Pertumbuhan ekonomi jadi motif China di konflik Laut Cina Selatan

Sabtu, 30 Juli 2016 13:15 Reporter : Mohammad Yudha Prasetya
Pertumbuhan ekonomi jadi motif China di konflik Laut Cina Selatan Tentara China jaga pulau buatan di Laut China Selatan. ©REUTERS/Stringer

Merdeka.com - Dalam sebuah diskusi dengan tajuk 'Kita dan Sengketa Laut Cina Selatan' di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sinolog (Ahli China) Prof. Dr. A. Dahana mengatakan, kebijakan China dalam ekspansi ekonomi dan militer sejatinya sudah lama dimulai sejak era Deng Xiaoping.

Di era tersebut, Deng mulai membuat China menjadi negara yang 'capital oriented', guna mengoptimalkan lagi jangkauan pasarnya di kawasan, terutama di wilayah Laut Cina Selatan.

"Situasi di China juga harus dilihat, di mana sejak era Deng Xiaoping mereka mulai menekankan pertumbuhan ekonomi, yang salah satu akibatnya adalah pembangunan ekonomi besar-besaran," ujar Prof Dahana dalam sebuah diskusi di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (30/7).

"Secara jelas, hal itu membuat China lekas menjadi negara kapitalis yang semua kegiatan ekonominya dikontrol oleh negara," ujarnya menambahkan.

Dahana mengatakan bahwa secara ideologis, di era Deng Xiaoping itulah China telah memulai perjalanan baru untuk meninggalkan sosialisme dan komunisme sebagai ideologi tunggal negara.

Saat beranjak menjadi negara kapitalis itulah, China dianggap telah mengikis sosialisme dan komunisme sebagai akar ideologis mereka sendiri, yang telah lama ditumbuh kembangkan oleh pemimpin besar mereka Mao Zedong.

"Di sisi lain, ketika kapitalisme ini berjalan, makin banyak yang tidak percaya pada sosialisme, apalagi komunisme. Kekuatan luar ingin menjadikan China sebagai negara kapitalistis, tapi nyatanya China sendiri juga telah dikapitaliskan oleh partai komunis di dalamnya," ujar Prof Dahana.

Maka saat ini, lanjut Prof. Dahana, konsistensi China dalam mengklaim kekuasaannya di wilayah Laut Cina Selatan, kerap dianggap sebagai upaya mereka dalam mengembalikan semangat nasionalisme dan sosialisme tersebut.

Walaupun dengan resiko dikucilkan oleh negara lain, namun pemerintah China sama sekali tidak gentar, dan kembali berupaya menunjukkan power of resistance mereka di Laut Cina Selatan.

Hal ini dianggap mampu untuk mengembalikan rasa kebangsaan dan nasionalisme mereka, guna memperkuat kembali ekonomi dan pengaruh militernya di kawasan.

"Maka, kini mereka kembali menggali nasionalisme masyarakatnya, walaupun mereka juga sadar bahwa nasionalisme ini adalah pedang bermata dua yang bisa membunuh musuh dan tuannya sendiri," pungkasnya. [hhw]

Topik berita Terkait:
  1. Konflik Laut China Selatan
  2. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini