Penanganan Kasus Covid-19 pada Sejumlah Pesantren di Jateng Dinilai Masih Sulit

Jumat, 23 Oktober 2020 18:33 Reporter : Danny Adriadhi Utama
Penanganan Kasus Covid-19 pada Sejumlah Pesantren di Jateng Dinilai Masih Sulit Ilustrasi corona. ©2020 Merdeka.com/shutterstock

Merdeka.com - Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Tengah menyebut tim Satgas Covid-19 masih menemui banyak kendala dalam penanganan Covid-19 di lingkungan pondok pesantren. Sebab banyak pesantren cenderung tertutup bila ditemukan kasus positif Covid-19. Sekretaris Pengurus Wilayah Rabithah Ma'adhid Islamiyah NU (RMINU) Jateng KH Abu Choir menuturkan kasus corona di pesantren seperti fenomena gunung es.

"Berbicara tentang Covid-19 di lingkungan pondok pesantren, khususnya di Jateng itu bak fenomena gunung es. Bukan hanya soal jumlahnya, tapi juga persoalan internal. Maka pesantren cenderung tertutup karena masih adanya stigma negatif kalau Covid-19 itu sebagai aib. Selain itu, ada ketakutan pesantren harus tutup jika ada kasus positif Covid-19," kata Abu Choir dalam acara webinar bertajuk Santri Sehat Indonesia Kuat 'Jogo Santri di Masa Pandemi Covid-19', Jumat (23/10).

Dia menyebut dengan kondisi itu membuat kasus Covid-19 di pesantren menjadi sulit tertangani. "Petugas Satgas Covid-19 mengalami kesulitan saat akan melakukan penanganan baik tracking maupun testing," jelasnya.

Berdasarkan data RMINU Jateng, hingga saat ini sudah ada 12 pondok pesantren di enam kabupaten di Jateng yang terpapar Covid-19. Keenam kabupaten itu Pati, Wonogiri, Kebumen, Cilacap, Banyumas dan Kendal.

Dengan ditemukannya klaster penularan Covid-19, diharapkan para pengasuh pesantren lebih terbuka dan berkoordinasi dengan pemangku wilayah dalam melakukan penanganan. Terlebih saat ini, klaster pondok pesantren penyumbang terbanyak dalam klaster Covid-19 di Jateng.

Pemerintah juga diminta tidak terburu-buru melakukan tes swab di pesantren tanpa persiapan terlebih dahulu, termasuk sarana dan prasarana pendukung.

"Sebab jika ada yang positif terpapar jumlahnya ribuan bagaimana? Juga nutrisinya, siapa yang menanggung makan? Jika sebuah pesantren diumumkan ada yang positif terpapar Covid, maka masyarakat akan menjauhi pesantren. Jadi, dalam hal ini bukan sekadar soal positif dan negatif soal Covid," terangnya.

Dia menyebut pondok pesantren memiliki peran besar dalam menekan penyebaran Covid-19 di Jateng. Maka dari itu untuk menangani kasus Covid-19 di pesantren, pendekatannya memang harus berbeda dengan masyarakat umum.

"Kami hanya membutuhkan stimulasi. Ponpes merupakan lembaga pendidikan yang mandiri yang berbeda dengan lembaga pendidikan umum lainnya," bebernya.

Kepala Kantor UNICEF Perwakilan Jawa Tengah, Arie Rukmantara menuturkan Program Jogo Santri bisa jadi acuan dalam memutus mata-rantai Covid-19. secara data kuantitatif, anak-anak yang terpapar Covid memang tidak besar.

"Dengan demikian, memang harus ada perubahan melaksanakan pendidikan. Santri dapat mengubah cara belajarnya. Ponpes mampu mencari cara terbaik sistem pembelajaran di masa pandemi. Sebab pandemi tidak berakhir dalam waktu yang cepat," ungkap Arie.

Sementara itu, Staf Ahli Satgas Covid-19 Jateng, Budi Laksono, mengatakan saat ini ada delapan klaster Covid-19 yang ditemukan di Jateng. Kedelapan klaster Covid-19 itu yakni Ponpes, sekolah, ASN, tenaga kesehatan, tempat kerja, pasar, rumah tangga, dan lain-lain.

"Ada 8 klaster itu memang ponpes menjadi yang terbanyak. Ada 854 orang yang dinyatakan positif Covid-19 dari klaster ponpes berdasarkan data sampai dengan 15 Oktober 2020,” kata Budi Leksono.

Dalam penanganan covid-19 di lingkungan pesantren, ia meminta lebih terbuka. Maka, Satgas juga berharap pada semua orang komunitas, termasuk pesantren supaya mulai menjadi duta melawan Covid-19 dengan mempromosikan sikap sehat seperti mencuci tangan, menggunakan masker dan menjaga jarak.

"Memang ini perilaku baru tapi bukan berarti mengubah budaya kita, terutama untuk hormat pada kiai. Saya rasa kalau tidak cium tangan dengan kiai, pahala kita tidak akan berkurang kok," ungkap Budi Leksono. [cob]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini