Peneliti Iklim: Risiko Kematian Akibat Covid-19 Lebih Besar di Wilayah Polusi Tinggi

Kamis, 30 April 2020 16:31 Reporter : Yunita Amalia
Peneliti Iklim: Risiko Kematian Akibat Covid-19 Lebih Besar di Wilayah Polusi Tinggi Covid-19. ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Peneliti iklim dari Universitas Indonesia, Profesor Budi Haryanto mengatakan risiko kematian tinggi di tengah pandemi Covid-19 ada di wilayah tingkat polutan partikulat 2,5 (PM 2,5). Data ini ia kutip dari hasil sebuah peneliti dari Universitas Harvard pada April 2020.

Dalam satu diskusi, Budi mengatakan dari data hasil penelitian tersebut persentase kematian dengan tingkat polusi di atas PM 2,5 cukup besar yakni 15 persen.

"Risiko kematian Covid-19 4,5 kali lebih besar di wilayah PM 2,5. Jadi setiap peningkatan polusi itu potensi kematiannya 15 persen," papar Budi, Kamis (30/4).

Dia mengakui selama penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) visual langit Jakarta terlihat membaik, namun hal itu tidak bisa dijadikan acuan kualitas udara Jakarta.

Untuk memastikan sumber polusi, Budi mengatakan harus ada penelitian lebih lanjut. Sebab polusi tidak hanya bersumber dari emisi bahan bakar kendaraan namun juga bisa bersumber dari emisi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

Lebih lanjut, Budi menuturkan hasil penelitian tersebut sedianya bisa dijadikan referensi bagi Jakarta untuk terus meningkatkan kualitas udara Jakarta, yang merupakan zona merah Covid-19.

"Ini penelitian di kota-kota di Amerika, tapi kenapa kita gunakan penelitian yang sudah ada," tuturnya.

Secara terpisah, Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI), Prof Haryoto Kusnoputranto melihat cuaca udara di Jakarta selama diberlakukannya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sudah cukup membaik. Indikator awam adalah langit yang kelihatan lebih biru.

Haryoto menekankan sama dengan Suradi, penyumbang polusi udara di Jakarta paling besar oleh kendaraan bermotor. Ada sekitar 65 persen sampai 70 persen polusi disebabkan kendaraan bermotor. Dia menepis, kalau pembangkit tenaga uap listrik (PLTU) dijadikan sebagai faktor penyumbang polusi udara di Jakarta.

Menurut dia, PLTU tidak menyumbang polutan di ibu kota. Karena, ada dua yang menjadi sumber cuaca udara di Jakarta buruk.

"Pertama sumber bergerak dan sumber tidak bergerak. Sumber bergerak itu kendaraan bermotor, menyumbang sekitar 65-70 persen. Tidak bergerak itu ada industri dan sebagainya. Sumbernya hanya itu. Jadi kalau kendaraan bermotor tidak ada, saya yakin udara bersih dan sehat," tegasnya.

Sedang untuk mengukur kualitas udara, ada istilah Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU). Indikatornya adalah lima polutan utama. Dia menegaskan, perhitungan tidak lah bisa dilakukan sembarangan.

"ISPU itu kita bisa mengukur apakah kondisi udara saat ini sehat (baik), sedang, tidak sehat, sangat tidak sehat dan berbahaya. Ada 5 polutan yang bisa dipegang jadi parameter, yaitu partikel debu (PM10), karbon monoksida (CO), sulfur dioksida (SO2), nitrogen dioksida (NO2) dan Ozon Permukaan (O3)," katanya. [ded]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini