dari pihak pemohon yang mana juga hadir dari pihak termohon yakni Polda Metro Jaya.

Dalam sidang tersebut, pihak pemohon meminta kepada Ketua Hakim Tunggal Agus Widodo agar untuk mengabulkan permohonan Praperadilan para pemohon untuk seluruhnya.

"Berdasarkan uraian Pemohon seperti tersebut di atas, maka dengan ini kami meminta kepada Hakim Yang Mulia pada Pengadilan Negeri Jakarta Selatan untuk memutuskan. Mengabulkan permohonan Praperadilan Para Pemohon untuk seluruhnya," ujar Muhammad Fuad selaku kuasa hukum enam tersangka saat membacakan permohonan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (2/12).

Sementara itu, Ketua Hakim Tunggal Agus Widodo pun menunda sidang tersebut usai pihak pemohon membacakan beberapa permohonan dalam sidang tersebut.

"Besok jawaban, Rabu pembuktian dari pemohon, Kamis dari termohon, Jum'at kesimpulan. Baru putusan Selasa, 10 Desember 2019," ujar Agus yang langsung mengetuk palu sidangnya usai membacakan agenda selanjutnya.

4 dari 4 halaman

6 Orang Tersangka

Diketahui, Polisi telah menetapkan enam orang sebagai tersangka atas kasus pengibaran bendera bintang kejora di depan Istana Negara, Jakarta. Pengibaran bendera itu dilakukan pada Rabu (28/8) lalu.

Jumlah enam orang yang kini ditahan di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat ialah Dano Tabuni, Charles Cossay, Ambrosius Mulait, Isay Wenda, Ketua Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI-WP) Surya Anta Ginting dan Ariana Elopere.

Seluruh tersangka dikenai Pasal 106 dan 110 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) terkait keamanan negara. [rnd]

Baca juga:
Sidang Praperadilan 6 Tersangka Pengibaran Bendera Bintang Kejora Ditunda
Polisi Periksa Kesehatan Aktivis Suryanta Ginting di Mako Brimob
Berkas Pelaku Pengibar Bintang Kejora di Depan Istana Masuk Kejaksaan
Polisi Bantah Suryanta Ginting Ditahan di Ruang Isolasi Mako Brimob

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini