Penyebab Banjir Rob Pantura, Faktor Alam atau Manusia?

Rabu, 25 Mei 2022 15:05 Reporter : Ya'cob Billiocta
Penyebab Banjir Rob Pantura, Faktor Alam atau Manusia? Warga Semarang mengungsi akibat banjir rob. ©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Air setinggi dua meter menerjang kawasan pesisir Kota Semarang, Jawa Tengah, Senin (23/5). Di kawasan industri Pelabuhan Tanjung Emas, banjir rob tersebut melimpas ke daratan hingga membuat ribuan pekerja berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan diri.

Selain sepeda motor, mobil, ribuan unit mesin jahit serta mesin produksi pada sejumlah pabrik terendam banjir rob.

Puluhan kontainer atau peti kemas yang berada di Pelabuhan Tanjung Emas juga terendam banjir rob yang terjadi bersamaan dengan gelombang tinggi, serta diperparah dengan jebolnya tanggul laut di kawasan pelabuhan.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat, tidak hanya di Semarang, fenomena alam ini juga melanda kawasan pesisir pantai utara di Tegal, Pekalongan, Batang, Kendal, jalur Pantura Semarang-Demak, Demak hingga Rembang.

Ketinggian banjir rob tersebut berbeda-beda di tiap daerah. Hal ini juga dipengaruhi oleh perbedaan ketinggian gelombang di setiap daerah. Tercatat ketinggian gelombang ada yang mencapai 1,25 hingga 2,5 meter.

2 dari 3 halaman

Faktor Alam

BMKG memprakirakan banjir rob akan terjadi hingga 25 Mei 2022. Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Emas Semarang, Retno Widyaningsih mengatakan, rob di wilayah pesisir terjadi bersamaan dengan fase bulan purnama serta dalam kondisi jarak terdekat bulan ke bumi.

Ia menuturkan puncak ketinggian rob di kawasan pesisir Semarang akan terjadi pada sekitar pukul 15.00 hingga 16.00 WIB.

"Pukul 14.00 WIB tadi tercatat sudah mencapai 185 cm, diperkirakan masih bisa naik," kata Retno, Selasa kemarin. Dikutip dari Antara.

Terpisah, Kepala Pusat Meteorologi Maritim BMKG, Eko Prasetyo menambahkan, sejak tanggal 13 Mei 2022, BMKG telah merilis informasi potensi banjir pesisir di beberapa wilayah Indonesia, bersamaan adanya fase bulan purnama dan kondisi Perigee (jarak terdekat bulan ke bumi).

"Selain faktor curah hujan di beberapa wilayah, gelombang tinggi di Laut Jawa yang mencapai 1,25 sampai 2,5 meter juga memberikan dampak terhadap peningkatan banjir rob di wilayah tersebut," terangnya.

3 dari 3 halaman

Faktor Lain

Sementara itu, pakar geomorfologi pesisir dan laut dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Bachtiar W. Mutaqin menyebutkan, potensi banjir rob di Pantura tidak bisa lepas dari penggunaan air tanah dalam skala besar.

Menurutnya, perlu adanya aturan pembatasan dalam penggunaan air tanah. Tujuannya untuk mengurangi potensi banjir rob di kawasan itu.

"Kami berharap ada semacam moratorium atau peraturan yang melarang penggunaan air tanah yang di skala industri atau seperti apa, itu perlu dilakukan juga," kata Bachtiar di Kampus UGM, Yogyakarta.

Menurut dia, penggunaan air tanah berskala besar dapat mengakibatkan penurunan muka tanah.

Dalam catatan penurunan muka tanah (land subsidence) di Semarang, kata dia, sekitar 19 cm per tahun, sedangkan rob pernah mencapai tinggi 40 sampai 60 CM dan pernah mencapai 1 meter pada Tahun 2013.

Bachtiar yang juga dosen Fakultas Geografi UGM menyatakan peristiwa rob di Semarang sesungguhnya sudah memiliki riwayat lama.

Riwayat kejadian rob sangat sering dan kejadian terkini karena bersamaan dengan puncaknya pasang, di mana jarak bumi dan bulan begitu dekat.

"Pasangnya cukup tinggi, tanggulnya jebol, ya akhirnya kawasan di pesisir Semarang terendam. Sebenarnya fenomenanya sudah dimitigasi oleh pemerintah, tapi karena muka laut memang cukup tinggi dan ada bangunan yang jebol, akibatnya banyak yang terendam," ujarnya.

Menurut dia, sudah sejak lama kawasan Banten hingga Banyuwangi dikenal sebagai kawasan rawan terjadi rob yang dipicu pemanasan global berupa naiknya permukaan air laut dan material tanah di utara Jawa yang belum solid.

"Belum solid, ditambah banyaknya permukiman. Tidak hanya permukiman pribadi atau perorangan, tetapi juga skala industri, sehingga dimungkinkan penggunaan air tanah. Akibatnya banyak permasalahan cukup kompleks, mulai dari kenaikan muka laut, kemudian material tanahnya yang aluvial umurnya masih muda, juga terkait dengan penggunaan lahan," kata dia.

Dia menjelaskan material tanah di utara Jawa sebenarnya berasal dari endapan atau sedimentasi proses dari sungai sehingga material sedimen tersebut diukur dari skala geologi masih muda sehingga masih labil, belum solid atau belum kompak.

Sementara di atasnya berdiri banyak bangunan sehingga semakin memperberat, ditambah penggunaan air tanah yang berakibat penurunan muka tanah. [cob]

Baca juga:
Akibat Pemanasan Global, Pakar UGM Ungkap Penyebab Banjir Rob Pesisir Utara Jawa
Potret Area Jogging di Tuban Rusak Parah Diterjang Ombak, BMKG Beri Imbauan Ini
Banjir Rob dan Teguran Megawati untuk Ganjar Pranowo
Banjir Rob di Semarang, Tanggul Laut Jebol Sepanjang 20 Meter

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini