Polemik panjang '33 Tokoh Sastra', dari puisi hingga ke polisi

Senin, 21 April 2014 07:28 Reporter : Laurencius Simanjuntak
Polemik panjang '33 Tokoh Sastra', dari puisi hingga ke polisi Cover buku 33 Tokoh Sastra Indonesia. ©2014 merdeka.com/dgi-indonesia.com

Merdeka.com - Sejak awal tahun hingga kini publik sastra Indonesia masih berpolemik tentang peluncuran buku '33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh' pada 3 Januari lalu. Pusaran polemik adalah masuknya nama Denny JA ke dalam jajaran sastrawan besar seperti Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer dan WS Rendra.

Entah kebetulan atau tidak, peluncuran buku yang disusun Tim 8 (Jamal D Rahman dkk) itu dilakukan di Jakarta pada 3 Januari lalu atau sehari sebelum ulang tahun Denny JA , 4 Januari. Denny JA lahir di Palembang, Sumatera Selatan pada 4 Januari 1963 (51 tahun).

Sejumlah babak sudah dilalui dalam polemik ini dalam empat bulan terakhir. Mulai dari ribut soal puisi, sampai pelaporan ke polisi.

Ke mana ujung polemik sastra ini juga belum jelas. Tetapi yang jelas sekarang adalah seorang sastrawan penentang buku '33 Tokoh Sastra' tak lama lagi akan berhadapan dengan polisi karena pelaporan sastrawan lain kubu Denny JA . Karena sudah masuk ranah hukum, sulit membayangkan polemik tersebut kian surut.

Berikut beberapa babak penting dalam polemik '33 Tokoh Sastra':

1 dari 6 halaman

Denny JA masuk 33 tokoh sastra paling berpengaruh

Tim 8 dan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin mengumumkan 33 tokoh sastra paling berpengaruh di Indonesia. Salah satu di antaranya adalah Denny JA , yang selama ini lebih dikenal sebagai konsultan politik dan pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI).

Buku tentang tokoh sastra sejak tahun 1900 hingga kini itu dituangkan dalam sebuah buku dengan judul yang sama di Jakarta, Jumat 3 Januari lalu.

Banyak tokoh yang terpilih yang memang sudah dikenal luas oleh publik seperti WS Rendra , Sapardi Djoko Damono , Sutardji Calzoum Bachri, Chairil Anwar , Goenawan Mohammad, Sutan Takdir Alisjahbana, HB Jassin , dan Taufik Ismail. Nama Denny JA barang kali yang kiprahnya paling belum dikenal publik di dunia sastra.

Ketua Tim Juri Jamal D Rahman menjelaskan Denny JA terpilih karena ia melahirkan genre baru dalam puisi Indonesia yang disebut genre puisi esai. Jenis puisi ini kini menjadi salah satu tren sastra mutakhir yang sudah direkam dalam kurang lebih sepuluh buku.

"Genre puisi esai ini memancing perdebatan luas di kalangan sastrawan sendiri. Aneka perdebatan itu sudah pula dibukukan. Terlepas dari pro kontra pencapaian estetik dari puisi esai, pengaruh puisi esai dan penggagasnya Denny JA dalam dinamika sastra mutakhir tak mungkin diabaikan siapapun," kata Jamal.

Namun, apakah benar Denny JA penggagas puisi-esai ini?

Sastrawan asal Yogyakarta, Saut Situmorang, mengatakan puisi-esei adalah jenis puisi yang bersifat esei. "Bentuknya, bukan tipografinya di kertas! Puisi tapi isinya merupakan esei tentang suatu topik," kata Saut seperti dikutip dari laman Facebook-nya, Senin (6/1).

Saut menjelaskan, puisi jenis ini sangat populer dalam kesusastraan Inggris abad 18, terutama seperti yang ditulis oleh sang maestro genre tersebut Alexander Pope. 'An Essay on Criticism' adalah puisi panjang Pope yang terkenal.

Lebih jauh, Saut menjelaskan puisi dan esai mempunyai pakemnya masing-masing. "Kalau memang mau nulis puisi, tulislah puisi; kalau mau nulis esai, tulislah esai. Pakem kedua genre itu yang kelak akan menentukan apakah benar sebuah puisi telah ditulis, atau sebuah esei berhasil dikarang," ujar Saut lewat blog 'boemipoetra' yang dikelolanya.

"Cuma para pemula yang gak tau diri yang ingin melahap semuanya, tanpa sedikit pun mau bersusah-payah untuk memahami dan menguasai keduanya terlebih dulu! Cuma biar dikira orang pembaharu!!!" cetus penulis buku 'Politik Sastra' ini.

Puisi-esai memang mempunyai ciri catatan kaki sebagaimana karya Denny. Namun, kata Saut, itu bukan hal yang utama.

"Kalau 'ke-esai-an' sebuah 'genre' bernama 'sajak-esai' cuma dibuktikan dari catatan kaki yang dimilikinya, kasihan amat tuh genre! Kasihan amat pula genre yang bernama 'esei' itu! Mosok esei cuma macam begitu hakekatnya! Bukannya lebih tepat kalau 'genre baru'-mu ini disebut 'sajak-skripsi' aja, hahaha!!! Atau 'sajak-yang-bercatatan-kaki'! LOL," tulis Saut.

2 dari 6 halaman

Sastrawan Yogya tulis surat terbuka untuk Denny JA

Agus Mulyadi (kiri) dan Puthut EA (kanan).. ?2014 Merdeka.com

Kritik terus dilancarkan sejumlah sastrawan terhadap penghargaan sastra kepada Denny, yang lebih dikenal sebagai konsultan politik itu. Lewat media sosial, sastrawan asal Yogyakarta, Puthut Ea menulis surat terbuka untuk Denny JA .

Penulis naskah drama 'Orang-orang yang Bergegas' ini berpendapat, ada beberapa hal yang bisa dilakukan Denny, yang dikenal kaya raya, untuk berkontribusi terhadap sastra Indonesia, tanpa harus 'menjadi' salah seorang tokohnya yang paling berpengaruh.

"Pak Denny, ada banyak hal yang bisa Anda lakukan di dalam dunia sastra tanpa harus sevulgar itu, dan dunia sastra selalu mencatat nama-nama yang mendukung sastra tanpa melalui berkarya," tulis Puthut.

3 dari 6 halaman

Muncul petisi dan gerakan Anti Pembodohan 33 Tokoh Sastra

Saut Situmorang. ?2014 Merdeka.com

Adalah sebuah petisi yang membuat hiruk-pikuk di dunia kesusastraan Indonesia ini tak juga reda. Sejumlah orang dikomandani Saut Situmorang, sastrawan asal Yogyakarta, membuat petisi online di change.org. Mereka mendesak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional untuk menunda atau menghentikan sementara waktu peredaran buku tersebut.

Mereka juga mendesak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional untuk mengadakan atau memfasilitasi pengkajian ulang isi buku tersebut, yang di dalamnya termasuk pengujian validitas metode pemilihan 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh.

"Yang dimaksud sebagai pengujian validitas metode pemilihan di sana adalah pengujian terhadap ketepatan prinsip-prinsip metode, peraturan atau kriteria, postulat atau dalil, bukti, pembuktian, dan argumentasi," kata Saut, yang dikenal sebagai pentolan kelompok sastrawan Boemi Poetra, seperti dikutip dari laman petisi, Rabu (15/1).

Di dunia nyata, mereka juga gencar melakukan aksi damai. Seperti aksi tanda tangan dukungan dan mimbar bebas. Masih di bawah komando Saut, gerakan ini bernama 'Anti Pembodohan Buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh'.

Denny JA menilai munculnya petisi tersebut seperti zaman Orde Baru. "Dulu di era Orde Baru, justru kita meminta pemerintah jangan memberedel sebuah buku. Kita sering katakan bahwa buku lawan dengan buku. Riset lawan dengan riset. Di era reformasi, justru sekelompok pejuang yang meminta pemerintah menghentikan peredaran sebuah buku," sindir Denny JA lewat akun Twitter-nya, Rabu (15/1).


4 dari 6 halaman

Lukisan di sampul buku 33 Tokoh Sastra diambil tanpa izin

Cover buku 33 Tokoh Sastra Indonesia. ?2014 merdeka.com/dgi-indonesia.com

Riuh di kalangan pencinta sastra menyorot sampul buku '33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh'. Ternyata lukisan di sampul buku setebal 734 halaman itu diambil tanpa seizin pelukisnya, Hanafi.

Kepada merdeka.com, Hanafi bercerita, Jamal D Rahman (Ketua Tim 8) dan Agus S Sarjono (anggota Tim 8), sebelumnya beberapa kali memakai lukisannya untuk sampul Majalah Horison. Di majalah sastra itu, Jamal adalah pemimpin redaksi dan Agus adalah salah satu redakturnya.

"Ini kita lihat dalam konteks perkawanan. Kalau majalah tidak menjadi persoalan, sering saya bantu covernya, terbitan-terbitan mereka Agus dan Jamal untuk Jurnal Sajak juga. Setelah dicetak, dia kirim ke saya, tidak pernah izin formal," kata Hanafi lewat sambungan telepon, Kamis (23/1).

Hanafi melanjutkan, kemudian Agus dan Jamal menelepon istrinya, Adinda Luthvianti, sekitar 20 Desember tahun lalu. Kepada Adinda, Agus dan Jamal mengatakan akan memakai lukisan Hanafi untuk cover.

"Tapi tidak detail untuk cover apa. Istri saya bilang 'saya sih boleh-boleh saja, tapi telepon Mas Hanafi yang punya karya'," kata Hanafi, yang saat itu sedang berada di Bali untuk pameran.

Namun, kata Hanafi, sampai buku diluncurkan pada awal Januari 2014, Agus dan Jamal juga tak kunjung menghubunginya. "Sampai detik ini juga tidak datang. Saya sebut ini agak mengabaikan ya," kata Hanafi.

Agus S Sarjono, anggota tim juri sekaligus penulis buku '33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh', siap meminta maaf kepada Hanafi, jika tindakan pihaknya telah menyakiti pelukis abstrak itu.

5 dari 6 halaman

Juri 33 Tokoh Sastra mundur dan minta 5 esai dicabut

Maman S Mahayana. ?2014 Merdeka.com

Polemik penerbitan buku '33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh' membuat sejumlah sastrawan mundur teratur. Bukan saja empat penyair yang mengaku diperalat Denny JA , kini salah satu anggota Tim 8, sebutan juri sekaligus penulis buku, juga menyatakan mundur.

Dia adalah Maman S Mahayana. Sastrawan yang sekarang tinggal di Seoul, Korsel adalah yang pertama mengungkapkan Denny JA sebagai sponsor penyusunan buku tebal yang memasukkan nama konsultan politik itu ke dalam 33 sastrawan besar.

Lewat status di akun Facebook-nya siang tadi, Maman tidak hanya menyatakan mundur, tetapi juga meminta Ketua Tim 8 Jamal D Rahman mencabut 5 esai yang sudah ditulisnya, yakni tentang (1) Marah Rusli, (2) Muhammad Yamin, (3) Armijn Pane, (4) Sutan Takdir Alisjahbana dan (5) Achdiat Karta Mihardja.

"Honorarium sebesar Rp 25 juta sebagai pembayaran kelima esai saya itu, akan saya kembalikan segera setelah kelima esai itu dicabut dari buku tersebut," tulis Maman.

Denny JA mengatakan, buku setebal 700an halaman itu sudah kadung terbit. "Buku yang sudah beredar itu bagaimana cara mencabutnya?" kata Denny JA lewat sebuah komentar di postingan fan page Facebook-nya, Jumat (7/2).

"Buku 33 tokoh sudah terbit. Maman S Mahayana membuat paper khusus untuk launcingnya yang dibacakan di PDS HB Jassin. Ia bangga waktu itu dan menyatakan buku ini membawa sastra Indonesia ke panji internasional," kata dia.

6 dari 6 halaman

Sastrawan Iwan Soekri dipolisikan

Sutan Iwan Soekri Munaf. ?2014 Merdeka.com

Polemik terbitnya buku '33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh' ternyata belum surut di tengah hiruk pikuk pemilu. Terbaru, sastrawan Sutan Iwan Soekri Munaf dipolisikan gara-gara tulisannya di Facebook.

Pelapornya adalah Fatin Hamama, seorang penyair perempuan yang dituding terlapor sebagai 'makelar' Denny JA dalam penulisan buku yang menghebohkan jagat sastra nasional itu. Heboh karena nama Denny JA , yang dikenal sebagai konsultan politik, masuk dalam jajaran 33 sastrawan besar Indonesia, seperti Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer dan WS Rendra.

Fatin mengatakan, Iwan Soekri dilaporkan atas tulisannya di dinding grup Facebook 'Anti Pembodohan Buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh' pada 6 April 2014. Pelaporan hukum ini dilakukan ke Polda Metro Jaya kemarin, Rabu (16/4).

"Saya dibilang penipu, bagi saya itu yang paling berat," kata Fatin saat dihubungi merdeka.com, Kamis (17/4).

Fatin mengatakan melaporkan Iwan Soekri atas tuduhan pencemaran nama baik di media sosial. "Dilaporkan dengan UU ITE, tapi saya lupa pasalnya," ujar Fatin.

Fatin mengatakan, dia tidak terlalu masalah jika dituding 'calo' dan 'makelar' karena itu masih asumsi. "Kalau penipu itu beda, saya amat keberatan dibilang penipu," tegas Fatin lagi.

Fatin membantah anggapan bahwa dia makelar Denny JA dalam sejumlah proyek penulisan karya sastra. "Saya berteman dengan istrinya ( Denny JA ). Istrinya seperti kakak saya," kata Fatin.

Untuk diketahui, Sutan Iwan Soekri Munaf adalah nama pena dari Sutan Roedy Irawan Syafrullah. Pria kelahiran Medan 4 Desember 1957 ini adalah seorang penyair, pernah menjadi wartawan, novelis, cerpenis. Dia dikenal sebagai salah satu sastrawan penentang terbitnya buku '33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh'. Dihubungi merdeka.com, Iwan belum mau berkomentar soal pelaporan ini.

Denny JA menyatakan mendukung pelaporan Fatin Hamama atas sastrawan Sutan Iwan Soekri Munaf ke Mapolda Metro Jaya. Bahkan, konsultan politik yang bikin heboh jagat sastra karena muncul dalam buku '33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh' itu secara khusus mem-posting tulisan di forum situs miliknya, dilengkapi foto surat pelaporan Fatin.

"Dalam demokrasi yang sehat, tentu kita tak bebas mencemarkan nama baik dan memfitnah orang. Namun dalam hukum, berlaku juga azas praduga tak bersalah. Iwan Soekri Munaf selaku tertuduh menikmati priviledge itu sampai pengadilan memutuskan ia bersalah," kata Denny seperti dikutip merdeka.com, Kamis (17/4). [ren]

Baca juga:
Buntut polemik '33 Tokoh Sastra', sastrawan akhirnya dipolisikan
Polemik '33 Tokoh Sastra' dan analogi pelaut sejati
Fatin Hamama: Saya bukan perantara Denny JA
Ini pembelaan Denny JA sebut semua tudingan fitnah
Empat sastrawan ini mengaku diperalat Denny JA

Topik berita Terkait:
  1. Denny JA Tokoh Sastra
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini