Perkuat Pola Asuh Anak, Kementerian PPPA Dorong Optimalisasi Puspaga Untuk Orang Tua

Rabu, 22 Juli 2020 17:27 Reporter : Merdeka
Perkuat Pola Asuh Anak, Kementerian PPPA Dorong Optimalisasi Puspaga Untuk Orang Tua Menteri PPPA Bintang Puspayoga. ©2020 Merdeka.com/Ananias Petrus

Merdeka.com - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak(PPPA), I Gusti Ayu Bintang Darmawati Puspayoga, meminta para orangtua mengoptimalkan kehadiran Pusat Pembedayaan Keluarga atau Puspaga. Tujuannya, sebagai wadah konsultas terhadap pola asuh anak yang lebih baik.

"Jadi penguatan keluarga ini, kami di Kemen PPPA ada yang namanya Puspaga, karena dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya sebagai pusat konsultasi suami dan istri juga didampingi anak," kata Bintang dalam diskusi daring bertema Hari Anak Nasional: Anak Terlindungi Indonesia Maju," Rabu (22/7).

Bintang mengamini, keberadaan Puspaga sampai saat ini beum merata di tiap provinsi kab/kota di seluruh Indonesia. Jumlahnya baru tersebar di 135 titik di seluruh Indonesia. Kendati demikian, dia berharap di titik yang sudah tersedia Puspaga dapat memanfaatkannya dengan optimal.

"Puspaga dapat digunakan sebagai pola pengasuhan, apalagi di situasi pandemi, memang ini situasi sangat sulit bagi kita," ujar Bintang.

Bintang menambahkan, Puspaga dapat juga bermanfaat dalam meringankan kerja ekstra para orangtua untuk mendampingi dan memantau perkembangan anak, khususnya di era digital dan pademi.

"Di era digital memamg sangat sulit, di era biasa saja mendidik anak itu sulit, apalagi di era tanpa batas seperti sekarang. Puspaga dapat mendampingi dalam proses belajar dan memantau perkembangan anak," Bintang menandasi.

2 dari 2 halaman

12 Anak Siap Bersuara Soal Sarpras Pendidikan dan Disabilitas Selama Pandemi

Menjelang peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 23 Juli 2020, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak(PPPA), I Gusti Ayu Bintang Darmawati Puspayoga, mengatakan akan ada penyampaian isu kritis yang diutarakan langsung oleh para anak di Indonesia.

"Kami merangkum suara anak di seluruh plosok dan besok disampakan dari 12 anak, terkait permasalahan yang mereka alami. Uniknya, mereka tidak mengungkap masalah yang mereka lihat tapi yang dialami," kata Bintang dalam diskusi daring bertema Hari Anak Nasional: Anak Terlindungi Indonesia Maju, Rabu (22/7).

Bintang melanjutkan, salah satu permasalahan diungkap oleh anak di tengah masa pandemi adalah ketersediaan sarana dan prasarana mereka untuk menunjang giat belajar. Termasuk, kepada anak yang memiliki kekuarangan atau disabilitas.

"Jadi soal belum adanya akses pendidikan yang merata dan juga sarpras, termasuk disabilitas. Itu akan menjadi pertantayaan mereka di HAN," ungkap Bintang.

Bintang mengamini, permasalahan dihadapi anak cukup luas. Kendati, menurut datanya dalam setengah tahun ini, masalah kekerasan seksual masih mendominasi.

"Ini PR (pekerjaan rumah) kita bersama dalam memberikan pemahaman melalui sosialisasi dan kerja nyata konkrit untuk dapat melindungi anak kita dari kekerasan yang menimpa mereka," Bintang menandasi.

Sebagai informasi, survei nasional tentang anak dan remaja mendapati dua dari tiga anak Indonesia (usia 13-17 tahun) mengalami kekerasan, demikian juga data Kemen PPPA mulai dari Januari 2020 - 17 Juli 2020 terdapat 3.928 kasus kekerasan yang dilaporkan, baik itu fisik, seksual mau pun emosional, dengan 55% di antaranya adalah kekerasan seksual.

Reporter: Muhammad Radityo Priyasmono

[gil]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini