Penjelasan BMKG Soal Perubahan Data Gempa yang Berubah

Jumat, 14 Mei 2021 18:58 Reporter : Muhammad Genantan Saputra
Penjelasan BMKG Soal Perubahan Data Gempa yang Berubah Kepala BMKG Dwikorita Karnawati. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Prof Dwikorita Karnawati menjelaskan terkait data magnitudo gempa yang kerap berubah saat pihaknya menyajikan data. Dia bilang, bahwa BMKG memprioritaskan terlebih dahulu adanya gempa baru disusul akurasi magnitudo.

"Tugas kita memberikan informasi sedini mungkin agar dapat segera dilakukan penyelamatan, jadi Jepang, Indonesia, India, Australia policy adalah kecepatan nomor satu, bukan akurasi," katanya dalam konferensi pers virtual, Jumat (14/5).

Menurutnya, BMKG berbeda dengan negara yang tidak memiliki kewajiban atau tanggung jawab memberikan informasi yang cepat. Misalnya seperti di Amerika dan Jerman.

"USGS (United States Geological Survey) itu mengeluarkan informasi pada menit ke 15, Jerman juga mengeluarkan informasi ke menit 20," katanya.

Negara itu, lanjut Dwikorita, berbeda dengan Indonesia dan Jepang yang dituntut memberikan informasi pada menit ke 3. Dia menjelaskan, di Jepang pada menit ke 3 jumlah data yang masuk baru sebagian. Karena pada umumnya seluruh data bisa masuk dan dihitung secara stabil pada menit ke 15 seperti yang dilakukan USGS ataupun Jerman.

"Namun karena untuk kepentingan keselamatan, harus dikeluarkan lebih dahulu sehingga policy kami yang penting ada skenario terburuk, sehingga kami keluarkan dulu pada menit ketiga," ucapnya.

"Stabil itu pada menit ke 15, jadi bukan di ralat, di update. Karena katakan pada menit ketiga katakan terkumpul 20an sensor pada menit ketiga, tapi kalau menunggu ke 15 ratusan sensor sudah masuk," jelasnya.

Menurutnya, kecepatan lebih penting. Kata dia, bila BMKG menunggu data stabil hingga menit ke 15 dikhawatirkan korban sudah terlalu banyak.

"Di USGS tidak memberikan peringatan dini tsunami, Jerman juga tidak memberikan peringatan dini tsunami, tapi Jepang, Indonesia, Australia dan India mereka harus memberikan peringatan dini tsunami," jelasnya.

"Kalau magnitudo dihitung stabil pada menit ke 15, tsunami bisa datang pada menit ke 2, jadi tidak ada gunanya istilah peringatan dini kalau menunggu stabil pada menit ke 15," tambah dia.

Dwikorita menambahkan, perbaruan data magnitudo gempa yang dilakukan BMKG biasanya lebih rendah. Sehingga, angkanya menurun, bukan justru makin tinggi.

"Meskipun di Jepang updatenya dari 7,1 di update 30 menit kemudian menjadi 9, itu terjadi di Jepang. Tapi kami berupaya update itu selalu selisihnya maksimum 0,7 atau paling buruk tidak lebih dari 1 dan harus lebih rendah, karena mengkhawatirkan kalau updatenya lompat seperti di Jepang dari 7 menjadi 9," tuturnya.

"Tetapi meskipun dari 7 ke 9, di Jepang meksi menit ke-3 sudah diumumkan, tsunami sudah diumumkan masyarakat ribuan orang sudah berhasil banyak diselamatkan daripada menunggu akurasi magnitudo 9 pada menit ke 30, tsunami pasti sudah terlambat, dia datang, sudah banyak korban jiwa," pungkasnya. [ray]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Gempa
  3. BMKG
  4. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini