Perjuangan mengharukan Bripda Taufiq jadi anggota Sabhara Polda DIY

Jumat, 16 Januari 2015 05:02 Reporter : Kresna
Perjuangan mengharukan Bripda Taufiq jadi anggota Sabhara Polda DIY Bripda Taufiq. ©2015 Merdeka.com/kresna

Merdeka.com - Muhammad Taufiq Hidayat yang kini menyandang pangkat Bripda menjadi buah bibir seantero negeri. Kisah hidupnya yang miris membuat Bripda Taufiq menginspirasi banyak orang karena haru.

Dalam segala keterbatasan, anak pertama dari Triyono ini bisa meraih mimpinya menjadi seorang anggota Polisi. Bripda Taufiq kini menjadi seorang anggota di Satuan Sabhara Polda DIY.

Tidak mudah perjuangan yang dilalui Taufiq untuk meraih cita-citanya itu. Namun dengan kerja keras dan semangat yang tinggi, Taufiq akhirnya berhasil meraih mimpinya menjadi seorang Polisi.

Kisah hidup Bripda Taufiq memang sungguh miris. Perjalanan hidupnya membuat banyak orang haru, iba tetapi kemudian salut atas semangatnya. Berikut kisah haru kehidupan seorang Taufiq yang membuatnya jadi bahan pujian banyak orang saat ini:

1 dari 5 halaman

Tinggal di kandang sapi bersama bapak dan 3 adiknya

Bripda Taufiq. ©2015 Merdeka.com/kresna

Taufiq, bersama Bapak dan 3 adiknya tinggal di bangunan berukuran 4x7 meter di antara kandang-kandang sapi. Bangunan tersebut tidak memiliki daun pintu, hanya gorden kucel yang menutupnya. Sementara itu di depan bangunan tersebut, ada sebuah meja yang di atasnya tergeletak peralatan makan.

Bangunan yang berada di Jongke, Sleman itu sudah tidak utuh, hanya sebagian saja yang berdinding batako, sementara sebagian lagi bolong. Sebuah sepanduk bekas dibentangkan menggantikan tembok.

Di atas lantai tanah, ada dua buah ranjang dengan kasur lusuh di atasnya dan sebuah lemari kayu besar yang sudah keropos. Pada kayu penyangga genting tergantung dua buah lampu bohlam yang hanya menyala pada sore hari.

"Iya itu rumah saya," kata Muhammad Taufiq Hidayat, Rabu (14/1).

Sudah dua tahun ini dia tinggal di rumah itu bersama Bapak dan tiga orang adiknya. Bau busuk kotoran sapi yang menyengat sudah tidak lagi terasa baginya. Rumah tersebut dibangun oleh Bapaknya setelah berpisah dengan ibunya dua tahun lalu. Meski hanya bekas kandang sapi, mereka tetap harus membayar sewa tanahnya.

"Itu tanah kas desa jadi tetap harus bayar, dulu saya punya rumah di Jongke juga, tapi dijual setelah orang tua berpisah," ujarnya.

Saat malam tiba, Bripda Taufiq tidur bersama dengan tiga adiknya di dalam rumah. Sementara ayahnya tidur dibak mobil tua miliknya yang biasa dipakai untuk menambang pasir. "Nggak ada tempatnya, jadi bapak tidur di bak mobil," katanya singkat.

2 dari 5 halaman

Usai tamat SMK, Taufiq kerja jadi penambang pasir

Bripda Taufiq. ©2015 Merdeka.com

Sebelum menjadi polisi, Bripda Taufiq pernah melakoni berbagai pekerjaan. Mulai dari penambang pasir di sungai Boyong sampai menjadi penjaga perpustakaan di SMK 1 Sayegan tempatnya dulu menimba ilmu.

Setelah lulus SMK pada tahun 2013, Bripda Taufiq harus bekerja untuk membantu ekonomi keluarga. Sebelum mendapat pekerjaan dia ikut ayahnya menambang pasir di sungai Boyong.

Di sana dia membantu mengambil pasir lalu dipindahkan ke mobil bak butut milik ayahnya. Adik-adiknya kadang juga turut membantu. Ikut ayahnya menambang pasir tidak terlalu lama. Dia ditawari pekerjaan sebagai penjaga perpustakaan.

"Kalau ikut nambang sejak masih sekolah, waktu lulus jadi sering dari pada nganggur, setelah itu jadi penjaga perpustakaan," ujarnya, Kamis (15/1).

Selain menjadi penjaga perpustakaan, dia juga membantu pembina pramuka di SMK 1 Sayegan untuk melatih. Dari situ juga dia mendapatkan tambahan penghasilan.

"Jaga perpustakaan itu Rp 500 ribu perbulan, ditambah membantu pembina pramuka jadinya sekitar Rp 700 ribuan, lumayan bisa bantu bapak," katanya.

Saat menjadi penjaga perpustakaan dia menggunakan waktu senggang untuk membaca buku. Sesekali dia berlatih psikotes untuk persiapan tes masuk polisi.

"Hanya beberapa kali saja latihan soal-soal, lebih banyak latihan fisik," tandasnya.

3 dari 5 halaman

Puasa Senin-Kamis demi lolos jadi polisi

Bripda Taufiq. ©2015 Merdeka.com

Pada tahun 2014 Taufiq kemudian mendaftar untuk jadi polisi. Berkat usahanya dia akhirnya lulus ujian. Dia pun menyelesaikan pendidikan polisinya 29 Desember 2014 lalu dan kini bertugas di satuan Sabhara Polda DIY.

"Saya sampai puasa Senin-Kamis, itikad biar bisa diterima. Bukan cuma karena cita-cita saya, tapi demi adik-adik dan bapak. Alhamdulillah Allah mendengar doa saya," ucap Taufiq.

Taufiq percaya dengan usaha keras dan doa, cita-citanya untuk menjadi polisi bisa terkabul. Semangatnya yang tinggi membuatnya meraih cita-citanya sebagai seorang abdi negara.

4 dari 5 halaman

Tak punya kendaraan, Bripda Taufiq berangkat ke Polda dengan berlari

Bripda Taufiq. ©2015 Merdeka.com/kresna

Belum selesai azan subuh berkumandang, Bripda Taufiq Hidayat sudah siap dengan seragam cokelat kebanggaannya. Usai salat, diam-diam dia menyelinap keluar dari rumahnya, lalu mulai berlari menuju tempatnya kerja di Polda DIY.

Jalanan masih gelap saat dia menyusuri jalan raya yang sepi. Perut yang masih kosong dan udara dingin tidak lagi dipedulikannya.

Baru seperempat perjalanan keringat sudah mengucur. Dia pun memperlambat larinya sejenak. Setelah energi terkumpul kembali, dia menarik napas dalam-dalam lalu mulai berlari kencang lagi. "Sekitar satu jam baru sampai sini (Polda)," kata Bripda Taufiq.

Hari itu sial, dia terlambat ikut apel pagi. Terpaksa dia menerima hukuman dari komandannya. "Saya sudah biasa sejak awal, lari dari rumah ke Polda, kadang-kadang saja nebeng teman. Terlambat ya risiko, makanya harus berangkat pagi," tambahnya.

Pertama kali dia berlari dari rumahnya di Jongke Tengah, Sendangadi, Mlati, Sleman menuju Polda DIY waktu dia hendak mendaftar tes polisi.

"Sejak pendaftaran saya sudah jalan kaki, enggak punya motor. Sebenarnya ada motor satu di rumah, tapi dipakai bapak kerja," ujarnya.

Karena beberapa kali terlambat, komandannya menanyakan alasan kenapa Bripda Taufiq sering terlambat. "Saya bilang nggak punya kendaraan, jadi harus lari dari Jongke ke sini," ungkapnya.

Melihat kondisi Bripda Taufiq, Wadir Sabhara Polda DIY, AKBP Prihartono merasa tersentuh. Terlebih lagi setelah mengetahui rumah Bripda Taufiq yang berada di tengah-tengah kandang sapi.

Dia pun meminjamkan sepeda motor miliknya untuk dipakai Bripda Taufiq sehari-harinya. "Saya pinjamkan motor pribadi saya, bukan membeda-bedakan dengan yang lain, tapi cerita Taufiq membuat saya bangga, perjuangannya untuk menjadi polisi benar-benar luar biasa. Tidak cuma tidur di kandang sapi, jalan dari rumahnya ke Polda aja dia lakukan," tandas AKBP Prihartono.

Meski sudah dipinjami sepeda motor, Bripda Taufiq tetap memilih tidur di Polda. Alasannya bukan karena takut terlambat, tapi dia merasa kasihan melihat ayahnya yang tidur di bak mobil.

"Kalau saya tidur di rumah bapak tidur di luar, saya mending tidur di Polda biar bapak tidur di dalam rumah. Tapi kadang juga kepikiran adik-adik saya, tidurnya gimana di sana, apalagi kalau hujan," tuturnya.

Meski tidur di Polda, dia tetap menjenguk ayah dan adik-adiknya. Hampir setiap hari seusai jam kerja, dia pulang ke rumah untuk melihat ayah dan adik-adiknya. Dia pun menyempatkan diri untuk mengawasi adiknya belajar. "Iya kalau ada PR saya kadang bantu sebisanya, membimbing saja," tandasnya.

5 dari 5 halaman

Gaji pertama untuk ngontrak rumah layak bagi bapak & 3 adiknya

Bripda Taufiq. ©2015 Merdeka.com/kresna

Tinggal dibekas kandang sapi selama dua tahun bukanlah hal yang mengenakkan. Bau kotoran sapi, nyamuk-nyamuk ganas dan bocor di sana-sini saat hujan membuat Bripda Taufiq khawatir dengan kondisi kesehatan bapak dan tiga adiknya.

Meski sudah menjadi Polisi, namun Bripda Taufiq belum bisa mengontrak rumah yang layak untuk Bapak dan adik-adiknya. Hal ini lantaran dia belum menerima gaji karena baru beberapa hari bertugas di Sabhara Polda DIY.

Selama pendidikan polisi dia hanya mendapat uang saku yang jumlahnya hanya cukup untuk makan dan kebutuhan pendidikan lainnya.

Bulan Februari nanti, barulah dia akan menerima gaji pertamanya sebagai anggota polisi. Rencananya gaji tersebut akan digunakannya untuk mengontrak rumah sederhana yang layak huni untuk Bapak dan tiga adiknya.

"Insya Allah kalau cukup, gaji pertama saya buat cari kontrakan, biar bapak nggak perlu lagi tidur di luar, biar adik-adik juga nggak kedinginan kalau hujan," ujarnya.

Sebelum tinggal di kandang sapi, Bripda Taufiq tinggal bersama kedua orang tuanya di Jongke, Sleman tak jauh dari rumahnya sekarang. Namun setelah ayah ibunya bercerai, rumah tersebut dijual oleh ibunya.

"Dulu itu dijual, nanti uangnya untuk beli rumah baru, ternyata malah nggak cukup," ucapnya.
Setelah itu dia dan tiga adiknya pernah tinggal bersama ibunya. Namun tidak berlangsung lama, dia memutuskan untuk tinggal bersama Bapaknya di bekas kandang sapi. Tiga orang adiknya kemudian menyusul.

"Waktu awal juga nggak nyaman, listriknya juga cuma nyala setelah magrib soalnya digabung dengan lampu kandang sapi lainnya, susah juga kalau mau belajar," paparnya.

Dia pun senantiasa berdoa agar suatu saat nanti dia bisa memiliki rumah yang besar dan nyaman untuk keluarganya. "Pengennya punya rumah besar, doakan saja biar bisa tetap sehat, cepat naik pangkat, kalau bisa jadi perwira," harapnya. [hhw]

Baca juga:
Kisah hidupnya sangat miris, Bripda Taufiq banjir hadiah
Jadi terkenal, Bripda Taufiq diminta tak seperti Norman Kamaru
Fokus kerja untuk keluarga, Bripda Taufiq pilih menjomblo
Setelah orangtuanya cerai, Bripda Taufiq setahun tak bertemu ibunya
Sudah mau dibelikan motor, Bripda Taufiq tak tau siapa itu Ahok
Tak punya uang, Bripda Taufiq selalu ditraktir makan oleh seniornya

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini