Perayaan Waisak di Candi Borobudur berlangsung khidmat

Kamis, 11 Mei 2017 09:45 Reporter : Henny Rachma Sari
Perayaan Waisak. ©2013 Merdeka.com/Arie Basuki

Merdeka.com - Ribuan umat Buddha memperingati Hari Raya Waisak di pelataran Candi Borobudur. Umat berkumpul di bagian barat Candi sejak pukul 04.42 Wib.

Seperti diberitakan Antara, ritual pemukulan lonceng sebanyak tiga kali dan pemercikan air berkah 'paritta jayanto' dan umat bersikap anjali menandakan perayaan dimulai.

Dalam perenungan, Biksu Tadisa ParamitaMahasthavira mengatakan peringatan hari Tri Suci Waisak bukan hanya sekadar diadakan ritual Waisak untuk berdoa dan memohon saja.

Umat Buddha, dikatakannya, harus menyerap hakikat kebuddhaan serta mengembangkan hari Buddha.

"Jangan mengabaikan dan menelantarkan hakikat kebuddhaan. Guru Agung Sang Buddha hanya mengajar dan menyadarkan saja, tetapi pengembangan dan praktik berpulang pada individual masing-masing. Berjuanglah dengan penuh semangat untuk meraih pencerahan dan mahabudi."

Sementara itu, dalam lantunannya Bikhu Wongsin Labhiko sebelum bermeditasi menambahkan dunia tidak ada persoalan bagi yang menjadi orang bijaksana.

"Dunia ini tidak ada persoalan apabila belajar mengetahui kenyataan, bahwa sesungguhnya dunia ini berkondisi tidak kekal adanya," ujarnya.

Maka, Biksu Wongsin berpesan jangan terlalu bergantung kepada sesuatu karena seluruh situasi yang terjadi baik bahagia maupun derita tak lepas dari jalan Buddha.

Ia menuturkan apabila ingin bahagia belajar untuk lepas jangan melekat, sesuatu yang dapat secara gratis adalah ketuarentaan, sesuatu yang harus dicari adalah nilai kehidupan manusia.

Nilai binatang, lanjut Biksu Wongsin, diukur dari besar kecil badannya, sedangkan nilai manusia diukur atau dihitung dari perbuatannya.

Untuk itu, di momentum Waisak ini, ia mengajak umat Buddha menambah level objek umat Buddha dengan menjaga perbuatan menjadi baik sesuai dengan ajaran Guru Agung Sang Buddha Gautama. Dunia ini tidak ada yang baru selain pergerakan dan perubahan.

"Semua berubah, semua bergerak, tetapi perubahan pergerakan harus diambil. Ambil krisis menjadi kesempatan, jangan takut apabila hidup ini mengalami krisis atau susah. Dalam kesusahan itu adalah kesempatan yang terbuka untuk anda sekalian."

Perayaan Waisak 2561 BE/2017 di Candi Borobudur ditutup dengan ritual pradaksina oleh para biksu dan umat dengan mengelilingi candi tiga kali searah jarum jam.


[rhm]

Topik berita Terkait:
  1. Perayaan Waisak
  2. Highlight
  3. Jakarta
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.