Peringatan malam 1 Suro, Keraton Surakarta gelar kirab 7 Kerbau bule

Rabu, 12 September 2018 06:21 Reporter : Arie Sunaryo
Peringatan malam 1 Suro, Keraton Surakarta gelar kirab 7 Kerbau bule Kerbau bule peringatan malam 1 Suro. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Kirab Malam 1 Sura tahun dal 1952 jhe, di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Selasa (11/9), berlangsung meriah. Ratusan ribu warga tumpah ruah di depan keraton dan lokasi yang dilalui rombongan kirab pusaka.

Tepat pukul 23.30 WIB, 7 kerbau keturunan Kyai Slamet atau sering disebut Kebo Bule yang dianggap sebagai lambang keselamatan, tiba di depan Kori Kamandungan, pintu utama keraton. Kirab pun dimulai dan 7 kebo bule bernama Sukro, Apon, Juminten, Mugi, Pahing, Jabu dan Siam, bertugas menjadi cucuk lampah (pemimpin barisan). Disusul kemudian barisan pembawa pusaka, para sentana serta ratusan abdi dalem.

Suasana hening dan bau dupa menyengat mewarnai perjalanan rombongan sejauh sekitar 7 kilometer tersebut. Masyarakat pun antusias menantikan kedatangan 7 kebo bule yang melintas. Sebagian berharap jika kerbau itu mengeluarkan kotoran. Dalam tradisi Jawa, sebagian masyarakat masih mempercayai akan mendapatkan keberuntungan jika mendapatkan kotoran kerbau keturunan Kyai Slamet.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, kirab kali ini dimulai dari Kori Kamandungan - Supit Urang Barat - Alun Alun Utara - Jalan Pakubuwono - Gladag - Perempatan Telkomsel - Jalan Mayor Kusmanto - Jalan Kapten Mulyadi - Perempatan Baturono - Gading (Jalan Veteran) - Perempatan Gemblegan ke utara (Jalan Yos Sudarso) - Perempatan Nonongan (Jalan Slamet Riyadi) ke timur - Gladag ke selatan - Supit Urang Timur, dan kembali ke Karaton Surakarta.

Pengageng Parentah Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Dipokusumo mengatakan, kirab pusaka dimaksudkan untuk memperingati tahun baru dalam penanggalan Jawa. Penanggalan Jawa ini merupakan gabungan antara perhitungan penanggalan Islam dan Saka.

"Kerbau sangat identik dengan tradisi Keraton Surakarta. Kerbau Kyai Slamet atau keturunannya salah satu bagian yang tidak lepas dari tata cara masyarakat pada saat itu untuk alat transportasi, bahkan jadi simbolis tokoh keraton," jelas Gusti Dipo, sapaan akrabnya.

Sejumlah warga yang ditemui merdeka.com mengaku ada yang sengaja datang untuk ngalap berkah (mencari berkah) dari kotoran kebo bule. Namun ada juga yang penasaran ingin melihat tradisi unik tersebut.

"Saya jauh-jauh dari Surabaya kesini untuk ikut menyaksikan kirab 1 Sura. Sekaligus ngalap berkah, harapannya semoga rezeki kami semakin banyak, berkah dan lancar," Heru Yunianta, warga Benowo, Surabaya yang datang bersama istri dan anaknya.

Heru mengaku, sudah lama ingin melihat secara langsung kirab malam 1 Sura di Solo. Pada kesempatan sebelumnya, ia juga menyempatkan diri menyaksikan kirab pusaka di Istana Mangkunegaran.

"Mumpung libur, kita sempatkan nonton kirab ke Solo. Ternyata suasananya benar-benar sakral dan khidmat sekali," sambung Ulfah, warga Lamongan, Jawa Timur. [noe]

Topik berita Terkait:
  1. Tahun Baru Islam
  2. Surakarta
  3. Satu Suro
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini