Pengakuan Aremania Soal Personel Brimob Tolak Menolong Suporter Wanita

Kamis, 6 Oktober 2022 07:53 Reporter : Bachtiarudin Alam
Pengakuan Aremania Soal Personel Brimob Tolak Menolong Suporter Wanita Suasana kericuhan di laga Arema FC vs Persebaya di Stadion Kanjuruhan. ©2022 AFP

Merdeka.com - Dunia sepak bola Indonesia tengah berduka atas insiden tragedi berdarah di Stadion Kanjuruhan, Malang. Kala dua rivalitas klub Jawa Timur bertanding antara Arema FC melawan Persebaya, Sabtu (1/10) lalu.

Tercatat 131 orang meninggal dunia akibat insiden kerusuhan. Duka Sabtu malam lalu itu masih dirasakan oleh U, inisial salah satu suporter yang menjadi saksi insiden itu.

"Hari kelima kita tetap sampai malam ini kita masih melakukan doa bersama, dalam artian kita melakukan tahlil di stadion Kanjuruhan sampai hari ketujuh," ucapnya seperti dikutip dari akun YouTube Yayasan LBH Indonesia, Rabu (5/10).

Dia yang kala itu berada di bagian tribun VIP menolak apabila kejadian yang memicu tewasnya ratusan nyawa suporter itu dianggap sebagai kerusuhan. Karena selama jalannya pertandingan seluruh pengamanan telah berjalan dengan baik.

Terlebih, sudah jauh hari kalau laga rivalitas dua klub Jawa Timur itu telah disepakati digelar tanpa dihadiri suporter Bonek Mania pendukung Persebaya. Alhasil di dalam stadion yang menampung kurang lebih 45.000 penonton hanya diisi Aremania.

"Pertandingan tanggal 1 kemarin antara Arema dengan Persebaya. Kita sudah sepakat kedua belah pihak tidak saling mendatangkan suporter. Itu dari pihak tamu tidak menghadirkan suporter dari Surabaya," sebutnya.

"Ini sebenarnya bukan kerusuhan, tapi ini adalah insiden. Insiden kelalaian kita semua. Terutama dari pihak Brimob, yang kita tahu Pihak brimob yang tidak bisa menahan diri sesuai yang kita omongankan beberapa waktu lalu," tambah dia.

Dia menganggap kesalahan fatal, ketika Brimob Polri sebagai pengamanan pertandingan nyatanya malah membawa senjata pelontar gas air mata. Padahal itu telah dilarang FIFA. Sebagaimana tertuang dalam pengamanan dan keamanan stadion (FIFA Stadium Safety and Security Regulations).

2 dari 6 halaman

Tetapi faktanya, saat suporter mulai meluapkan rasa emosionalnya ketika Arema ditekuk tumbang oleh Persebaya. Dipicu seorang suporter masuk ke lapangan yang seiring disambut
berbondong-bondong suporter lain tumpah ruah ke lapangan.

Namun hal itu malah disikapi pihak aparat kepolisian dengan tindakan represif aparat yakni menembakan gas air mata. Hal itu menjadi biang keladinya kekacauan di stadion Kanjuruhan malan itu.

"Tapi malah penembakan membabi buta. Kronologi yang saya tahu itu penembakan itu lapangan bola utara. Penembakan pertama, kedua ketiga gas air mata itu ke sentel ban (batasan tepi lapangan) jadi tidak masuk ke tribun penonton. Itu membuat buyar," ucapnya.

"Dan saya heran kenapa kok sudah ditembaki gas air mata suporter di tribun tidak pergi-pergi. Selanjutnya tembakan kedua itu meluas ke arah selatan. Karena apa, karena ada beberapa suporter dari gawang selatan itu turun mungkin maksudnya untuk membantu kawan-kawan yang ada di utara," tambah dia.

3 dari 6 halaman

Tidak berhenti menembaki gas air mata, sampai akhirnya sisi selatan stadion menjadi sasaran tembakan yang semakin lama mengarah ke tribun, tepat di bagian sisi utara gawang melewati pagar pembatas.

"Yang saya heran kenapa yang ditembak itu di Tribun Selatan, bukannya yang di sentel ban sebelah selatan itu yang saya sayangkan dari pihak mereka (Brimob). Mereka menembak ke dalam tribun duduk sebelah selatan," sebutnya.

"Yang saya heran kenapa penonton tidak langsung keluar. Saya tidak tahu kalau ada kabarnya apa, gate 14, gate 13, gate 12, gate 11, gate 10 kabarnya ada yang nutup saya tidak tahu waktu itu. Karena saya posisi di VIP," tambahnya.

Kericuhan semakin menjadi-menjadi, U yang duduk di kursi VIP bisa melihat jelas kepanikan suporter yang mencoba menyelamatkan diri dan rekan-rekannya dari pedihnya gas air mata. Sampai akhirnya banyak korban berjatuhan.

"Akhirnya banyaklah korban berjatuhan. Pertama yang saya lihat satu orang wanita digotong tiga orang pria. Tiga orang suporter menghampiri mobil yang ada di santel ban di depan bangku pemain itu dijaga Brimob kurang lebih empat orang," sebutnya.

Kesaksian ini, dilihat U dengan raut wajah panik ketiga suporter itu mengangkat suporter wanita yang telah pingsan agar mendapatkan pertolongan. Namun ketika menghampiri mobil yang dikiranya adalah ambulans, Brimob yang berjaga itu malah menolak mereka.

Ketiga pria itu malah diadang dengan arogan memakai tameng fiber Brimob, sebagai tanda penolakan. "Saya amati sangat jelas. Seolah-olah kamu tadi bentrok dengan saya, sekarang walaupun saudara kamu sedang pingsan kamu jangan minta tolong saya. Saya tahu sendiri ekspresi mereka mendorong jangan dekati mobil saya," ucapnya.

"Si Brimob itu bilang begitu, satu kali. Dua kali lagi dari selatan akhirnya yang pertama itu ditolak Brimob tidak tahu keluar dari mana akhirnya keluar. Itupun saya tidak tahu hasil akhirnya selamat atau tidak," ungkapnya.

Aksi arogan itu kembali terjadi, oleh Brimob yang kembali menolak suporter kedua yang datang membawa korban seorang wanita pingsan. Dengan tamengnya Brimob itu menolak dan mengusir mereka untuk menjauh dari mobil.

"Dikira mereka (suporter) adalah mobil ambulans, ditolak lagi dengan aparat yang tadi menolak permintaan si suporter itu orang yang sama," katanya.

4 dari 6 halaman

Sampai ketiga kalinya, saat suporter lain kembali datang meminta pertolongan namun penolakan terjadi lagi. Seorang suporter lantas melawan dengan menendang tameng fiber yang dipakai anggota Brimob itu.

"Dari percekcokan mulut itu mereka mengatakan kamu itu tidak punya hati walaupun ini tadi bentrok dengan kamu, kamu lihat yang saya bawa ini suporter wanita yang sedang sekarat," ucapnya memperagakan situasi saat itu.

Dari insiden itu anggota yang berjaga malah semakin arogan, alhasil dengan rasa cemas dan panik para suporter kembali mencari jalan selamatnya masing-masing. Lantaran, merasa tidak ada yang membantu mereka mencari jalan keluar.

U pun kembali melihat situasi yang semakin kacau, kala itu. Di saat banyak suporter yang terjebak dan hanya bisa mencari tempat aman di bagian-bagian kecil stadion. Tak ada pertolongan yang datang kepada para suporter.

"Lah mereka itu digotong tidak bisa apa-apa ternyata tidak ada pertolongan yang bisa diharapkan hanya kardus yang mereka itu buat kipas. Sementara, dari yang lainnya tidak ada bantuan sama sekali, itu mas yang saya lihat dan bisa saya ingat," tuturnya.

Polri Dalami Penggunaan Gas Air Mata

Untuk diketahui, sebanyak 18 anggota polisi diperiksa terkait penggunaan air mata di Stadion Kanjuruhan, Malang saat kericuhan terjadi usai pertandingan Arema melawan Persebaya. Penyidik mendalami bagaimana penggunaan gas air mata sebaiknya.

Termasuk untuk di Stadion Kanjuruhan, apakah sudah sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) atau tidak.

"Materi yang didalami tentunya eskalasi-eskalasi yang terjadi di lapangan dengan SOP yang ada tentunya didalami oleh tim," kata Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo kepada wartawan, di Malang, Jawa Timur, Senin (3/10).

Dedi menjelaskan, ada beberapa tahapan yang menjadi pertimbangan ketika akhirnya kepolisian harus menggunakan gas air mata. Salah satunya, mengacu pada eskalasi di lapangan mulai dari normal hingga emergency.

"Kapolri sudah mempersiapkan itu semuanya. Kontingensi plan sudah siapkan, emergency plan sudah disiapkan. Itu semua nanti akan diaudit dan akan diperiksa oleh tim," jelasnya.

5 dari 6 halaman

Terpisah, Inspektorat Khusus (Itsus) dan Div Propam Polri juga tengah memeriksa 18 anggota polisi yang bertugas saat tragedi berdarah kericuhan di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Minggu (2/10) kemarin malam.

"Memeriksa anggota yang terlibat langsung dalam pengamanan sudah dilakukan pemeriksaan terhadap 18 orang," kata Dedi.

Ke-18 anggota yang diperiksa adalah personel yang saat kerusuhan diduga memegang senjata gas air mata. Di mana hal itu menjadi salah satu faktor buntut tewasnya 125 orang dalam tragedi tersebut.

6 dari 6 halaman

Tanggapan Kapolda Jatim

Lebih lanjut, Kapolda Jawa Timur Irjen Nico Afinta, mengungkap alasan menembakkan gas air mata kepada suporter Arema FC saat kerusuhan terjadi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur. Menurutnya, tindakan tersebut untuk menghalau suporter yang merangsek turun ke lapangan.

"Seandainya suporter mematuhi aturan, peristiwa ini tidak akan terjadi. Semoga tidak terjadi lagi peristiwa seperti ini," ucapnya dalam konferensi pers di Mapolres Malang, Minggu (2/10).

Nico mengklaim, penembakan gas air mata kepada suporter Arema FC sudah sesuai prosedur. Namun, tindakan ini membuat banyak suporter mengalami sesak napas.

"Para suporter berlarian ke salah satu titik di Pintu 12 Stadion Kanjuruhan. Saat terjadi penumpukan itulah, banyak yang mengalami sesak napas," jelasnya.

[cob]

Baca juga:
Tragedi Kanjuruhan Disorot Dunia, Haedar Nashir Minta Hasil Investigasi Transparan
Hasil Investigasi Komnas HAM atas Tragedi Kanjuruhan
Kerusuhan Kanjuruhan: Manajemen Persebaya Bakal Berkomunikasi dengan Arema demi Perdamaian Bonek dan Aremania
Damai Elemen Suporter di Bumi Mataram, Mengirim Doa dari Mandala Krida untuk Tragedi Kanjuruhan

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini