Penipuan berkedok travel umrah bukti lemahnya pengawasan Kemenag

Rabu, 14 Februari 2018 05:32 Reporter : Henny Rachma Sari
Penipuan berkedok travel umrah bukti lemahnya pengawasan Kemenag Bos First Travel. ©2017 Merdeka.com/imam buhori

Merdeka.com - Kasus penipuan yang dilakoni PT First Anugerah Karya Wisata alias First Travel bak gunung es. Bagaimana tidak, usai praktik culas pihak pengelola First Travel terkuak, satu per satu penipuan dengan modus serupa ikut terbongkar.

Para jemaah yang sudah menyetorkan duitnya namun tak kunjung diberangkatkan mulai bersuara. PT Utsmaniyah Hannien Tour di Solo, Abu Tours di Sulawesi Selatan serta PT Solusi Balad Lumampah (SBL) yang bermukim di Bekasi melakukan praktik serupa First Travel.

Calon jemaah ditipu mentah-mentah oleh agen travel abal-abal tersebut. Kandas sudah impian menginjakkan kaki di Tanah Suci.

Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi menegaskan menjamurnya oknum culas yang meraup untung dari kantong jemaah merupakan bukti lemahnya pengawasan Kementerian Agama (Kemenag).

"Ini (pengawasan) yang tidak berfungsi dari Kementerian Agama (Kemenag)," ujar Tulus saat berbincang dengan merdeka.com, Selasa (13/2) malam.

Ia menegaskan, Kemenag tidak mengawasi sejumlah biro jasa haji dan umrah yang telah mereka berikan izin. "Jadi Kementerian Agama berikan izin, tapi pengawasannya apa, gimana. Biro jasanya bermasalah, tapi yang lebih bermasalah itu ya Kementerian Agama," keluhnya.

Kementerian Agama pun diminta YLKI segera membuat kebijakan yang lebih tegas untuk menghadapi kasus penipuan seperti ini. "Misal biro yang lagi bermasalah harus dilakukan moratorium. Jangan dulu diperbolehkan rekrut jemaah. Selesaikan dulu urusan mereka dengan jemaah yang sudah menyetorkan uang," pintanya.

Karena, lanjutnya, jika dilihat dari hukum perdata, jemaah yang sudah membayar bahkan hingga lunas harus segera diberangkatkan. "Jadi izin biro-nya dicabut, yang belum diberangkatkan ya diberangkatkan. Kementerian Agama harus bisa mendesak itu," tuturnya.

Tulus menambahkan, mayoritas pengelola biro umrah culas menggunakan duit jemaah untuk keperluan pribadi. Persis seperti kasus First Travel. "Ada yang buat beli SPBU," ucapnya.

Meski demikian, Tulus juga meminta agar para calon jemaah lebih teliti memilih biro perjalanan umrah dan haji. Jangan langsung tergiur dengan harga miring yang ditawarkan.

"Karena normalnya biaya umrah itu sekitar Rp 23 sampai Rp 25 juta," tuturnya.

Selain itu, calon jemaah juga diminta meneliti rekam jejak si biro perjalanan. "Cek perizinannya apakah biro umrah itu masuk asosiasi umrah atau tidak. Atau apakah banyak aduan-aduan dari konsumen lain," tutupnya. [rhm]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini