Peserta aksi cor kaki tolak pabrik semen Rembang pulang kampung

Selasa, 21 Maret 2017 12:09 Reporter : Wilfridus Setu Embu
Demo tolak Semen Rembang di Monas warga cor kaki. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Peserta aksi tolak pembangunan pabrik semen di Rembang dan Pati meninggalkan Jakarta dan kembali ke kampung halaman masing masing. Mereka sempat melakukan aksi protes dengan mengecor kakinya.

Pantauan merdeka.com, Selasa (21/3) sekitar pukul 09.00 WIB, rombongan peserta aksi meninggalkan kantor Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, menuju Rembang dan Pati.

Ketika dimintai konfirmasi seputar alasan kepulangan mereka, peserta enggan berkomentar. Konfirmasi diberikan oleh Mokh Sobirin, dari Desantara, salah satu NGO (Non Government Organization) yang tergabung dalam 'Koalisi untuk Kendeng'.

Menurut Sobirin, alasan kepulangan para peserta ke tempat asal disebabkan beberapa pertimbangan. Seperti hasil pertemuan dengan Kepala Staf Kepresidenan, juga pertimbangan soal ketahanan stamina para peserta aksi.

"Kita melihat respon dari KSP (Kepala Staf Presiden) kemarin, kita lihat stamina dari peserta aksi. Kita memutuskan untuk mengurangi supaya jumlah dari 50 orang menjadi 9 orang itu akan terus melakukan aksi," ungkap Sobirin.

Tentang hasil pertemuan dengan Kepala Staf Presiden, Teten Masduki kemarin, Sobirin mengatakan, pertemuan tersebut tidak mengasilkan apa-apa.

"Kami merasa pertemuan dengan KSP (Kepala Staf Presiden) kemarin tidak menghasilkan apa-apa," katanya.

Sobirin mengaku, pihaknya dan peserta aksi tidak puas dengan proses yang sedang berjalan. Salah satunya adalah, ketika Presiden Jokowi meminta semua pihak harus menunggu proses KLHS (Kajian Lingkungan Hidup Stategis), maka permintaan Presiden tersebut ditujukan pada semua pihak, baik pihak yang pro maupun kontra pabrik semen.

"Dari kami (pihak yang menolak pabrik semen) memaknai (permintaan Preiden), bahwa semua pihak yang terkait masalah pabrik semen, baik yang pro maupun yang kontra, terutama adalah pabrik semen, harus menghentikan proses atau tahapan pembangunan sambil menunggu proses KLHS," katanya.

Namun, lebih jauh Sobirin mengatakan, yang menunggu Kajian Lingkungan Hidup Strategis hanya pihak pemrotes sedangkan pabrik semen terus beroperasi.

"Ketika kemarin ketemu Teten Masduki, lalu Pak Teten mengatakan harus menunggu KLHS (Kajian Lingkungan Hidup Strategis), kami sudah bersabar. Pihak pabrik semennya yang tidak bersabar," kata Sobirin.

Menurut Sobirin, aksi akan dilakukan lagi, tapi mereka menunggu proses KLHS berjalan dulu. Bila hasil KLHS tidak menjawab tuntutan mereka, maka aksi akan kembali dilakukan dan soal seperti apa bentuk aksi itu sendiri, Sobirin tidak memberikan jawaban pasti.

"Entah serupa atau beda, intinya, kami ingin menyampaikan tuntutan kami tentang pencabutan akan terus kami suarakan, seperti yang sudah dilakukan. KLHS sampai April. Intinya, sampai izin (Pendirian pabrik) dicabut aksi-aksi akan terus berlanjut," tegas Sobirin.

Selain itu, dalam aksi Sobirin mengatakan, aspek stamina dan kesehatan para peserta turut menjadi bahan pertimbangan.

"Soal stamina juga (dipertimbangkan). Nanti akan bergulir sembilan orang. Misalkan tiga hari akan diganti lagi atau empat hari baru diganti lagi," katanya.

[rnd]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.