Penjelasan Kadisdik Jabar diduga kampanyekan Sudrajat-Syaikhu

Senin, 2 April 2018 16:47 Reporter : Aksara Bebey
salam simbol jari. ©2018 Dok. Disdik Jabar

Merdeka.com - Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Jawa Barat, Ahmad Hadadi merespons aduan masyarakat yang menyebut sejumlah ASN di lingkungan kerjanya mendukung salah satu pasangan calon dalam pemilihan gubernur dan wakil gubernur 2018. Dia menilai hal itu adalah kesalahpahaman.

Ahmad Hadadi menjelaskan, simbol jari yang diacungkan dalam foto menjadi bahan aduan tidak ada maksud mendukung salah satu calon. Menurut dia, di lingkungan Pemprov Jabar dikenal dengan berbagai simbol dari program. Di antaranya, salam jabar kahiji yang berpose menunjuk satu jari. Lalu, salam literasi, simbolnya mengacungkan telunjuk dan jari tengah.

Selain itu, lanjut dia, ada salam genre yang simbolnya menempelkan jempol dan telunjuk. Sementara tiga jari lain diangkat. Itu adalah program yang ditujukan kepada remaja dan siswa sekolah yang artinya no free sex, no drugs dan no HIV AIDS.

"Setiap orang dalam era demokrasi punya hak berpendapat. Tapi, kami juga punya hak untuk menjawab. Dan semua itu tidak ada hubungannya dengan salah satu paslon," kata Ahmad Hadadi saat dihubungi, Senin (2/4).

Meski beegitu, ia mengaku sudah membuat himbauan berupa surat edaran kepada seluruh jajaran pegawai di lingkungan Disdik untuk tidak melakukan simbol-simbol apapun di masa Pilkada.

"Kalau ada kunjungan ke sekolah kan ya saya bilang, jangan keluarkan salam yang simbolmnya bisa multi tafsir. Sekarang sedang sensitif," ucapnya.

Terkait dugaan mendukung salah satu paslon, Ia mengaku sudah melakukan klarifikasi kepada Pemerintah Provinsi, DPRD dan Partai Politik.

"Saya bilang waktu itu tidak ada niat. Saya sendiri kan tidak mengacungkan. Di lingkungan Disdik, kami secara resmi sudah berkomitmen untuk tidak boleh masuk politik praktis," terangnya.

Pihaknya akan mendukung gelaran pesta demokrasi. Mereka akan siap loyal kepada siapapun pemimpin yang terpilih.

"Pesta demokrasi harus didukung dalam hal partisipasi memilih di masa pemilihan. Gunakan hak pilih tapi tidak masuk ke polutik praktis. Seluruh paslin yang ada adalah orang terbaik. Saya hormat, saya siap loyal kepada siapapun yang terpilih," terangnya.

Terkait pose dalam foto yang dilaporkan, ia menjelaskan bahwa itu terjadi saat Disdik melakukan studi banding ke salah satu SMK di Padang, Sumatera Barat beberapa waktu lalu.

"Iya itu ASN Disdik waktu studi banding. Pose di foto tidak ada maksud macam-macam," pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, masyarakat yang tergabung dalam Kaukus Rakyat Jawa Barat Pemantau Pilgub mengadu ke Bawaslu terkait dugaan pelanggaran yang dilakukan Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Dinas Pendidikan Jawa Barat.

Mereka menduga ada sejumlah ASN yang menyosialisasikan pasangan nomer urut 3, Sudrajat - Ahmad Syaikhu.

Salah seorang perwakilan Kaukus, Agus Satria mengaku punya sejumlah bukti pelanggaran. Diantaranya, berupa foto yang menggambarkan ASN berposes mengacungkan tiga jari, lainnya menunjukan kalender bergambar paslon nomer tiga.

"Foto kebanyakan buktinya. Temuannya juga ada saksi-saksi dari kepala sekolah juga," ujarnya saat ditemui usai mendatangi kantor Bawaslu Jabar, Jalan Turangga, Kota Bandung, Senin (2/4).

Ia menjelaskan aduannya itu belum menjadivlaporkan secara resmi kepada Bawaslu. Pasalnya, selain mengadu ke Bawaslu, tujuan kedatangannya adalah berkonsultasi mengenai mekanisme pelaporan pelanggaran yang sesuai aturan.

"Tadi kami berkonsultasi. Laporan resminya akan dibuatkan dulu formatnya. Kami juga akan menyiapkan saksi-saksi," ucapnya. [gil]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini