Polisi Diminta Usut Dugaan Keterlibatan Aparat Terkait Pungli di Tanjung Priok

Jumat, 11 Juni 2021 15:07 Reporter : Bachtiarudin Alam
Polisi Diminta Usut Dugaan Keterlibatan Aparat Terkait Pungli di Tanjung Priok Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus Saat Jumpa Pers 49 Pelaku Pungli di Polres Metro Jak. ©2021 Merdeka.com

Merdeka.com - Ahli Psikologi Forensik, Reza Indragiri Amriel menyambut baik respons cepat Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo beserta jajarannya setelah mendapatkan instruksi Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk memberantas pungutan liar usai mendengarkan curhatan sopir kontainer di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Kendati begitu, Reza menyoroti antensi yang diberikan Presiden Jokowi seharusnya bisa dilakukan untuk seluruh daerah di Indonesia. Tidak hanya tercakup pada satu Kota Madya, sebagaimana Polres Metro Jakarta Utara yang berhasil mengamankan 49 pelaku pungli setelah menerima instruksi tersebut.

"Tapi bolehlah kita berharap bahwa atensi dari pejabat selevel presiden tidak hanya terarah ke satu kota madya. Apalagi tidak sulit untuk melihat betapa premanisme dan pungli berlangsung di mana-mana dengan skala yang berbeda," kata Reza dalam keterangan tertulisnya, Jumat (11/6).

Walaupun kata Reza, kinerja Kapolri dan jajarannya dalam kasus pemalakan di Tanjung Priok memang bagus, tapi tidak cukup. Menurut dia, efek gentar sekaligus efek jera baru akan muncul jika unsur pemberantasan dapat terealisasi dan konsisten dilakukan.

"Tapi itu tidak cukup. Efek gentar sekaligus efek jera baru muncul kalau unsur keajegan juga terealisasi. Jadi, kecepatan dalam menindak premanisme dan palakisme harus dijaga konsistensinya. Tidak hanya di Jakarta Utara. Tidak hanya kali ini. Dan, tentu saja, tidak hanya berdasarkan telepon presiden," tuturnya.

Reza menilai kejahatan pungli maupun premanisme saat ini sudah tidak bisa dikatakan sebagai kejahatan individu melainkan kejahatan berkelompok yang sudah terorganisasi setiap gerakannya. Sehingga perlu dilibatkan beragam kesatuan Polri.

"Dengan pemikiran seperti itu, maka penting ditelusuri adakah eksekutornya, adakah bosnya, bahkan mungkin adakah pelindungnya yang bekerja sebagai oknum aparat. Konsekuensinya, tidak cukup reskrim yang bekerja di lapangan. Unit intel juga perlu memperluas endusannya. Bahkan unit internal pun patut mengecek ada tidaknya personel yang nakal di balik premanisme itu," kata dia.

Sebelumnya, keluhan para sopir truk kontainer terkait banyak pungutan liar (pungli) dan premanisme di Pelabuhan Tanjung Priok kepada Presiden Joko Widodo, langsung ditindaklanjuti jajaran kepolisian Polres Metro Jakarta Utara. Dengan langsung meringkus 49 pelaku pungli yang kerap meresahkan para supir kontainer.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol, Yusri Yunus menyampaikan ke-49 pelaku pungli ini merupakan para karyawan dari dua kelompok di pos, Depo PT Greeting Fortune Container dan lokasi kedua di Depo PT Dwipa Kharisma Mitra Jakarta.

"Kami amankan ini ada 49 orang karyawan dengan perannya masing-masing dan kelompok-kelompok masing di pos- pos ini, di dua PT disini PT DKM (Dwipa Kharisma Mitra) dan juga PT DFC (Depo PT Greeting Fortune Container) yang diamankan," kata Yusri saat jumpa pers, di Mapolres Metro Jakarta Utara, Jumat (11/6).

Ke-49 pelaku ini yang berhasil ditangkap ini merupakan angka komulatif dari hasil tindaklanjut pertama Polres Metro Jakarta Utara yang berhasil menangkap 12 di TKP PT DFC dan 16 orang di PT DKM. Sementara untuk Polsek Cilincing menangkap 6 pelaku dan Polsek Tanjung Priok menangmankan 15 pelaku.

"Ini mereka (para pelaku ditangkap) di pos-posnya masing dari mendekati pos Tanjung Priok, sampai mengangkat barang tersebut, Ini yang dilakukan para pelaku dengan pungli," ujarnya. [gil]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini