KPK Bantah Ada Cap Jempol di Amplop Serangan Fajar Bowo Sidik

Jumat, 29 Maret 2019 12:04 Reporter : Merdeka
KPK Bantah Ada Cap Jempol di Amplop Serangan Fajar Bowo Sidik KPK Tunjukan Barang Bukti OTT Pupuk. ©2019 Merdeka.com/Dwi Narwoko

Merdeka.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyita 400.000 amplop berisi pecahan Rp 20.000 dan Rp 50.000 yang sudah disiapkan di dalam 84 kardus. Berdasarkan penghitungan sementara, jumlah uang yang ada di amplop tersebut Rp 8 miliar.

Barang bukti itu disita dari hasil pengembangan kasus suap dan penangkapan anggota Komisi VI DPR RI Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso. Amplop-amplop itu ditemukan di PT Inersia, milik Bowo.

KPK menyebut, uang dalam amplop itu digunakan untuk keperluan pemilu 2019. Diduga disiapkan untuk serangan fajar Bowo yang akan kembali mencalonkan diri sebagai anggota DPR RI periode 2019-2024.

"Berdasarkan pemeriksaan terhadap yang bersangkutan (Bowo), amplop tersebut untuk serangan fajar pada pemilihan legislatif (Pileg), tak ada kaitannya dengan Pilpres," ujar Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta, Kamis (28/3) malam.

Satgas KPK mengambil beberapa amplop dalam kardus dan memperlihatkannya kepada awak media. Sebelum itu sempat beredar kabar ada cap jempol berwarna hijau di ujung amplop yang disiapkan Bowo.

Awak media meminta KPK, dalam hal ini Basaria Panjaitan dan Juru Bicara KPK Febri Diansyah untuk kembali memperlihatkan amplop-amplop tersebut untuk mengkonfirmasi dugaan adanya cap jempol. Basaria langsung buru-buru membantahnya. Basaria mengatakan hal tersebut setelah berunding terlebih dahulu dengan Febri.

"Apa ada cap jempol? Kita pastikan tidak ada," kata Basaria.

"Mungkin besok kalau sudah diperlukan, tapi seizin penyidik. Hasil pemeriksaan tim kita, dia katakan uang sama tujuan untuk serangan fajar, itu pengakuan dari dia untuk kepentingan dia karena ingin mencalonkan diri lagi jadi anggota DPR," kata Basaria.

Senada dengan Basaria, Febri juga menolak membuka satu dari ratusan ribu amplop itu. Menurut Febri, ada prosedur hukum yang harus dilakukan jika harus membuka meski hanya satu amplop.

"Amplop-amplop di dalam kardus yang ada tadi dalam posisi dilem (perekat). Untuk mengubahnya dibutuhkan berita acara karena ada prosedur mengubah barang bukti. Nanti kalau majelis hakim di persidangan membutuhkan untuk dibuka, maka akan dilakukan," kata Febri.

Reporter: Fachrur Rozie [noe]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini