Pencopotan Komjen Budi Waseso menyisakan banyak cerita

Selasa, 8 September 2015 10:48 Reporter : Iqbal Fadil
Pencopotan Komjen Budi Waseso menyisakan banyak cerita Sertijab BNN. ©2015 Merdeka.com/imam buhori

Merdeka.com - Komjen Budi Waseso resmi dicopot dari jabatannya sebagai Kepala badan Reserse Kriminal Polri. Dia bertukar jabatan dengan Komjen Anang Iskandar sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional.

Hanya sembilan bulan, mantan Kapolda Gorontalo itu menjabat sebagai orang nomor 3 di Mabes Polri. Namun sepak terjangnya bagi sebagian kalangan telah membuat gaduh. Apalagi kalau bukan aksinya menangkap Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto dan kemudian menjadikan tersangka Ketua KPK Abraham Samad dalam kasus pemalsuan dokumen. Sejak itulah dia mendapat panggilan 'Buwas' yang merupakan singkat dari namanya.

Bareskrim di bawah kepemimpinannya seperti menjadi monster yang menakutkan apalagi kemudian dia juga menjadikan mantan Wamenkum HAM Denny Indrayana sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi payment gateway. Bareskrim juga mengusut kasus pencemaran nama baik hakim Sarpin Rizaldi yang mengakibatkan Ketua KY Suparman Marzuki dan Komisioner KY Taufiqurraham Syahuri menjadi tersangka.

Satu lagi, kasus yang memicu kontroversi adalah pencemaran nama baik yang dilaporkan pakar hukum pidana Romli Atmasasmita yang membuat dua aktivis ICW Emerson Yuntho dan Adnan Topan Husodo menjadi saksi. Budi Waseso seolah menjadi musuh bagi para aktivis antikorupsi.

Namun, bukan kasus-kasus itu yang membuat Budi Waseso akhirnya dicopot. Kasus terakhir yang diusut Bareskrim yakni pengadaan 10 crane di PT Pelindo II diduga menjadi penyebabnya. Dirut PT Pelindo Richard Joost Lino tidak terima kantornya digeledah penyidik Bareskrim yang dikawal polisi bersenjata lengkap.

Lino menelepon Menteri PPN/Kepala Bappenas Sofyan Djalil terkait penggeledahan itu dan mengancam mundur dari Pelindo. Wapres Jusuf Kalla yang sedang berada di Seoul, Korea Selatan, sampai menelepon Budi Waseso dan meminta penjelasan kasus itu.

Namun Budi Waseso bergeming. Menurut dia, kasus pengadaan 10 crane hanya menjadi pintu masuk bagi kasus korupsi yang lebih besar dengan nilai mencapai 180 triliun. Dia menegaskan, apa yang dilakukan penyidik murni penegakan hu [bal] SELANJUTNYA

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini