Pepi Fernando, dalang bom buku divonis hari ini

Senin, 5 Maret 2012 06:21 Reporter : Iqbal Fadil
Pepi Fernando, dalang bom buku divonis hari ini

Merdeka.com - Setelah sempat tertunda pada persidangan sebelumnya, majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Barat akan membacakan vonisnya terhadap Pepi Fernando, pimpinan jaringan bom buku.

Pada persidangan sebelumnya Kamis (1/3), ketua Majelis hakim, Moestopa menyatakan majelis hakim belum siap dengan amar putusannya dan sidang ditunda pada hari ini Senin (5/3).

Terdakwa Pepi Fernando bin Maman alias Muhamad Romi alias Ahyar dituntut hukuman seumur hidup oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU). Pepi dinilai terbukti bersalah melakukan tindak pidana terorisme sebagaimana diatur dalam Pasal 15 jo Pasal 6 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Terorisme.

Pepi Fernando bersama 16 rekannya, terbukti melakukan serangkaian tindak pidana terorisme dengan perbuatan bermufakat jahat, percobaan melakukan teror, merusak fasilitas umum dan bangunan, serta tindakan yang meresahkan masyarakat. Ia dinyatakan jaksa terbukti terlibat dalam serangkaian rencana tindak pidana terorisme pada Agustus 2010 hingga April 2011. Pepi diduga merakit "bom termos" yang rencananya akan diledakkan saat rombongan Presiden melewati lampu lalu lintas depan Markas Kodam Jaya, Cawang. Aksi tersebut gagal.

Pepi juga terlibat dalam pembuatan, pengiriman, dan peledakan "bom buku" pada medio Maret 2011. Buku dikirimkan kepada Ulil Abshar Abdalla, Japto Suryosumarno, Endriarto Anas, Ahmad Dhani, dan Gories Mere yang dinilainya sebagai musuh-musuh Allah. Di bulan yang sama, ia kembali mencoba meledakkan bom berbentuk kotak, saat rombongan Presiden melewati Jalan Raya Alternatif Cibubur. Aksi tersebut batal, karena adanya patroli polisi.

Aksi lainnya, ia mencoba menyerang Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspitek) Tangerang yang di dalamnya terdapat reaktor nuklir. Aksi tersebut gagal karena ia tidak berhasil memasuki Puspitek. Ia juga berencana meledakkan gereja di Kranji, Bekasi, dengan bom dari tabung gas elpiji 3 kilogram namun dibatalkan. Aksi selanjutnya dilakukan di sebuah jembatan di Banjir Kanal Timur, menyebabkan satu orang pemulung, Jaka bin Arsali, tewas.

Aksi terakhir kelompok ini dilakukan dalam bentuk "bom pipa" di Gereja Christ Cathedral Serpong, yang rencananya diledakkan pada 22 April 2011 bertepatan dengan wafatnya Isa Almasih. Sebelum diledakkan, ia menghubungi, Imam Firdaus, juru kamera salah satu televisi swasta. Jika aksinya tak tercium aparat, ia berencana meledakkan Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton yang sering digunakan tamu berkebangsaan Amerika Serikat. [bal]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini